“Coba misalnya semua anak-anak ibu patungan
tiap bulan. Kalau dikumpulkan setahun, keluarga kita bisa beli kambing kurban,”ucap
ibu mertua saat menjelang Idul Adha.
Semua anak-anak, termasuk aku sebagai anak
menantu hanya terdiam. Diantara kami saling melihat tapi tidak bersuara.
Pandanganku beradu dengan Mei, adik ipar.
Seolah kami saling berbicara dalam hati, usul ibu tidak baik untuk disanggah, tetapi
terasa berat untuk dilaksanakan. Kondisi ekonomi kami pas-pasan.
Jangankan
menyisihkan tabungan untuk berkurban. Menyangga perekonomian orang tua saja,
terkadang masih belum cukup.
Sebagai menantu, kerap kali tidak tega
hanya memberi jatah Rp 500 ribu per bulan. Tapi apa boleh buat, hanya itu yang
bisa aku lakukan. Semestinya siy, adik-adik suamiku ada tiga orang yang harusnya bisa membantu meringankan beban
orang tua. Namun entahlah, kondisi ekonomi mereka juga tidak terlalu kuat.
Sehingga mereka pun membantu ala kadarnya.
Sering kali dalam hati, aku pun berdo’a,”semoga
mertuaku dijauhkan dari kelaparan dan kekurangan.”
Permintaan, ibu mertua menabung seribu
rupiah per hari untuk membeli hewan qurban, sekilas tidak berlebihan. Tapi
entah mengapa, dalam hati aku seperti tercekik dan terbebani. Terlebih kalau
hanya keluargaku yang menabung. Berapa lama aku harus menabung?
Hatiku gundah. Di sisi lain aku juga tidak
mau kalah dengan mbok pemulung gelas plastik yang berhasil membeli hewan qurban
dari hasil tabungan beberapa tahun. Masa aku seorang karyawan, tidak bisa
melakukannya. Ah, aku malu membaca berita itu di media massa.
Keinginanku membeli hewan qurban, juga
didorong oleh teman sejawat, Mbak Jen yang taat beribadah. Mbak Jen, bilang
bila selama hidup, sebagai muslim wajib berqurban.
“Bohong lah, kalau kamu ini tidak mampu.
Kredit motor sampai belasan juta saja bisa. Kenapa beli kambing qurban dua juta
saja tidak mampu?” ujar Mbak Jen, suatu ketika. “Semua itu tinggal kemauan
saja. Mau atau tidak?”
Kata-kata Mbak Jen, bagaikan menyihir
kesadaranku. Tanpa mencari landasan hukum dalam Al Qur’an dan hadist, aku mulai
terbersit keinginan untuk berqurban. Setahuku, semua muslim yang mampu secara
ekonomi, wajib berqurban untuk saling berbagi.
Cetusan ide ibu mertua seolah menjadi titik
terang guna mewujudkan keinginanku. Ya, aku harus berqurban, sebelum ajal
menjemput.
Aku pun berencana, sebelum membelikan hewan
qurban untuk mertua, terlebih dulu aku
menabung untuk aku dan suamiku. Bila berhasil, barulah aku menabung buat
mertua.
Suatu siang, aku membeli celengan plastik
berbentuk penyu warna merah dari abang-abang penjual perabotan yang kebetulan
lewat di depan rumah kontrakan. Bentuknya lucu, dan kurasa cukup besar untuk
menampung uang sisa belanja. Warnah merah, bagiku adalah semangat yang menyala.
Pertama, aku mulai memasukkan uang 50 ribu
rupiah. Bukan lembaran seribu rupiah seperti ide ibu mertua. Pikirku, bila
setiap minggu aku berhasil menyisihkan 50 ribu maka akhir tahun bakal terkumpul
uang dua jutaan rupiah. Pastilah seekor kambing gemuk bisa kubeli untuk
berqurban.
Aku tersenyum sendiri saat memasukkan
lembaran demi lembaran uang setiap minggu. Bayangan, berqurban dengan kambing
gemuk, sudah di depan mata.
“Penyu, akhir tahun nanti kamu akan berubah
jadi kambing ya..hihihi,” kataku sambil menepuk-nepuk celengan penyu.
Bulan pertama aku lancar menabung. Bulan
kedua, aku juga masih lancar menabung. Hatiku makin senang.
Harapanku di bulan ketiga juga sama. Namun,
aku mulai dilanda kecemasan, karena ada pengeluaran mendadak yang tidak bisa
terhindarkan. Aku harus merelakan tidak mengisi celengan. Mungkin Allah, sedang
menguji kesabaran, pikirku.
Syukurlah di bulan keempat, aku bisa
mengisi celengan lagi dengan rutin. Bahkan terkadang aku lebihkan, demi
mengejar kekosongan bulan kemarin.
Pertengahan bulan kelima, aku masih
bersabar dikala tak sanggup lagi menyisihkan uang. Ada keluarga yang sakit dan
butuh pertolongan, sehingga pengeluaran tak terduga membengkak.
Kesabaranku seolah kian diuji, sebab pada
bulan kelima juga, kondisi ekonomi keluargaku parah. Stok keuanganku sudah
habis sebelum waktu gajian tiba. Kuhitung, masih harus bertahan sepuluh hari
lagi.Aku mau pinjam uang ke tetangga, rasanya
malu. Takut jadi bahan omongan. Sementara usaha suamiku meminjam uang ke
koleganya juga kandas.
Kupandangi celengan penyu merah dengan
sedih. Beberapa kali aku memohon ampun kepada Allah SWT, karena hendak
menggunakan uang yang niat awalnya untuk berqurban.
“Ya, Allah ijinkan aku meminjam uang qurban
yaa..?” pintaku dalam hati sebelum mencukil selembar uang 50 ribuan dari dalam
celengan.
Sebagai penanda, aku menuliskan jumlah
hutangku pada secarik kertas dan kutempel di samping lemari, tempat aku menaruh
celengan penyu.“Insya Allah, aku pasti akan ganti hutang-hutangku ini,” tekadku.
Setelah mengambil uang itu, entah mengapa.
Di bulan-bulan berikutnya aku merasa seperti orang tertatih-tahih untuk
menyisihkan uang berqurban. Kadang bisa menyisihkan uang, tetapi lebih seringnya
aku justru meminjam uang dari celengan penyu.
Batinku mulai frustasi. Sebulan menjelang Idul Adha,
aku tidak berhasil mengumpulkan uang untuk berqurban. Rasanya aku ingin
menangis saja, saat membayangkan kegagalan membeli kambing qurban.
Aku berpikir, bila uang celengan penyu
selama ini digunakan untuk biaya kehidupan aku dan suami, maka suamiku juga
wajib mengganti hutang dari celengan penyu.
“Aa, lihatlah. Uang celengan penyu yang sudah kita pakai ada
uang 1,6 juta,”kataku sembari menunjukkan coretan catatan hutang. “Suatu saat
nanti, kita ganti ya. Karena kita ini berhutang pada Allah lho. Harus diganti
Aa.”
Suamiku hanya diam dan menganggukkan
kepala. Entah apa yang ada di dalam benaknya. Kadang aku berasumsi, dia tidak
antusias untuk mengganti. Tapi semoga saja asumsiku salah!
Sudah kuduga, tahun ini aku gagal
berqurban. Yah, hatiku terasa hampa karena impian untuk turut berqurban telah
gagal total. Berulang kali aku coba menegarkan diri dan bangkit dari rasa
sedih. Perlahan kulatih diriku untuk mengikhlaskan cita-cita yang kandas.
Karena faktanya, memang kondisi keuanganku sedang sesak dan sekarat.
Celengan penyu merah sekalian kukosongi dan
jumlah uang yang kupakai kutuliskan dicatatan hutang. Jumlah hutang kutebali
dengan spidol. Suatu saat nanti harus kuganti!
***
Fajar 10 Dzulhijah, mulai menyingsing. Gema
takbir menyambut Hari Raya Idul Adha terdengar sayup-sayup. Motorku sudah
melaju di jalan beraspal menuju kantor. Aku berencana, sholat Id di sela-sela
waktu liputan.
Pagi ini, timku ditugasi meliput kegiatan
Ayu Ting Ting sekeluarga merayakan Idul Adha. Mulai dari persiapan sholat,
sampai memotong hewan qurban.
Sama seperti tahun lalu, aku juga mendapat
tugas meliput Ayu Ting Ting di kala lebaran haji. Tak apa lah. Penting, aku masih bisa ikut sholat Id, di
kala campers-ku bekerja mengambil
gambar. Hemm kasihan juga ya, campers tidak bisa ikutan sholat. Tapi
untungnya penugasan buat mereka selalu digilir.
Motorku masih menderu di atas aspal.
Maklumlah, aku perlu waktu sekitar satu jam untuk mencapai kantor. Demi
menghibur diri karena bekerja di saat lebaran, aku bersenandung lirih takbir di sepanjang jalan, “Allahu Akbar
Allahu Akbar Laa ila ha illah Allahu
Akbar.” Dan pikiranku mulai melayang.
Aku terbayang, tepat di hari ini sekira
1436 tahun yang lalu, Nabi Ibrahim menyembelih Nabi Ismail, anak kesayangannya
atas nama perintah Allah SWT melalui mimpi. Nabi Ismail tentu bukan sosok anak
yang nakal. Dia anak yang baik, cakap, sangat patuh pada orang tua dan
Tuhannya.
Aku tak bisa membayangkan bagaimana
perasaan yang berkecamuk dalam diri Nabi Ibrahim dan istrinya disaat mereka
harus merelakan kehilangan anak kesayangan. Lebih perih lagi, kehilangan anak
yang paling dicintai itu lewat tangannya sendiri yang memegang pisau tajam.
Ya, Allah. Betapa remuk redamnya perasaan
beliau. Tapi Nabi Ibrahim SA, istri dan anaknya pasrah. Mereka ikhlas terhadap perintah Allah SWT yang begitu berat.
Bagaimana bila aku yang mendapat tugas
seperti itu melalui mimpi untuk membunuh anakku sendiri? Ya, Allah..rasanya aku
belum sanggup melakukannya. Pastinya batinku akan berteriak, meronta dan
mengaduh. Jangankan sengaja melukai, melihat anak sakit saja rasanya tidak
tega.
Hatiku trenyuh. Tak terasa air mataku
meleleh. Aku begitu takjub dengan ketabahan keluarga Nabi Ibrahim dalam
menjalankan perintah Allah SWT. Mereka yakin sekali bahwa Allah Maha Adil
dan Maha Penyayang. Keyakinan mereka pun langsung terjawab. Nabi Ibrahim tidak
jadi kehilangan putra kesayangannya Nabi Ismail. Mereka terpekik bahagia dan
sujud syukur karena bukan Nabi Ismail yang disembelih. Tetapi seekor domba
gemuk lah yang terpotong oleh tangan Nabi Ibrahim. Dagingnya dibagi-bagikan
kepada tetangga sekitar sebagai bentuk shodaqoh.
Hari itu seolah mata hatiku terbuka. Inti
pesan Idul Adha adalah keikhlasan. Keikhlasan dalam menerima apapun yang telah
Allah SWT perintahkan dan berikan. Ikhlas menjalankan perintah-Nya untuk
sholat, puasa dan berzakat. Ikhlas bila ada barang kita rusak, hilang, teman
kita pergi, orang terdekat kita berpulang. Ikhlas menjalani hidup dengan penuh
syukur.
Ya Allah, hari ini aku sangat malu sekali.
Rasa ikhlasku selama ini, ibaratnya tak ada seujung kuku pun dibanding Nabi
Ibrahim. Aku makin menangis di atas laju motor. Menangisi diri sendiri yang
begitu terbelit silau kepemilikan duniawi.
“Qurban itu bukan sekedar memotong hewan
qurban, Rara. Kau tak berhasil menabung
dan membeli hewan qurban, itu tidak masalah. Tak perlu kau memaksakan diri.
Intinya kau harus sadar, dan memahami esensi dari perayaan Idul Adha itu
sendiri. Ikhlas ya harus iklhas. Ikhlas adalah pelajaran tertinggi dalam Islam.
Dan kau harus belajar ikhlas,” kudengar suara hati nuraniku begitu jernih dan
aku tersenyum. Kubersitkan hidung, kusapu air mata dengan kain penutup hidung.
Sebentar lagi sampai kantor, aku tidak
boleh kelihatan habis menangis. Seakan telah mendapat pencerahan hati, mulutku
mulai bersuara lirih menggemakan takbir, “Allahu Akbar Allahu Akbar Laa ila ha
illah Allahu Akbar.” Hatiku lapang dan
bahagia.
Ketika motor yang kukendarai mulai sering
kurem karena lalu lalang orang di jalanan sekitar pasar, aku mencium bau sangat
harum. Ya, Allah.. ini mirip aroma minyak wangi paling bagus yang dihadiahkan
kepadaku waktu umroh dan berkunjung di Madinah beberapa tahun lalu. Aku
menyebutnya wangi Madinah.
Aku sangat bahagia bisa mencium aroma wangi
itu lagi. Ingatanku langsung melayang pada suasana sekitar Masjid Nabawi di
pagi hari.
Kukedipkan mata agar aku kembali
konsentrasi pada jalanan yang hiruk pikuk. “Hemm kayaknya ada toko minyak wangi
yang sedang mencampur minyak wangi niy. Menyengat banget aromanya,”pikirku
penasaran. Tapi sepanjang jalan ini, setahuku
tidak ada satu pun toko minyak wangi.
Dugaan lainnya, minyak wangi itu dipakai
seseorang pengunjung pasar yang sedang berkendara di depanku, sehingga wanginya
bertebaran tertiup angin. Karena itu aku
sengaja menyalip beberapa orang, demi meyakinkan diri bila memang ada seseorang
yang telah memakai minyak wangi secara berlebihan.
Payahnya, aku tidak berhasil menemukan seorang
pun yang diduga telah menebarkan wangi. Hatiku kecut dan kecewa, karena rasa
penasaranku tidak terobati.
Selebihnya, aku senang telah mencium aroma
wangi itu. Wangi khas Kota Madinah Al Wahdaniah yang damai, ramah dan dekat
dengan Rosullullah. Bagiku di sana masih ada Rosullulah, bukan sekedar
makamnya. Tapi Rosullullah benar hadir dan selalu menjawab salam umatnya dengan
teduh melalui hati. Oh, Madinah..aku rindu berkunjung ke sana lagi.
Aku mulai melupakan siapa sosok pemakai
minyak wangi yang telah berhasil menerbangkan anganku pada kedamaian kota suci
umat muslim. Pasalnya, di depanku yang lalu lalang adalah bapak-bapak kuli
angkut yang penuh peluh, menggotong karung isi dagangan. Ada juga nenek-nenek
yang terkantuk-kantuk menjaga dagangan buah dari semalam. Mana mungkin mereka
memakai minyak wangi mahal.
Sudah lupakanlah, sergahku. Pikiranku harus
penuh konsentrasi mengendarai motor di antara riuhnya penghuni pasar yang lalu
lalang di jalanan. Sebelum pukul tujuh pagi, para pedagang sayuran memang
meluber di pinggir jalan dan tentu saja menimbulkan kemacetan yang parah.
Kini pikiranku cuma satu. Segera melewati
kesumpekan jalanan pasar dan mencapai kantor guna bersiap liputan Ayu Ting
Ting.
Saat pikiranku fokus di jalanan, otakku
kembali tersentak. Aku mencium lagi aroma wangi Madinah. Kutengok kanan dan
kiri, hanya ada bapak-bapak kuli angkut. Oh, My God! Apakah ini aroma yang
dikirim Allah melalui malaikatnya, untuk menghiburku karena aku baru saja
mengerti dan memahami makna Idul Adha?
Tapi pantaskah aku mendapat hadiah dari
Allah? Hamba yang masih jauh dari sempurna dalam ibadah ini bisa mendapat
hadiah? Jangan-jangan memang ada seseorang pengunjung pasar yang memakai minyak
wangi itu, namun tak berhasil kutemukan.
Entahlah, dari mana sumber wangi Madinah
itu. Aku tak perduli lagi, tapi aku bahagia sekali.