Rabu, 20 Maret 2019

Adikku Pergi

Sheila, bocah perempuan kecil dengan rambut ikal tertawa-tawa melihat kucing kecil berebut mainan dari gumpalan kertas yang ditarik dengan benang oleh Ibrahim.

Tangan Ibrahim lihai sekali memainkan benang, sehingga gumpalan kertas itu melompat ke sana kemari. Anak kucing pun ikut berjingkat-jingkat, makin penasaran hendak menangkap gumpalan kertas itu.

“Haha.. ayo kucing manis, tangkap mainanmu.. Eiits.. ga kena.. ha ha,” seru Ibrahim.

“ Ucing  anis.. haha.. Ucing anis.. haha” seru Sheila, bocah usia tiga tahun itu menirukan ucapan Ibrahim.

Setelah seminggu berada di Panti Asuhan Pelita Harapan, Ibrahim, bocah laki-laki kelas 4 Sekolah Dasar itu, kian akrab bermain dengan Sheila.

Ibrahim adalah bungsu dari tiga bersaudara. Dia memiliki seorang kakak pertama perempuan bernama Anna dan kakak kedua laki-laki bernama Luqman.

Mereka adalah anak nelayan yang terpaksa tinggal di panti asuhan, setelah ayahnya meninggal dunia karena diterjang badai di lautan.

Sementara Mak Timah, ibunda mereka kerap sakit-sakitan akibat bekerja terlalu keras setelah kepergian suaminya.

Semula Ibrahim sedikit canggung ketika pertama kali datang di panti. Tetapi Anna, kakak tertuanya selalu memberi semangat.

“Adikku, kita masih beruntung memiliki ibu dan ayah. Lihatlah adik kecil yang bermain dengan ibu panti itu. Dia tidak mengenal ibu dan bapaknya sejak lahir,” tutur Anna ketika duduk berdua di ujung teras panti asuhan.

“Dia, benarkah ?”

“Iya, benar. Namanya Sheila,”

Mata Ibrahim mengamati bocah kecil yang dimaksud kakaknya dari kejauhan. Rasa iba dan belas kasihan pun muncul. Melupakan kesedihan yang dimiliknya.

Sejak saat itu Ibrahim ikut membantu Anna menjaga Sheila, di kala ibu panti sedang sibuk.

Mereka bertiga, kerap terlihat asik bermain dan tak butuh waktu lama untuk akrab. Sheila memang lucu dan menggemaskan. Bahkan, kini Ibrahim sudah mampu untuk menjaga Sheila seorang diri.

Kesukaan Ibrahim adalah menghibur Sheila dengan menggoda anak kucing memakai gumpalan kertas yang ditarik benang, seperti saat ini.

Ibrahim makin girang melihat tingkah lucu anak kucing yang tidak henti-hentinya mengejar gumpalan kertas.

Tapi tawa Ibrahim memelan, saat melihat seorang wanita mendekat ke arah mereka. Di belakangnya diikuti oleh seorang laki-laki. Ibrahim menduga mereka adalah pasangan suami istri.

“Assalamu’alaikum anak manis,” sapa wanita itu.

Serta merta, Ibrahim pun bersalaman dan mencium tangan dua orang tamu itu, sebagai tanda hormat.

“Wa’alaikum salam..,” sahut Ibrahim.

“Ini yang namanya, Sheila ? Aduuh.. cantik sekali, lucu..” ujar wanita itu.

Firasat Ibrahim pun benar, sepasang suami istri itu sengaja datang untuk mengadopsi Sheila.

Keesokannya Ibrahim melihat sepasangan suami istri itu datang lagi dan menggendong Sheila menuju mobil mereka.

Sheila diam saja karena mengira mereka lah ayah dan ibunya yang datang untuk menjemput. Karena selama ini, Sheila selalu diberitahu bila ayah dan ibunya sedang pergi jauh.

Sementara Ibrahim hanya berani mengintip kepergian Sheila dari balik pintu jendela. Hatinya sedih berpisah dengan Sheila. Air matanya menetes jatuh.

Setelah kepergian Sheila, Ibrahim sering tampak murung.  Hampir seharian Ibrahim tidak mau makan. Sepulang sekolah dia hanya memainkan gumpalan kertas bersama anak kucing sendirian.

Anna sangat prihatin dengan keadaan adik kesayangannya.

“Kakak tahu, kamu sangat sedih dengan kepergian Sheila,” ujar Anna lembut.

Ibrahim terdiam sambil memainkan gumpalan kertas yang ditarik benang.

“Kakak pun sedih, ibu panti juga sedih. Semua keluarga di panti ini sedih berpisah dengan Sheila,” kata Anna lagi.

“Aku ingin Sheila kembali.. hu hu,” Ibrahim tak kuasa menahan tangis.

Anna pun memeluk adiknya seraya berkata, “Adikku,, ini lah jalan terbaik buat Sheila. Kita mesti bersyukur pada Allah. Karena adik kita Sheila telah menemukan ayah dan ibu yang akan menyayangi dan menjaganya dengan sepenuh hati.” 

“Ikhlaskan lah.. hentikan rasa sedihmu dan panjatkan do’a, agar Sheila selalu bahagia,” tutur Anna.

Tangis Ibrahim berhenti. Dalam hati, dia berjanji mengikhlaskan Sheila yang lucu untuk mendapatkan keluarga baru demi masa depan lebih baik.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar