![]() |
| Dok. Istimewa |
Keluarga Gajah hidup damai di hutan belantara. Mini anak gajah kecil gemar bermain di sekitar hutan bersama anak-anak gajah yang lain. Mereka riang gembira menikmati daun-daun pepohonan yang hijau.
Hutan yang
luas dan damai adalah tempat yang menyenangkan. Di tepi hutan ada sungai yang
airnya mengalir jernih. Di sungai ini lah seluruh warga hutan berkunjung untuk
minum saat kehausan.
Tetapi
sungai di tepi hutan itu sangat dalam dan lebar. Tentu sangat menyeramkan bagi
keluarga gajah yang tidak berhati-hati. Bila lengah mereka bisa mati terhanyut
dibawa arus sungai.
Apalagi di
dalam sungai juga tinggal Tobi, buaya yang kejam dan rakus. Tobi tidak hanya
makan ikan tetapi juga memangsa binatang yang sedang minum air di sungai.
“Mini, berhati-hati
lah bila pergi minum ke sungai,”begitu selalu pesan Ibu Gajah setiap Mini dan
kawan-kawan hendak pergi.
Mini memang
selalu ingat pesan Ibu Gajah. Sehingga dia selalu waspada sebelum mencelupkan
belalai ke dalam sungai untuk minum.
Pada suatu
siang Mini dan kawan-kawannya sedang asyik bermain di hutan. Seharian mereka
sibuk berkejar-kejaran dan bercanda di bawah terik matahari, sampai kelelahan.
“Stop-stop..
lapar niy,” teriak teman-teman Mini. Mereka pun langsung menyantap rumput segar
di sekitar pepohonan. Tak lama anak-anak gajah ini merasa kenyang, tetapi
kehausan.
“Kita ke
sungai yuuk,”ajak Mini.
Sekelompok anak
gajah pun langsung berlari-lari ke arah sungai mengikuti ajakan Mini. Mereka
tak sabar untuk melepas dahaga.
“Tunggu
dulu..!! ”kata Mini. Setelah mengamat-amati sekitar tepi sungai dan memastikan
tidak ada buaya, baru lah Mini memberi aba-aba kepada teman-temannya untuk
minum.
Satu per
satu teman-teman Mini mencelupkan belalai ke sungai untuk minum. Mereka
menikmati air sungai yang jernih dan sejuk. Terkadang mereka saling becanda
dengan menyemburkan air dari belalainya.
“Mini,
lihat.. aku bisa menyembur lebih jauh,”pamer Lala, anak gajah yang imut.
“Ah, kamu
anak kecil semburannya segitu saja. Ini.. lihat kemampuanku,” seru Mega, anak
gajah yang paling besar seolah tak mau kalah.
“Iya..
hebat-hebat..!!” seru anak-anak gajah yang lain.
Kegaduhan di
tepi sungai tersebut rupanya membuat Tobi, buaya sombong bangun dari tidurnya.
“Huaaemm.. suara anak-anak gajah. Itu pasti santapan yang lezat,”pikir Tobi.
Perlahan-lahan
Tobi berenang menuju asal suara, sembari berharap agar anak-anak gajah itu
tidak ditemani induknya.
“Asyiik..!! Mereka cuma anak-anak gajah! Pasti mudah
sekali kulumpuhkan,”kata Tobi dengan sombong ketika mengintai dari kejauhan.
Tobi makin
kegirangan ketika mendekati segerombolan anak-anak gajah. Perut Tobi terasa
makin keroncongan melihat anak gajah yang gemuk-gemuk. Mata Tobi mengintai dari
bawah air dengan waspada. Tobi menunggu anak gajah lengah dan memasukkan
belalainya agak ke tengah sungai.
Sementara
anak-anak gajah tidak sadar ada bahaya mengintai. Mereka terus saja bergurau
hingga memasuki sungai.
“Lihat.. aku
berani berada di dalam air,” seru Mega sambil berdiri di tepi sungai dengan
kaki mulai terendam air.
“Ayo.. Siapa
yang berani lagi ?!” tantang Mega.
Melihat ulah
Mega, Tobi makin kegirangan.
“Ayo, anak-anak manis masuk ke dalam lagi,” seru
Tobi dalam hati. Tobi mulai mengendap dan pasang aksi untuk menerkam ketika
Mega mencelupkan belalai ke dalam air.
Sayang, ketika asyik mengintai lewat lah ikan
besar di depan Tobi. Dengan sigap Tobi langsung melahap ikan malang itu.
Pergulatan Tobi untuk menaklukkan ikan, membuat air berkecipak kencang.
Terpaksa Tobi keluar dari persembunyiannya.
Buaya kelaparan itu bergelut melumpuhkan ikan.
“Grubyuk.. grubyuk..!!”
Dan
anak-anak gajah itu baru sadar bila nyawa mereka terancam.
“Aiiss !! Ada buaya.
Lari...,” teriak Mini dan teman-temannya sambil lari terbirit-birit keluar dari
sungai.
Kejadian menyeramkan siang itu membuat Mini tak
berani lagi pergi ke sungai. “Aku masih takut..”, keluh Mini ketika diajak
kakak-kakaknya pergi ke sungai.
Suatu hari
akhirnya Mini mulai memberanikan diri pergi ke sungai untuk minum. Kali ini
Mini ditemani Ibu Gajah dan dua ekor kakaknya. Ketika sedang asyik menikmati
air sungai, muncul lah Tobi, buaya yang sombong dan rakus.
“Hei, Tobi !
Jangan kau ganggu anak-anakku. Pergi kau dari sini ! Dan biarkan anak-anakku
minum air sungai,” seru Ibu Gajah.
“O ho.ho.ho.
Ibu Gajah, sungai ini wilayah kekuasaanku dan anak-anakmu adalah makanan
lezatku,”ledek Tobi dengan sombong.
“Sombong
sekali kamu, Tobi. Kami seluruh penduduk hutan juga berhak meminum air sungai
dengan aman,”
“Ha.ha.ha.Anak-anakmu
akan aman kalau kau bisa mengalahkanku Ibu Gajah. Tapi mana mungkin.ha.ha”
“Pergi dari
sini Tobi!!”
“Aku akan
pergi setelah kau kalahkan aku. Ha.ha.ha”
Semula Tobi
dan Ibu Gajah hanya perang mulut. Tapi akhirnya keduanya benar-benar berkelahi.
Anak-anak gajah menjerit ketakutan ketika Tobi menggigit belalai Ibu Gajah
hingga luka. Ibu Gajah berusaha keras agar belalainya terlepas dari mulut Tobi.
Tetapi Tobi malah berusaha semakin menggigit belalai Ibu Gajah.
Ibu Gajah
tidak kehabisan akal. Dengan belalainya dia menyeret Tobi hingga ke daratan.
Sementara anak-anak gajah berteriak memanggil teman-teman gajah. Mereka pun
berdatangan memberikan pertolongan.
Gajah-gajah
membantu Ibu Gajah dengan menginjak-injak tubuh Tobi beramai-ramai. Akhirnya
Tobi mati lemas karena diinjak-injak gajah yang besar.
Seluruh
gajah pun mengucapkan terima kasih kepada Ibu Gajah yang telah memusnahkan
Tobi, buaya yang sombong.
Meski
belalainya terluka parah, tetapi Ibu Gajah bahagia karena tak ada lagi bahaya
yang mengancam anak-anak gajah saat minum di sungai.

