“Kak Mery, tadi ada yang cari,” ujar Kiki, adik kost yang kamarnya bersebelahan denganku.
“Siapa ?” aku mendelik penuh tanya.
“Dia tidak menyebut nama. Orangnya tinggi, besar, kulitnya gelap, hihi,” sahut Kiki lagi.
“Siapa yaa..?” aku mencoba membayangkan temanku satu per satu. Tetapi tidak satu pun kutemukan ada ciri-ciri yang mirip. Aku mengernyitkan dahi kebingungan.
“Hayoo lo siapa Kak? Hihi,” Kiki ngeloyor pergi ke kamarnya.
Tinggalah aku sendiri sedikit kebingunan menerka, siapakah sesosok lelaki yang mencariku tadi siang.
“Sayang, dia tidak menyebutkan nama. Ya sudah lah. Kalau memang ada hal penting, pasti dia akan meninggalkan pesan,”pikirku.
Dan aku menyimpulkan, lelaki yang mencariku itu tidak memiliki kepentingan yang mendesak. Sehingga dia tidak perlu meninggalkan pesan, atau pun bakal mengunjungiku lagi.
Artinya aku tidak perlu membuang energi memikirkannya. Titik. Aku pun kembali beraktivitas seperti biasa. Menghadapi komputer, mengerjakan skripsi dan tenggelam dengan berbagai literatur.
Kalender yang tergantung di kamar kulingkari. Tepat tiga bulan lagi jadwal wisuda. Aku bertekad bisa segera menyelesaikan skripsi dan mendaftar wisuda tepat waktu.
Yeach, aku akan wisuda tiga bulan lagi. Semangat!!
Aku menarik nafas dan kembali menekuni hasil penelitianku dari Pabrik Gula. Sedikit rumit, tapi kucoba selesaikan satu per satu. Dan aku tersenyum saat memandang kalender. Berharap semua bisa berjalan tepat waktu.
**
Jam dinding menunjukkan pukul tujuh malam. Aku kembali terpekur seperti biasa di kamar kost. Mengerjakan revisi konsultasi skripsi dari dosen tadi siang. Hemm, alhamdulillah. Revisian itu nampaknya tidak terlalu sulit, bagiku.
Di kala aku sedang asik membaca literatur, Kiki masuk ke kamarku sambil nyegir.
“Kenapa kamu ?” aku tidak mengerti maksud bahasa tubuhnya.
“Orang yang kemarin datang lagi mencari, Kak Mery. Tinggi, besar, hitam, Kak. Ihhhh,”
“Ah, apaan sih. Lebay.. haha. Oke lah aku temui,” sahutku cuek. Padahal dalam hati, penasaran juga. Siapakah sosok yang baru saja ditemui Kiki.
“Hai..,” sapaku mencoba ramah, sembari menerka siapakah seorang pemuda yang sedang duduk di sofa ruang tamu kostanku.
Sialnya, aku tak ingat apa pun tentang wajah yang satu ini.
“Hai juga Mery.. tampaknya kau tak ingat lagi denganku Mer ?” jawabnya sembari tersenyum.
“Siapa yaa.. maaf aku pelupa,” jawabku tak enak hati.
“Ya ampun Mery.. aku Fero, anak fakultas peternakan. Anak pers kampus. Kamu kan sering main ke sekertariatku,” jawabnya mencoba mengingatkan.
“He he he maaf yaa.. kebanyakan main ke berbagai fakultas, sampai lupa detail setiap orangnya,”
Setahun lalu, ketika aku masih semester empat, aku memang sering berkeliling bersama rekan-rekanku ke berbagai fakultas yang memiliki lembaga pers. Aku giat sekali mengikuti diskusi untuk bertukar pikiran dengan mahasiswa lain.
Aku tidak peduli, bila kebanyakan temanku adalah lelaki yang doyan berdebat berbagai masalah fenomenal di negeri ini. Kami saling menganalisa kondisi sosial, lalu menyimpulkan dan menggali ide sebagai materi tulisan di media masing-masing fakultas.
Bila menyebut pers di fakultas peternakan, pasti Rey, Uki, Anto atau Deri yang langsung ada di ingatanku. Karena mereka ini lah yang aktif berdiskusi denganku kala aku bertandang ke sekertariat mereka.
Sementara, sosok pemuda yang mengenalkan diri dengan nama Fero ini tidak sedikit pun membekas dalam ingatanku.
“Aku sering melihat kamu datang Mer,” kata Fero saat melihatku masih kebingungan.
“Oh, iya.. iya.. aku ingat,” aku berbohong. Aku kasihan melihat kenyataan bila dia sering melihatku, sementara aku sendiri tak pernah mengenalnya.
Malam itu sekitar tiga puluh menit, kami berbincang soal masa kejayaan kami mondar-mandir di kampus. Waktu itu aku merasa sebagai mahasiswa yang seolah menguasai suasana kampus.haha.
Wajar saja, kala itu aku sudah memiliki banyak teman yang akrab. Sedangkan beban kuliah tidak terlalu berat. Masih ada waktu untuk sekedar mengulang mata kuliah. Tidak seperti sekarang, dimana aku dikejar tenggat waktu kelulusan.
Dari perbincangan itu kutangkap makna, bahwa Fero selama ini memang tidak aktif berdiskusi. Tetapi dia selalu sibuk mengerjakan tugas, saat aku dan teman-teman menggelar diskusi di sekertariat peternakan.
Fero sempat bercerita bila kini dia telah diterima bekerja di sebuah peternakan di kabupaten Malang. Tempat kost Fero masih sama, seperti waktu kuliah karena posisi kantornya masih dekat kampus Brawijaya.
Sebelum beranjak tidur, aku terus mencoba membuka serpihan ingatan waktu itu. Hemm, nampaknya kami memang pernah saling berkenalan. Fero. Ya, aku pernah sekali berjabat tangan dengannya ketika berkunjung ke fakultas peternakan.
Sekali berkenalan, tidak pernah saling bicara tapi mengapa sekarang dia mengunjungiku? Heh.. aku tertawa sendiri.
Apakah dia sedang mencari kekasih ? Dan aku adalah salah satu pilihan dia? Mengapa ? Entahlah, aku pun akhirnya terlelap dalam sebuah tanda tanya.
**
Kehadiran Fero, bagiku layaknya kehadiran teman lama biasa. Pelipur lara diantara penatnya mengerjakan skripsi.
Aku selalu menyambut dengan hangat bila Fero mendatangi kostku setiap malam minggu. Kami berjalan dan menikmati malam di kafe mahasiswa dekat kampus.
Kafe temaram yang biasanya digunakan para mahasiswa untuk memadu kasih. Menikmati semangkok es dan aneka cemilan sembari berbagi cerita merajut angan di masa depan.
Hampir di setiap sudut kulihat sepasangan muda-mudi berbagi kasih. Alunan musik dan pencahayaan yang redup membuat orang yang dimabuk cinta itu nyaman berlama-lama berdua di meja masing-masing.
“Tapi aku dan Fero duduk di sini, bukan lah sepasangan kekasih,” desahku dalam hati.
Lalu kulihat Fero yang duduk tepat berhadapan denganku. Kulihat gaya bicaranya yang berusaha mengenalkan diri lebih dekat padaku.
Aku berusaha menuruti saja, apa yang Fero inginkan, sepanjang masih dalam norma-norma pergaulan yang sopan. Dia ingin ditemani makan malam, aku bersedia. Dia bicara soal kerjaan, aku coba memahaminya. Dia mengajakku berkunjung ke teman-temannya, aku tak keberatan.
Aku melihat binar senyum di wajah Fero, sewaktu teman-temannya menyangka kami sudah menjadi sepasang kekasih.
Sementara aku tersenyum biasa saja, bila disangka demikian. Aku tidak menyangkal terus terang di hadapan mereka, karena aku takut Fero terluka. Biar saja orang menyangka apa pun. Karena bagiku sangkaan itu tidaklah penting. Hanya sekedar sendau gurau belaka.
Suatu ketika kami berdua menyeberang jalan raya selepas mengunjungi seorang teman Fero. Aku berpegangan ujung jaketnya yang lebar saat melintas jalanan.
“Mery, kalau menyebrang kayak itu dong,” ujar Fero padaku setelah kami berada di pinggir. Fero menunjuk sepasang kekasih bergandengan ketika berjalan.
Aku tidak mengabulkan permintaan Fero dan berdalih semua orang memiliki gaya sendiri saat berjalan. Tidak perlu mencontoh orang lain.
Aku berkata demikian, karena aku merasa sangat aneh bila harus bergandengan tangan dengan Fero. Karena sebetulnya aku belum bisa membuka hati buat Fero.
Sementara Fero seolah pantang menyerah untuk meraih hatiku. Karena itu dia terus mendatangiku setiap malam minggu. Dan aku pun tidak enak bila harus menolak kehadirannya. Selama aku memang ada di kostan, kedatangan Fero selalu kusambut hangat.
Malam ini Fero mengajakku menikmati malam minggu di tepi jalanan di atas sebuah jembatan dengan trotoar yang cukup lebar. Dulu sewaktu masih semester awal, aku bersama teman-temanku memang sering duduk-duduk di tempat ini.
Jembatan ini melintang di atas sungai yang besar dengan tebing-tebing ditumbuhi pohon-pohon menghijau. Di bawahnya anak sungai dengan aliran air yang deras meliuk-liuk, menebas batu-batuan penghalang.
Di malam hari pemandangan hijau ranum itu tak kelihatan. Hanya gelap dan ditingkahi suara aliran air yang bergemuruh beradu dengan bisingnya suara lalu-lalang mobil yang melintasi jalanan.
“Mer, lihat lah ke atas.. bintang-bintang itu sangat indah kan?” Fero membuka suara.
“Iya, indah sekali. Aku suka duduk-duduk di sini. Dulu kan anak-anak juga suka nongkrong dan ngopi di sini,” sahutku.
“Mer, kalau lihat bintang itu. Aku ingin seperti ini ?” ujar Fero sembari menunjukan sebuah gambar animasi di ponselnya.
Kuamati, anamasi grafis itu menggambarkan dua orang anak sedang berciuman di bawah sinar bintang.
Aku tersenyum,”Mengapa harus seperti itu bila melihat bintang?”
Fero pun tersenyum. “Yah, cuma pingin saja,” jawabnya lagi.
“Pakailah ini, kamu pasti kedinginan,” kata Fero sembari melepas jaket dan hendak memakaikannya untukku.
“Hemm.. aku suka begini, tanpa jaket. Aku sudah tiga tahun di Malang. Dan aku suka udaranya,”
“Pakailah, nanti kamu masuk angin,”
Aku menggeleng melakukan penolakan. Entahlah, aku enggan memakai jaket Fero. Lagi pula biasanya, aku memang pergi menikmati malam tanpa jaket.
Fero mengalah dan akhirnya dia menenteng jaket yang terlanjur dilepasnya.
Di kamarku, beberapa barang pemberian Fero kutumpuk dengan rapi di atas lemari. Ada tulisan tentang masalah hati. Tapi pikiranku lagi penat dengan skripsi, aku lelah berbicara soal hati yang rumit. Ada tas hitam, yang sedianya bisa kupakai bila ujian skripsi.
Aku termenung memikirkan Fero. Aku tak habis pikir, mengapa tiba-tiba Fero datang dan berakrab-akrab denganku? Padahal selama ini, aku sama sekali tidak mengenalnya secara dekat. Apakah dia telah kehabisan stok kekasih, sehingga membawanya datang kepadaku. Seorang mahasiswi yang selalu lantang, tak bisa berdandan dan berwajah pas-pasan?
Aku tertawa sendiri bila memikirkan itu. Kutimang-timang nama Fero dalam hati. Kucoba untuk menerimanya sebagai bagian belahan jiwa. Namun hingga aku kelelahan, suara hatiku masih tidak bisa menerima Fero sebagai teman terkasih.
“Maafkan aku, Fero,” desisku dalam kesunyian malam.
Menyadari Fero yang semakin serius, perlahan aku mulai menarik diri. Sewaktu dia menyatakan kesediaannya untuk datang ke wisudaku, aku mengulur waktu memberi tahu.
“Aku bisa libur di hari Kamis mana saja yang kamu mau, Mer,” ucapnya saat kami menikmati makanan berdua.
Dalam Agustus mendatang, ada tiga gelombang wisuda yang jatuh di setiap hari Kamis. Tetapi aku enggan memberi tahu Fero, kepastian tanggal aku menjalani wisuda.
Bahkan akhirnya Fero sama sekali tak kuberi tahu tanggal yang tepat aku diwisuda. Aku berharap, Fero lupa dan memilih libur di hari Sabtu saat Agustus tiba, seperti biasanya.
**
Sore itu selepas acara wisuda, aku mengantarkan keluargaku menunggu bus menuju ke terminal di pinggir jalan, dekat kostanku. Mereka langsung pulang, begitu acara wisudaku selesai terlaksana.
“Hai, Mery sudah selesai wisudanya ?” suara Fero mengagetkanku. Aku melihat sepeda motor Fero berhenti tepat di sampingku.
Seperti seorang maling yang tertangkap basah. Aku tersenyum dan menganggukkan kepala dengan rasa bersalah. Tak bisa kubayangkan, betapa sakitnya hati Fero melihat sikapku yang menolak kehadirannya dalam acara istimewaku.
“Kau bulan ini libur di hari Kamis yaa?”
“Iya, ini baru datang dan mau istirahat dulu,” Fero tersenyum sopan dan menyalami keluargaku lalu pamit pergi.
Seperginya Fero, ibuku pun menyindir,”Tidak masalah, meski hitam asal hatinya baik.”
“Ibu bicara apa siy ?” sahutku malu-malu.
“Ya, namanya sudah dewasa. Sudah lulus kuliah, kau boleh menentukan pilihan pasangan hidup,”
Aku tersenyum dan tidak ingin membahasnya lebih jauh. Lagi pula bus yang kami tunggu telah datang, dan aku melepas mereka pulang ke kampung halaman.
Keesokan harinya Fero datang ke kostku. Dia tidak membahas penyebab aku tidak mengundangnya dalam acara wisudaku kemarin. Kedatangan Fero kali ini sekedar untuk meminta semua barang-barang yang dipinjamkan padaku. Tak ada obrolan panjang lebar seperti biasa. Fero langsung pamit ketika aku sudah mengemas semua yang dimintanya.
Sebulan berlalu, kisah Fero dalam anganku begitu cepat terhapus. Aku sudah melupakannya hingga beberapa bulan berikutnya.
Ketika aku pergi meninggalkan kota Malang yang dingin dan sejuk, menuju Ibu Kota Jakarta yang padat dan penuh persaingan, aku sama sekali tak menjalin komunikasi dengan Fero.
Namun suatu pagi aku sangat terkejut, saat Fero tiba-tiba menelponku. Entah dari mana dia mendapatkan nomor ponselku. Aku tidak memikirkannya, yang kurasakan hanya sebuah kebahagiaan waktu mendengar suara Fero dari seberang.
“Hai.. Fero.. benarkah kamu yang menelponku ?” sahutku riang.
“Iya, berhati-hatilah kamu di Jakarta,” tuturnya seperti biasa.
Kutahu Fero telah memutuskan pindah ke kota Jombang untuk memilih tempat kerja yang lebih baik. Aku ingin bercerita lebih banyak lagi pada Fero. Tapi dia mencegahku dengan sopan.
“Mer, ceritanya nanti kalau ketemu. Pulsanya tinggal dikit,” sambut Fero sembari tertawa.
“O iya,, maaf Fero,”
“Aku cuma mau bilang, semoga kamu menemukan pasangan yang tepat,”
“Begitukah, semoga kamu juga sukses dan mendapatkan pasangan yang tepat,”
“Wasalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumsalam..”
Aku termanggu dalam diam. Maafkan aku, Fero. Semoga kelak kau bahagia bersama pasanganmu.
**
Minggu, 29 Juli 2018
Rabu, 25 April 2018
Jembatan Kayu 2
Cuplikan sebelumnya :
Al, Jo dan Ais adalah saudara sepupu. Bocah-bocah kecil
kelas 1 Sekolah Dasar itu sedang berlibur di rumah nenek yang ada di sebuah
desa di kaki bukit. Mereka bertiga ingin bermain ke sawah di pagi hari. Ketika
menyeberang jembatan kayu, Jo menghindari sengatan kumbang yang mengakibatkan
ketiganya terjebur ke sungai.
Lanjutan :
“Toloong...”
Al, Jo dan Ais berteriak sekencang-kencangnya lalu merasakan
tubuh mereka terbentur benda keras, dan pandangan menjadi gelap.
Al mulai mengerjap-ngerjapkan mata. Matanya sudah terbuka
tapi tidak bisa melihat apa-apa. Gelap.
Al terkejut ketika mendapati dirinya bersama dua sepupu, Jo
dan Ais terkurung di dalam sangkar besi yang besar.
“Jo,, Ais.. bangun. Kita terpenjara..!!” teriak Al ketakutan.
“Al.., dimana kita ? Apa kita baik-baik saja?. Hua..hua..”
Ais menangis ketakutan.
“Hah..kita terpenjara ? hua. Hua..” Jo ikutan menangis.
Mereka bertiga menangis hingga kelelahan dan akhirnya
terdiam.
Tak lama terdengar suara kaki melangkah terseret-seret. Ada
cahaya obor datang mendekat dan semakin mendekat.
Suara parau nenek-nenek menyapa Al bersaudara.
“Hai..anak-anak kecil yang manis. Kalian adalah
tawananku. Hihihihi..” suaranya
menggema menakutkan.
“Hah, kenapa kita ditawan ? Apa salah kita ? Ayo lepaskan
..Lepaskan !” protes Al mencoba untuk berani.
Mereka bertiga saling bergandengan menghalau rasa takut.
![]() |
| Dok. Istimewa |
“Haha.. tidak segampang itu.. Karena aku sudah susah-susah
mendapatkan kalian. Aku perlu memantra-mantrain kumbang agar kalian bisa jatuh.
Dan.. berhasil hahahaha...hihihihi..hahaha”
“Orang tua kalian, pasti mengira kalian sudah mati terbawa
arus..hahaha.. Dan tidak akan mencari kalian lagi.. hahahahah..hihihi..hahaha”
ujar Nenek Sihir penuh kemenangan.
Nenek sihir menyorongkan tiga buah gelas berisi air putih
dan semangkuk singkong rebus buat Al, Jo dan Ais. “Makanlah, sebelum hari
persembahan tiba..hahaha..hihihi..hahaha,”
Obor di sudut ruangan dinyalakan dan nenek sihir pun pergi.
Sinar obor remang-remang menerangi ruangan. Terlihat perabotan kuno, lemari,
kursi dan meja kayu.
Suasana hening disusul suara isak tangis Ais tertahan.
“Hiks..hiks sereem,, Jo, Al, hiks..hiks”
“Sudah ah, jangan bersedih,” sahut Jo menguatkan hati.
“Heeh,, gimana ga sedih Jo, kita tertawan di tempat seram
dan tidak tahu jalan keluar. Dan sebentar lagi kita akan dijadikan persembahan.
Artinya.. nenek itu mau menyakiti kita,”sahut Ais putus asa.
Tapi di saat semua hilang harapan, tiba-tiba mata Al melihat
sebuah jendela.
Aha,, di salah satu sisi ruangan ada jendela kecil yang
terbuka. Tetapi jendela itu sulit terjangkau, selain tinggi, posisi Al dan
sepupunya terkurung dalam sangkar terkunci.
“Ais, Jo, lihat itu
kunci penjara ini. Lihat.. kuncinya tergantung dekat pintu,”bisik Al.
Di kala suasana sepi dan nenek sihir pergi, tiba-tiba seekor
burung pipit hinggap di jendela.
“Cuit..cuit..cuit” seolah dia mengajak berbicara dengan tiga
bersaudara yang terpenjara di balik kurangan besi.
“Hei..kamu burung pipit yang kemarin itu ? Kemarilah..,”
seru Al.
Burung pipit terbang mendekat.
Tapi tiba-tiba pintu ruangan berderit terbuka diiringi
teriakan nyaring dan parau.
“Heiihh.. ada apa ribut-ribut? Waduh ini burung pipit
pengganggu. Hush. Sana pergi. Hush!” Nenek sihir mengayun-ayunkan tongkatnya
mengusir burung pipit.
Ketiga bersaudara itu sedih dan terduduk lemas, melihat
burung pipit diusir pergi.
“Kalian jangan coba-coba yaa, ngomong sama burung pipit!
Kalau melanggar tahu sendiri akibatnya.
Kalian akan kupukuli sampai benjol!!”ancam
nenek sihir sebelum meninggalkan ruangan.
Dalam hati ketiga bersaudara itu penasaran. Mengapa mereka
tidak boleh berbicara dengan burung pipit. Toh itu hanya sekedar burung kecil
yang lucu.
“Ais, Jo, aneh yaa. Mengapa kita tidak boleh berbicara pada
burung pipit tadi ?”
“Iya,, aneh,” sahut Ais.
“Mudah-mudahan saja burung pipit itu datang lagi, sehingga
kita tahu apa maksud nenek sihir,” ujar Jo.
“Iya tapi kita jangan bersuara berisik lagi yaa?”
Setelah letih menunggu, burung pipit tak kunjung tiba. Ketiga
bersaudara itu akhirnya jatuh tertidur.
Al setengah kaget ketika merasa ada yang mencubit-cubit
tangannya. Dia makin kaget lagi ketika tahu bahwa cubitan itu berasal dari
patukan burung pipit.
Tanpa bersuara, Al membangunkan Jo dan Ais dengan menggoyang-goyangkan
kaki.
“Huaam.. apa an siy Al” Jo dan Ais menggeliat.
“Sshh..dia datang. Burung pipit datang.. ssshh bangun,”
bisik Al
Ketiga bersaudara itu senang burung pipit yang
ditunggu-tunggu akhirnya muncul.
Sementara burung pipit tenang-tenang saja bertengger di
pundak Al. Dia menoleh, seolah memperhatikan ketiga bersaudara.
“Ini burung pipit yang kemarin datang di jendela rumah
nenek. Iya aku ingat betul, di bagian kepala ada bulu putihnya,” Al
mengelus-elus kepala burung pipit.
“Kamu haus yaa?” bisik Al.
Burung pipit mengangguk-angguk. "Aneh, burung pipit bisa mengerti bahasa manusia,"batin Al.
Ais menyorongkan tempat minum berisi air putih. Ups! Tapi
burung pipit malah keluar sangkar.
“Yah,, dia pergi,” Ais kecewa.
“Sini, coba taruh di luar saja tempat minumnya,”Al
menyarankan.
Wah, benar saja, ketika tempat minum itu ditaruh di luar
burung pipit segera meminum air putih dengan cepat. Rupanya dia sedang
kehausan.
Dan.. ketiga bersaudara itu makin kaget ketika seekor burung
pipit berubah menjadi seorang bocah sepantaran Al, Jo dan Ais.
“Haah,, kamu bisa berubah jadi manusia?” seru ketiganya
hampir bersamaan.
“Iyaa,, terima kasih banyak yaa. Kalian sudah melepaskan
kutukanku dari nenek sihir. Kalian sungguh baik hati. Namaku Banu, aku tinggal
tidak jauh dari sni. Awalnya aku juga terpeleset dari jembatan itu”
Al, Jo dan Ais saling berpandangan, betapa nenek sihir itu
amat jahat dan sesuka hatinya mengutuk
orang.
“Ayo sekarang kalian
lekas pergi dari sini. Dan kutunjukkan jalan keluar rahasia. Cepat buruan,
sebelum nenek sihir bangun,”seru Banu sembari membuka gembok kurungan besi.
“Aku bisa lepas kutukan bila ada manusia yang ikhlas
memberikan minuman kepadaku. Terima kasih ya.. terima kasih semuanya,”ujar Banu.
Ketiganya berpelukan dan bersuka cita.
“Kami juga berterima kasih telah kau bebaskan dari nenek
sihir,” sahut Al
“Iya, kami juga sangat berterima kasih,” tambah Ais dan Jo
girang.
Mereka berempat akhirnya keluar melalui lorong rahasia,
melewati pintu khusus di balik lemari.
Tentu saja Banu sudah tahu liku-liku
jalur keluar karena semenjak disihir jadi burung, dia sering mengikuti gerak
gerik nenek sihir.
Jalanan keluar berupa lorong dengan tangga tanah berundak-undak.
Banu memimpin jalan di depan. Dibelakangnya ada Al, Ais dan Jo. Mereka saling
berpegangan agar tidak terpeleset. Kanan-kirinya gelap dan licin. Ketiganya
sebetulnya takut melewati jalan ini, tapi harapan bebas dari cengkraman nenek
sihir telah mematikan rasa takut.
Mereka makin gembira ketika melihat ada sinar matahari,
pertanda lorong gelap itu telah berakhir.
Saking gembiranya Jo berjalan cepat
melewati Ais dan menubruk Al.
“Aduuh, Jo..hati-hatilah,” teriak Al.
Badan Al sakit terasa berdebam karena terantuk tanah.
Al makin kaget.. ketika membuka mata ternyata badannya
berada di samping tempat tidur.
Aih..rupanya semua hanya bunga tidur dan Al
terjatuh dari ranjang. Yah, ranjang kamar tidur di rumah nenek.
“Al.. ayo bangun sarapan sudah siap. Kalau kamu lambat nanti
ditinggal. Ais dan Jo sudah mau jalan-jalan ke sawah,” teriak Mama dari meja
makan.
“Ohhh tidaak mama..” teriak Al.
“Hahh, kenapa Al ? Kamu ngigau sampai terjatuh yaa ? hahahaha”
Mama geleng-geleng di depan pintu kamar
Jo dan Ais juga tertawa melihat kondisi Al yang terbelit selimut.
SELESAI
Label:
Blog Series,
Cerita Anak,
fiksi
Rabu, 07 Maret 2018
Dunia Ajaib Al, Jembatan Kayu 1
Suara mencuit-cuit terdengar nyaring, hingga mengusik Al
dari tidur malamnya yang lelap.
“Huaam.. ,” Al menguap lebar-lebar dan menggeliat.
Menyibakkan selimut tebal, melirik kanan kiri. Meraba ujung hidungnya yang
dingin. Hiih dingin sekali. Al kembali menarik selimut tebal, ingin
menghangatkan diri dan bermalas-malasan bangun pagi.
“Cuit..cuit..cuit .. cik cik cik. Cuit..cuit..,” suara
burung pipit di atas pohon jeruk kembali mencuit.
![]() |
| Dok. Istimewa |
Al perlahan membuka selimut dan berpikir, “Ahayy, bukankah
itu suara burung. Dan ini kan lagi di rumah nenek di desa”
Al jadi penasaran, ingin mengintip burung yang sedang
berdendang. Perlahan-lahan Al turun dari ranjang dan menyibakkan tirai jendela.
Uhuii, Al girang melihat dua burung pipit kecil saling
bersahut-sahutan di ranting pohon jeruk depan rumah nenek.
Al tertawa bahagia dan menirukan suara burung pipit,
“Cuit..Cuit..”
Burung pipit menoleh kiri dan kanan mencari arah suara. Saat
menoleh ke belakang, Burung Pipit menatap Al.
Al terkejut bahagia tapi khawatir Burung Pipit terbang
pergi.
Al berteriak lagi, “Cuit..cuit..”
Aiihh, Burung Pipit ternyata juga senang dan ingin mengajak
Al bermain menikmati indahnya pagi. Burung Pipit terbang ke arah Al.
Ups,, Burung Pipit tidak tahu bila Al berada di balik kaca
jendela. Paruh Burung Pipit menabrak kaca.
“Brukk..” Burung Pipit jatuh di balik jendela.
Al sedih dan membuka kaca jendela. Tapi sayang Burung Pipit
akhirnya terbang pergi menjauh.
***
Al berjingkat-jingkat ke kamar mandi. Al ingin jalan-jalan
bersama sepupu Jo dan Ais, setelah mandi dan sarapan.
“Selamat pagi Al.., hari ini kita jalan-jalan ke sawah
yuuk,” ajak Jo. Rambut keriting Jo kelihatan mengkilat-kilat basah. Jo juga baru
saja mandi pagi.
“Aku ikuut..,” teriak Ais di sela-sela menghabiskan nasi
goreng dan telur ceplok.
“Habiskan makanannya dulu yaa, sebelum bermain. Mama tidak
akan ijinkan kalian pergi, kalau sarapan tidak dihabiskan,” tutur Mama dari
dapur.
Al, Jo dan Ais berjalan riang keluar rumah nenek. Mereka
bernyanyi-nyanyi saat melewati pekarangan rumah nenek yang penuh tanaman
sayuran dan berpagar kayu.
Kaki Al sengaja menyaruk-nyaruk rumput di tepi jalan.
Sisa-sisa embun di rerumputan terasa
dingin di kaki Al. Hihi
“Jo,, Ais.. ada tanaman putri malu. Yuuk kita tidurkan
daunnya,” ajak Al.
“Tidurlah..tidurlah.. putri malu..tidurlah tidur putri
malu,” tangan-tangan kecil Al dan sepupu-sepupunya menyentuh ujung daun bunga
putri malu.
Mereka bertiga tertawa-tawa saat melihat daun putri malu
merunduk-runduk setelah disentuh.
“Aih,, tanganku kena durinya,” teriak Ais.
“Hati-hati Ais, jangan sampai kena duri,” kata Al
“Huuf..huuff,” Al meniup ujung jari Ais yang terkena duri,
“Huuf..Huuf..sembuh-sembuh,”
Ais mengibas-kibaskan tangannya dan rasa sakit itu telah
pergi.
Mereka bertiga mulai menuju jembatan kayu yang menghubungkan
hamparan sawah berundak dan pedesaan.
Jembatan kayu itu sempit, cuma 30 cm. Tapi lumayan panjang
sekitar tiga meter. Tidak ada pegangan di kanan dan kirinya. Sementara di
bawahnya sungai berbatu cukup dalam. Air sungai mengalir deras menimbukan bunyi
riuh saat menabrak bebatuan yang berarakan sepanjang aliran.
“Hiih..seram,” teriak Ais saat melihat ke bawah.
“Seram siy,, tapi aku ingin bermain di sawah,” sahut Jo.
“Ayoo kita bergandengan tangan dan berjalan perlahan,” ajak
Al
Perlahan-lahan tiga sepupu kecil itu meniti jembatan kayu.
Satu, dua, tiga, langkah kaki-kaki kecil itu berhasil meniti hingga ke bagian
tengah.
“Ngeng..Ngeng,,” tiba-tiba ada seekor kumbang terbang meliuk
liuk seolah hendak menyengat kepala Jo.
Secepat kilat Jo menggelengkan
kepala menghindar. Serta merta gandengan tangan mereka bertiga jadi oleng dan
Jo bersama saudaranya terperosok ke sungai..
“Tolooongg..”..
BERSAMBUNG
Senin, 05 Februari 2018
Wangi Misterius
“Coba misalnya semua anak-anak ibu patungan
tiap bulan. Kalau dikumpulkan setahun, keluarga kita bisa beli kambing kurban,”ucap
ibu mertua saat menjelang Idul Adha.
Semua anak-anak, termasuk aku sebagai anak
menantu hanya terdiam. Diantara kami saling melihat tapi tidak bersuara.
Pandanganku beradu dengan Mei, adik ipar.
Seolah kami saling berbicara dalam hati, usul ibu tidak baik untuk disanggah, tetapi
terasa berat untuk dilaksanakan. Kondisi ekonomi kami pas-pasan.
Jangankan
menyisihkan tabungan untuk berkurban. Menyangga perekonomian orang tua saja,
terkadang masih belum cukup.
Sebagai menantu, kerap kali tidak tega
hanya memberi jatah Rp 500 ribu per bulan. Tapi apa boleh buat, hanya itu yang
bisa aku lakukan. Semestinya siy, adik-adik suamiku ada tiga orang yang harusnya bisa membantu meringankan beban
orang tua. Namun entahlah, kondisi ekonomi mereka juga tidak terlalu kuat.
Sehingga mereka pun membantu ala kadarnya.
Sering kali dalam hati, aku pun berdo’a,”semoga
mertuaku dijauhkan dari kelaparan dan kekurangan.”
Permintaan, ibu mertua menabung seribu
rupiah per hari untuk membeli hewan qurban, sekilas tidak berlebihan. Tapi
entah mengapa, dalam hati aku seperti tercekik dan terbebani. Terlebih kalau
hanya keluargaku yang menabung. Berapa lama aku harus menabung?
Hatiku gundah. Di sisi lain aku juga tidak
mau kalah dengan mbok pemulung gelas plastik yang berhasil membeli hewan qurban
dari hasil tabungan beberapa tahun. Masa aku seorang karyawan, tidak bisa
melakukannya. Ah, aku malu membaca berita itu di media massa.
Keinginanku membeli hewan qurban, juga
didorong oleh teman sejawat, Mbak Jen yang taat beribadah. Mbak Jen, bilang
bila selama hidup, sebagai muslim wajib berqurban.
“Bohong lah, kalau kamu ini tidak mampu.
Kredit motor sampai belasan juta saja bisa. Kenapa beli kambing qurban dua juta
saja tidak mampu?” ujar Mbak Jen, suatu ketika. “Semua itu tinggal kemauan
saja. Mau atau tidak?”
Kata-kata Mbak Jen, bagaikan menyihir
kesadaranku. Tanpa mencari landasan hukum dalam Al Qur’an dan hadist, aku mulai
terbersit keinginan untuk berqurban. Setahuku, semua muslim yang mampu secara
ekonomi, wajib berqurban untuk saling berbagi.
Cetusan ide ibu mertua seolah menjadi titik
terang guna mewujudkan keinginanku. Ya, aku harus berqurban, sebelum ajal
menjemput.
Aku pun berencana, sebelum membelikan hewan
qurban untuk mertua, terlebih dulu aku
menabung untuk aku dan suamiku. Bila berhasil, barulah aku menabung buat
mertua.
Suatu siang, aku membeli celengan plastik
berbentuk penyu warna merah dari abang-abang penjual perabotan yang kebetulan
lewat di depan rumah kontrakan. Bentuknya lucu, dan kurasa cukup besar untuk
menampung uang sisa belanja. Warnah merah, bagiku adalah semangat yang menyala.
Pertama, aku mulai memasukkan uang 50 ribu
rupiah. Bukan lembaran seribu rupiah seperti ide ibu mertua. Pikirku, bila
setiap minggu aku berhasil menyisihkan 50 ribu maka akhir tahun bakal terkumpul
uang dua jutaan rupiah. Pastilah seekor kambing gemuk bisa kubeli untuk
berqurban.
Aku tersenyum sendiri saat memasukkan
lembaran demi lembaran uang setiap minggu. Bayangan, berqurban dengan kambing
gemuk, sudah di depan mata.
“Penyu, akhir tahun nanti kamu akan berubah
jadi kambing ya..hihihi,” kataku sambil menepuk-nepuk celengan penyu.
Bulan pertama aku lancar menabung. Bulan
kedua, aku juga masih lancar menabung. Hatiku makin senang.
Harapanku di bulan ketiga juga sama. Namun,
aku mulai dilanda kecemasan, karena ada pengeluaran mendadak yang tidak bisa
terhindarkan. Aku harus merelakan tidak mengisi celengan. Mungkin Allah, sedang
menguji kesabaran, pikirku.
Syukurlah di bulan keempat, aku bisa
mengisi celengan lagi dengan rutin. Bahkan terkadang aku lebihkan, demi
mengejar kekosongan bulan kemarin.
Pertengahan bulan kelima, aku masih
bersabar dikala tak sanggup lagi menyisihkan uang. Ada keluarga yang sakit dan
butuh pertolongan, sehingga pengeluaran tak terduga membengkak.
Kesabaranku seolah kian diuji, sebab pada
bulan kelima juga, kondisi ekonomi keluargaku parah. Stok keuanganku sudah
habis sebelum waktu gajian tiba. Kuhitung, masih harus bertahan sepuluh hari
lagi.Aku mau pinjam uang ke tetangga, rasanya
malu. Takut jadi bahan omongan. Sementara usaha suamiku meminjam uang ke
koleganya juga kandas.
Kupandangi celengan penyu merah dengan
sedih. Beberapa kali aku memohon ampun kepada Allah SWT, karena hendak
menggunakan uang yang niat awalnya untuk berqurban.
“Ya, Allah ijinkan aku meminjam uang qurban
yaa..?” pintaku dalam hati sebelum mencukil selembar uang 50 ribuan dari dalam
celengan.
Sebagai penanda, aku menuliskan jumlah
hutangku pada secarik kertas dan kutempel di samping lemari, tempat aku menaruh
celengan penyu.“Insya Allah, aku pasti akan ganti hutang-hutangku ini,” tekadku.
Setelah mengambil uang itu, entah mengapa.
Di bulan-bulan berikutnya aku merasa seperti orang tertatih-tahih untuk
menyisihkan uang berqurban. Kadang bisa menyisihkan uang, tetapi lebih seringnya
aku justru meminjam uang dari celengan penyu.
Batinku mulai frustasi. Sebulan menjelang Idul Adha,
aku tidak berhasil mengumpulkan uang untuk berqurban. Rasanya aku ingin
menangis saja, saat membayangkan kegagalan membeli kambing qurban.
Aku berpikir, bila uang celengan penyu
selama ini digunakan untuk biaya kehidupan aku dan suami, maka suamiku juga
wajib mengganti hutang dari celengan penyu.
“Aa, lihatlah. Uang celengan penyu yang sudah kita pakai ada
uang 1,6 juta,”kataku sembari menunjukkan coretan catatan hutang. “Suatu saat
nanti, kita ganti ya. Karena kita ini berhutang pada Allah lho. Harus diganti
Aa.”
Suamiku hanya diam dan menganggukkan
kepala. Entah apa yang ada di dalam benaknya. Kadang aku berasumsi, dia tidak
antusias untuk mengganti. Tapi semoga saja asumsiku salah!
Sudah kuduga, tahun ini aku gagal
berqurban. Yah, hatiku terasa hampa karena impian untuk turut berqurban telah
gagal total. Berulang kali aku coba menegarkan diri dan bangkit dari rasa
sedih. Perlahan kulatih diriku untuk mengikhlaskan cita-cita yang kandas.
Karena faktanya, memang kondisi keuanganku sedang sesak dan sekarat.
Celengan penyu merah sekalian kukosongi dan
jumlah uang yang kupakai kutuliskan dicatatan hutang. Jumlah hutang kutebali
dengan spidol. Suatu saat nanti harus kuganti!
***
Fajar 10 Dzulhijah, mulai menyingsing. Gema
takbir menyambut Hari Raya Idul Adha terdengar sayup-sayup. Motorku sudah
melaju di jalan beraspal menuju kantor. Aku berencana, sholat Id di sela-sela
waktu liputan.
Pagi ini, timku ditugasi meliput kegiatan
Ayu Ting Ting sekeluarga merayakan Idul Adha. Mulai dari persiapan sholat,
sampai memotong hewan qurban.
Sama seperti tahun lalu, aku juga mendapat
tugas meliput Ayu Ting Ting di kala lebaran haji. Tak apa lah. Penting, aku masih bisa ikut sholat Id, di
kala campers-ku bekerja mengambil
gambar. Hemm kasihan juga ya, campers tidak bisa ikutan sholat. Tapi
untungnya penugasan buat mereka selalu digilir.
Motorku masih menderu di atas aspal.
Maklumlah, aku perlu waktu sekitar satu jam untuk mencapai kantor. Demi
menghibur diri karena bekerja di saat lebaran, aku bersenandung lirih takbir di sepanjang jalan, “Allahu Akbar
Allahu Akbar Laa ila ha illah Allahu
Akbar.” Dan pikiranku mulai melayang.
Aku terbayang, tepat di hari ini sekira
1436 tahun yang lalu, Nabi Ibrahim menyembelih Nabi Ismail, anak kesayangannya
atas nama perintah Allah SWT melalui mimpi. Nabi Ismail tentu bukan sosok anak
yang nakal. Dia anak yang baik, cakap, sangat patuh pada orang tua dan
Tuhannya.
Aku tak bisa membayangkan bagaimana
perasaan yang berkecamuk dalam diri Nabi Ibrahim dan istrinya disaat mereka
harus merelakan kehilangan anak kesayangan. Lebih perih lagi, kehilangan anak
yang paling dicintai itu lewat tangannya sendiri yang memegang pisau tajam.
Ya, Allah. Betapa remuk redamnya perasaan
beliau. Tapi Nabi Ibrahim SA, istri dan anaknya pasrah. Mereka ikhlas terhadap perintah Allah SWT yang begitu berat.
Bagaimana bila aku yang mendapat tugas
seperti itu melalui mimpi untuk membunuh anakku sendiri? Ya, Allah..rasanya aku
belum sanggup melakukannya. Pastinya batinku akan berteriak, meronta dan
mengaduh. Jangankan sengaja melukai, melihat anak sakit saja rasanya tidak
tega.
Hatiku trenyuh. Tak terasa air mataku
meleleh. Aku begitu takjub dengan ketabahan keluarga Nabi Ibrahim dalam
menjalankan perintah Allah SWT. Mereka yakin sekali bahwa Allah Maha Adil
dan Maha Penyayang. Keyakinan mereka pun langsung terjawab. Nabi Ibrahim tidak
jadi kehilangan putra kesayangannya Nabi Ismail. Mereka terpekik bahagia dan
sujud syukur karena bukan Nabi Ismail yang disembelih. Tetapi seekor domba
gemuk lah yang terpotong oleh tangan Nabi Ibrahim. Dagingnya dibagi-bagikan
kepada tetangga sekitar sebagai bentuk shodaqoh.
Hari itu seolah mata hatiku terbuka. Inti
pesan Idul Adha adalah keikhlasan. Keikhlasan dalam menerima apapun yang telah
Allah SWT perintahkan dan berikan. Ikhlas menjalankan perintah-Nya untuk
sholat, puasa dan berzakat. Ikhlas bila ada barang kita rusak, hilang, teman
kita pergi, orang terdekat kita berpulang. Ikhlas menjalani hidup dengan penuh
syukur.
Ya Allah, hari ini aku sangat malu sekali.
Rasa ikhlasku selama ini, ibaratnya tak ada seujung kuku pun dibanding Nabi
Ibrahim. Aku makin menangis di atas laju motor. Menangisi diri sendiri yang
begitu terbelit silau kepemilikan duniawi.
“Qurban itu bukan sekedar memotong hewan
qurban, Rara. Kau tak berhasil menabung
dan membeli hewan qurban, itu tidak masalah. Tak perlu kau memaksakan diri.
Intinya kau harus sadar, dan memahami esensi dari perayaan Idul Adha itu
sendiri. Ikhlas ya harus iklhas. Ikhlas adalah pelajaran tertinggi dalam Islam.
Dan kau harus belajar ikhlas,” kudengar suara hati nuraniku begitu jernih dan
aku tersenyum. Kubersitkan hidung, kusapu air mata dengan kain penutup hidung.
Sebentar lagi sampai kantor, aku tidak
boleh kelihatan habis menangis. Seakan telah mendapat pencerahan hati, mulutku
mulai bersuara lirih menggemakan takbir, “Allahu Akbar Allahu Akbar Laa ila ha
illah Allahu Akbar.” Hatiku lapang dan
bahagia.
Ketika motor yang kukendarai mulai sering
kurem karena lalu lalang orang di jalanan sekitar pasar, aku mencium bau sangat
harum. Ya, Allah.. ini mirip aroma minyak wangi paling bagus yang dihadiahkan
kepadaku waktu umroh dan berkunjung di Madinah beberapa tahun lalu. Aku
menyebutnya wangi Madinah.
Aku sangat bahagia bisa mencium aroma wangi
itu lagi. Ingatanku langsung melayang pada suasana sekitar Masjid Nabawi di
pagi hari.
Kukedipkan mata agar aku kembali
konsentrasi pada jalanan yang hiruk pikuk. “Hemm kayaknya ada toko minyak wangi
yang sedang mencampur minyak wangi niy. Menyengat banget aromanya,”pikirku
penasaran. Tapi sepanjang jalan ini, setahuku
tidak ada satu pun toko minyak wangi.
Dugaan lainnya, minyak wangi itu dipakai
seseorang pengunjung pasar yang sedang berkendara di depanku, sehingga wanginya
bertebaran tertiup angin. Karena itu aku
sengaja menyalip beberapa orang, demi meyakinkan diri bila memang ada seseorang
yang telah memakai minyak wangi secara berlebihan.
Payahnya, aku tidak berhasil menemukan seorang
pun yang diduga telah menebarkan wangi. Hatiku kecut dan kecewa, karena rasa
penasaranku tidak terobati.
Selebihnya, aku senang telah mencium aroma
wangi itu. Wangi khas Kota Madinah Al Wahdaniah yang damai, ramah dan dekat
dengan Rosullullah. Bagiku di sana masih ada Rosullulah, bukan sekedar
makamnya. Tapi Rosullullah benar hadir dan selalu menjawab salam umatnya dengan
teduh melalui hati. Oh, Madinah..aku rindu berkunjung ke sana lagi.
Aku mulai melupakan siapa sosok pemakai
minyak wangi yang telah berhasil menerbangkan anganku pada kedamaian kota suci
umat muslim. Pasalnya, di depanku yang lalu lalang adalah bapak-bapak kuli
angkut yang penuh peluh, menggotong karung isi dagangan. Ada juga nenek-nenek
yang terkantuk-kantuk menjaga dagangan buah dari semalam. Mana mungkin mereka
memakai minyak wangi mahal.
Sudah lupakanlah, sergahku. Pikiranku harus
penuh konsentrasi mengendarai motor di antara riuhnya penghuni pasar yang lalu
lalang di jalanan. Sebelum pukul tujuh pagi, para pedagang sayuran memang
meluber di pinggir jalan dan tentu saja menimbulkan kemacetan yang parah.
Kini pikiranku cuma satu. Segera melewati
kesumpekan jalanan pasar dan mencapai kantor guna bersiap liputan Ayu Ting
Ting.
Saat pikiranku fokus di jalanan, otakku
kembali tersentak. Aku mencium lagi aroma wangi Madinah. Kutengok kanan dan
kiri, hanya ada bapak-bapak kuli angkut. Oh, My God! Apakah ini aroma yang
dikirim Allah melalui malaikatnya, untuk menghiburku karena aku baru saja
mengerti dan memahami makna Idul Adha?
Tapi pantaskah aku mendapat hadiah dari
Allah? Hamba yang masih jauh dari sempurna dalam ibadah ini bisa mendapat
hadiah? Jangan-jangan memang ada seseorang pengunjung pasar yang memakai minyak
wangi itu, namun tak berhasil kutemukan.
Entahlah, dari mana sumber wangi Madinah
itu. Aku tak perduli lagi, tapi aku bahagia sekali.
Jumat, 02 Februari 2018
Karma Itu Ada
Sinar matahari baru saja menembus
celah-celah jendela. Bias cahayanya
menyelusup masuk ke sela-sela tirai, seolah ingin menyampaikan kabar, hari sudah pagi
dan kehidupan segera dimulai.
Aku bersama suami, baru saja pindah ke tempat ini beberapa waktu lalu. Tinggal
di salah satu kontrakan di pemukiman padat di sudut Jakarta Utara. Tentu saja,
aku belum mengenal detail siapa tetangga kanan-kiriku. Karena hariku habis diburu waktu antara
menyelesaikan pekerjaan kantor dan perjalanan.
Bayangkan, aku tinggal di
Jakarta Utara hampir dekat laut, sementara aku bekerja di Jakarta Barat. Aku butuh waktu sekitar 3 jam untuk perjalanan
pulang pergi setiap hari. Maklum lah kami sengaja mencari tempat berteduh yang
murah di celah Ibu Kota.
Dan, di pagi yang mulai sibuk ini, tiba-tiba terdengar teriakan dan makian dari rumah sebelah.
“Mandi sendiri saja tidak becuus.. tidak bersiiih!! Ini rasakan,
kusiram saja..!!!!!,” teriaknya memekakkan telinga.
Aduh, galak banget orang ini, keluhku. Mood ku langsung berantakan mendengar makian
nyaring bagai terompet murahan yang memekakkan telinga.
Tapi aku belajar menahan
diri. Kutelan ludah dan berusaha mengelus dada. Kucoba berpikiran positif. Ga
pa pa lah kalau sekedar berteriak pada anaknya. Biarpun sebetulnya telingaku
ini sakit sekali mendengarnya suara melengking itu.
Ruteku berangkat kerjaku
memang melewati rumah sumber kegaduhan. Mataku sengaja mencuri pandang saat
melintas. Dalam hati ingin tahu, seperti apa gerangan manusia yang tak tahu
sopan dan teriak-teriak di pagi hari. Atau bocah macam apa yang tidak bisa
mandi sendiri.
Astaga naga, aku sungguh terperanjat bukan kepalang. Diluar
dugaan, bukan bocah yang habis mandi atau emak-emak pengomel yang kulihat. Tatapan
mataku tersangkut pada seorang nenek renta.
Kulihat nenek renta berpakaian seadanya,
duduk ngaprak di lantai dengan pasrah diantara genangan air di lantai ruang tamu. Tatapannya kosong saat melihat
aku melintas. Rambutnya basah terurai acak-acakan. Baju kumal yang dipakainya
pun melekat basah. Dia tak berdaya. Hanya mulutnya komat-kamit tanpa suara saat
mata kami beradu. Duh, Gusti..!!
Di sepanjang jalan aku termangu. Mengapa
seorang wanita bisa begitu kejam kepada orang tua yang renta? Sungguh,
menyedihkan.
Seminggu kemudian, tanpa sengaja aku
mendengar gunjingan dari tetangga. Mereka
sebetulnya juga resah dengan prilaku Bu Gendut yang semena-mena terhadap ibu
mertuanya. Tapi apalah daya dan kekuatan dari tetangga, bila suami Bu Gendut
saja juga tak mampu menaklukkan istrinya yang beringas.
Pak Marto, suami Bu
Gendut seolah tutup mata terhadap penderitaan yang dialami ibunya. Pak Marto
tidak punya taring dan nyali di hadapan istri. Sehingga dia tidak bisa membela
perlakuan kasar istri terhadap ibunya yang renta dan lemah. Aduh !!
Hemm.. atau apakah mereka berdua selalu
berusaha agar nenek renta itu segera menemui ajal? Sehingga seolah sepakat
memperlakukan kasar nenek renta setiap pagi ? Entahlah.
Aku pun tak punya daya
mencampuri urusan mereka. Selain aku orang baru yang belum akrab, aku juga tak
punya banyak waktu bercakap-cakap dengan tetangga. Waktuku habis tergilas riuh
dan padatnya pekerjaan. Setiap pulang aku hanya butuh waktu beristirahat
sejenak. Lalu berkubang lagi dengan pekerjaan di kantor.
Cuma saja, hatiku selalu miris, tiap kali mendengar teriakan dan makian setiap pagi. Tetapi apalah daya, aku juga tak punya kekuatan
menghentikan makian tak berguna itu. Puih.
Aku cuma bisa menatap
nenek itu setiap melintas di depan rumah. Dengan baju yang kuyup, rambut
acak-acakan, mata kami beradu. Aku melihat bibirnya komat-kamit. Dan aku
mendesis pilu, “Sungguh kasihan kamu Nek,, semoga sehat selalu yaa.”
**
Suatu malam sepulang kerja aku mampir ke
rumah teman bersama suami. Di sela-sela waktu berbincang aku mendengar suara
burung hantu. Aku menelisik daerah sekitar aku duduk di teras, tapi tidak
kutemukan pertanda ada sangkar burung hantu.
“Ri, di dekat sini apa ada tetangga yang
memelihara burung hantu?” tanyaku.
“Tidak ada Na, kenapa?”
“Engga, apa-apa. Tapi kamu dengar suara
burung hantu ga?”
“Engga,”
Aku terdiam. Aneh, mungkin aku cuma
terhalusinasi. Aku kembali asyik berbincang dengan Rika dan suamiku
Suatu ketika, Rika masuk ke dalam lagi
untuk mengambil cemilan dan suamiku sibuk mengotak-atik ponsel. Dan telingaku
kembali menangkap kicau burung hantu, “UHu. uhu. Uhu.”
Aku diam saja sambil terus berpikir, dimana
sumber suara itu. Kulihat jalanan yang sepi dan pintu-pintu pagar rumah sekitar
yang tertutup rapat. Ujungnya, aku menyerah. Biarkanlah suara malam itu
menyapaku.
Hampir tengah malam, motor suami yang membonceng diriku baru saja
memasuki gang arah kontrakan kami tinggal. Dari kejauhan kulihat ada kerumunan
di dekat rumah. Ya, ada tenda terpal dengan penerang lampu LED. Sejumlah bapak-bapak
duduk berjajar di kursi yang tertata rapi.
“Nampaknya ada yang meninggal, Aa,” ucapku setengah penasaran, siapa gerangan yang telah
berpulang.
Benar saja, ada tetangga dekat rumah
kontrakan kami lah yang meninggal. Suamiku menyapa bapak-bapak itu dan mendapat
kabar bila ibunda Pak Parto yang telah berpulang ke Rahmatullah.
“Innalilahi
wa Inna ilaihi rojiun..nenek renta itu akhirnya berpulang. Apa ini ada kaitan
dengan suara burung hantu misterius ? Entahlah,”
Aku sempat berpikir, mungkin suara burung
hantu misterius itu adalah pertanda nenek renta itu berpamitan kepadaku, seorang tetangga baru
yang hanya bisa melihat dalam diam penderitaan yang Ia alami. Ya, bisa saja, tapi bisa juga tidak ada
hubungannya.
Karna sebetulnya aku tidak memiliki telepati yang tajam dalam hal
ghoib.
Mata yang sudah sayu dan tubuh terasa
lelah, berusaha kukuatkan. Aku segera mengambil air wudhlu, mengenakan mukena
dan bertandang melayat nenek renta. Dihadapan jenazahnya, kulantunkan ayat-ayat
suci dengan harapan sebagai bekal sang nenek menghadap Illahi.
Aku segera pulang dan tidak ingin
berbincang lebih dalam dengan ibu gendut dan keluarganya. Hanya sekedar
basa-basi saja, karena batinku terlalu sakit dan kecewa melihat perlakuan
mereka kepada nenek renta.
Hatiku sedih dan merasa kehilangan, meski
aku tidak mengenal nenek renta tetanggaku itu. Hanya panjatan do’a yang bisa
kuhadiahkan. Harapanku nenek itu sekarang telah tenang di alam baka dan tidak
perlu lagi merasakan siksaan anak menantunya sepanjang hari. Kadang aku masih
sedih kalau mengenang kisah semasa hidupnya.
**
Sudah setahun lebih aku pindah kontrakan ke
arah, lebih jauh dari tempat tinggal Bu Gendut.
Sikapnya yang kasar, membuatku menarik diri. Aku cuma sekedar menyapa bila
kebetulan berpapasan saat lewat di depan rumahnya.
Aku hampir lupa, bila beberapa bulan
terakhir tidak kujumpai Bu Gendut di depan rumah. Pintu rumah Pak Parto juga selalu tertutup rapat.
Hanya beberapa kali kulihat Pak Parto duduk mencari angin di teras.
Tanpa sengaja, aku akhirnya mendengar bila
Bu Gendut hampir sebulan dirawat di rumah sakit. Aku dan suami sudah berencana
menengoknya. Tapi rupanya, Bu Gendut sudah diijinkan pulang oleh dokter lebih
dulu sebelum kami bertandang ke rumah sakit.
Bu Gendut mengalami struk cukup parah dan
berakibat pada kelumpuhan. Dia tak bisa lagi jalan-jalan sebebas dulu. Kini
tubuhnya harus ditopang kursi roda, kemanapun dia pergi.
Saat aku berkunjung ke rumahnya, ada binar
kesedihan yang tersemburat dari mata Bu Gendut. Berulang kali dia mohon
dido’akan agar bisa sehat sehat seperti sedia kala. Aku tersenyum pahit.
Suatu pagi, aku sungguh kaget bukan
kepalang, melihat kejadian di depan mata. Di kala aku kebetulan lewat depan
rumah Pak Parto, kulihat Bu Gendut duduk ngaprak di lantai ruang tamu dengan tubuh hampir telanjang dan
bajunya basah.
Di sebelahnya ada Neni, anak perempuan Pak
Parto. Dia mengomel
dan mengacung-acungkan sapu lidi.
Sepertinya Neni kesal dan tidak telaten memandikan ibunya yang lumpuh.
Bu Gendut pun terlihat pasrah, ketika Neni ngomel-ngomel dan
menyiramkan air dari ember. Mungkin
dia sedang mengenang perlakuan kasarnya kepada ibu mertua.
Nampaknya, prilaku Bu Gendut saat mengurus
mertua dengan semena-mena dan kasar,
ditiru Neni. Persis sekali. Neni kerap membentak-bentak
dan mengguyurkan air saat ibunya mandi di ruang tamu. Semua itu berlangsung
hingga akhirnya Bu Gendut menutup mata selamanya.
Ya, apa yang kita tanam
akhirnya itu pula lah yang kita tuai.
Kamis, 01 Februari 2018
Sirbel Yang Galau
Di sebuah taman rumah tumbuhlah tanaman
daun sirih belanda atau Sirbel dan aneka bunga. Sejak berada di taman, tanaman daun sirih belanda
sangat sedih. Wajahnya murung setiap hari.
Tanaman daun Sirbel merasa iri dengan aneka tanaman bunga yang
ada di taman. Karena setiap tamu yang datang selalu memberi pujian kepada aneka
bunga.
![]() |
| Dok. Istimewa |
“Wah, indah sekali bunga anggrek bulannya.
Putih bersih dan cantik,” ujar seorang tamu wanita.
“Lihat mawar ini. Kelopaknya merah
berseri-seri. Senang memandangi bunga-bunga di sini,”sahut tamu wanita yang
lain.
Percakapan dua orang tamu itu membuat
perasaan tanaman daun Sirbel tak enak hati. Dia merasa kehadirannya di taman itu tidak berguna
bagi manusia. Seingatnya, belum pernah ada seorang tamu pun yang mau memuji
dirinya.
Padahal Sirbel selalu berusaha tampil cantik. Daunnya yang
berukuran sedang mirip daun sirih memiliki bercorak putih dan hijau muda.
Tangkainya menjuntai di pot gantung dipenuhi oleh daun-daun yang segar.
“Huh..!! Seandainya aku menjadi bunga
mawar. Aku akan selalu dapat pujian dari tamu yang datang,” keluhnya.
Mendengar keluhan itu bunga mawar tersenyum
dan menenangkan Sirbel.
“Setiap tanaman itu punya kecantikan
sendiri-sendiri. Aku terlihat cantik hanya kalau aku berbunga. Sedangkan kamu,
selalu terlihat cantik meski tidak berbunga,”hibur bunga mawar.
“Tapi tak ada tamu yang mau memujiku. Aku
benar-benar tidak berguna. Hiks..hiks..,”tangis Sirbel.
Sejak saat itu Sirbel malas-malasan
makan. Akar-akarnya tidak mau menyerap air yang disiramkan tukang kebun.Lambat laun, daun-daun Sirbel mulai layu dan
menguning, karena jarang makan.
Seluruh isi taman menjadi prihatin dengan
kondisi daun Sirbel. Bunga mawar yang tumbuhnya berdekatan mencoba menghibur.
“Ayo, makanlah Sirbel. Kasihan daun-daunmu
jadi menguning dan tidak cantik
lagi,”tutur bunga mawar.
Sirbel terdiam dan merenung. Hatinya sedih karena teringat pikiran bahwa
kehadirannya di taman itu tidak berguna.
“Lebih baik aku tidak ada saja. Aku tidak
berguna bagi manusia,” ratapnya.
Penghuni taman hanya bisa menggelengkan
kepala. Mereka prihatin dengan kondisi Sirbel yang patah semangat.
Hingga suatu sore pemilik taman keheranan
melihat kondisi daun-daun Sirbel yang layu dan menguning.
“Waduh.. Kenapa tanaman daun sirih belanda
jadi layu begini?,” kata ibu pemilik taman.
“Apa beberapa hari ini Bapak lupa
menyiramnya?” tanya ibu pemilik taman kepada Pak tukang kebun.
“Tidak. Saya selalu menyiramnya setiap sore
Bu,” sahut Pak tukang kebun.
“Hemm..coba kita pindahkan ke tempat teduh,
Pak,” pinta Ibu pemilik taman.
Dengan cekatan tukang kebun menurunkan pot
gantung yang berisi tanaman Sirbel dan menaruh di pojok taman. Tali pot dilepas, beberapa pupuk kompos
ditambahkan ke dalam pot dan diguyurkan air secukupnya.
“Sayang
sekali kalau Sirbel ini mati. Dia sangat berguna bagi kita, Pak,” ujar ibu pemilik
taman.
“Apa manfaatnya, Bu? Bukankah dia hanya
tanaman berdaun biasa saja?” tanya tukang kebun.
“Dia tanaman penolong manusia lho. Karena
daun sirih belanda ini mampu menghisap racun udara dan membuat udara bersih
kembali,” terang Ibu pemilik taman.
“Woww hebat sekali dia,” puji tukang kebun.
“Benar, Pak. Mudah-mudahan dia segar lagi.
Nanti saya akan menanam Sirbel lebih banyak lagi di taman ini,” kata Ibu pemilik taman sambil
menambahkan kucuran air ke daun Sirbel.
Sirbel kaget dan bercampur senang saat mendengar percakapan Ibu pemilik
taman dan tukang kebun. Dalam hati Sirbel berjanji akan giat makan sehingga daun-daunnya segar kembali
seperti sedia kala.
Langganan:
Postingan (Atom)


