Minggu, 29 Juli 2018

Maafkan Aku Fero

“Kak Mery, tadi ada yang cari,” ujar Kiki, adik kost  yang kamarnya bersebelahan denganku.

“Siapa ?” aku mendelik penuh tanya.

“Dia tidak menyebut nama. Orangnya tinggi, besar, kulitnya gelap, hihi,” sahut Kiki lagi.

“Siapa yaa..?” aku mencoba membayangkan temanku satu per satu. Tetapi tidak satu pun kutemukan ada ciri-ciri yang mirip. Aku mengernyitkan dahi kebingungan.

“Hayoo lo siapa Kak? Hihi,” Kiki ngeloyor pergi ke kamarnya.

Tinggalah aku sendiri  sedikit kebingunan menerka, siapakah sesosok lelaki yang mencariku tadi siang.

“Sayang, dia tidak menyebutkan nama. Ya sudah lah. Kalau memang ada hal penting, pasti dia akan meninggalkan pesan,”pikirku.

 Dan aku menyimpulkan, lelaki yang mencariku itu tidak memiliki kepentingan yang mendesak. Sehingga dia tidak perlu meninggalkan pesan, atau pun bakal mengunjungiku lagi.

Artinya aku tidak perlu membuang energi memikirkannya. Titik. Aku pun kembali beraktivitas seperti biasa. Menghadapi komputer, mengerjakan skripsi dan tenggelam dengan berbagai literatur.

Kalender yang tergantung di kamar kulingkari. Tepat tiga bulan lagi jadwal wisuda. Aku bertekad bisa segera menyelesaikan skripsi dan mendaftar wisuda tepat waktu.

Yeach, aku akan wisuda tiga bulan lagi. Semangat!!

Aku menarik nafas dan kembali menekuni hasil penelitianku dari Pabrik Gula. Sedikit rumit, tapi kucoba selesaikan satu per satu. Dan aku tersenyum saat memandang kalender. Berharap semua bisa berjalan tepat waktu. 

**

Jam dinding menunjukkan pukul tujuh malam. Aku kembali terpekur seperti biasa di kamar kost. Mengerjakan revisi konsultasi skripsi dari dosen tadi siang. Hemm, alhamdulillah. Revisian itu nampaknya tidak terlalu sulit, bagiku.

Di kala aku sedang asik membaca literatur, Kiki masuk ke kamarku sambil nyegir.

“Kenapa kamu ?” aku tidak mengerti maksud bahasa tubuhnya.

“Orang yang kemarin datang lagi mencari, Kak Mery.  Tinggi, besar, hitam, Kak. Ihhhh,”

“Ah, apaan sih. Lebay.. haha.  Oke lah aku temui,” sahutku cuek. Padahal dalam hati, penasaran juga. Siapakah sosok yang baru saja ditemui Kiki.

“Hai..,” sapaku mencoba ramah, sembari menerka siapakah seorang pemuda yang sedang duduk di sofa ruang tamu kostanku.

Sialnya, aku tak ingat apa pun tentang wajah yang satu ini.

“Hai juga Mery.. tampaknya kau tak ingat lagi denganku Mer ?” jawabnya sembari tersenyum.

“Siapa yaa.. maaf aku pelupa,” jawabku tak enak hati.

“Ya ampun Mery.. aku Fero, anak fakultas peternakan. Anak pers kampus. Kamu kan sering main ke sekertariatku,” jawabnya mencoba mengingatkan.

“He he he maaf yaa.. kebanyakan main ke berbagai fakultas, sampai lupa detail setiap orangnya,”

Setahun lalu, ketika aku masih semester empat, aku memang sering berkeliling bersama rekan-rekanku ke berbagai fakultas yang memiliki lembaga pers. Aku giat sekali mengikuti diskusi untuk bertukar pikiran dengan mahasiswa lain.

Aku tidak peduli, bila kebanyakan temanku adalah lelaki yang doyan berdebat berbagai masalah fenomenal di negeri ini. Kami saling menganalisa kondisi sosial, lalu menyimpulkan dan menggali ide sebagai materi tulisan di media masing-masing fakultas.

Bila menyebut pers di fakultas peternakan, pasti Rey, Uki, Anto atau Deri yang langsung ada di ingatanku. Karena mereka ini lah yang aktif berdiskusi denganku kala aku bertandang ke sekertariat mereka.

Sementara, sosok pemuda yang mengenalkan diri dengan nama Fero ini tidak sedikit pun membekas dalam ingatanku.

“Aku sering melihat kamu datang Mer,” kata Fero saat melihatku masih kebingungan.

“Oh, iya.. iya.. aku ingat,” aku berbohong. Aku kasihan melihat kenyataan bila dia sering melihatku, sementara aku sendiri tak pernah mengenalnya.

Malam itu sekitar tiga puluh menit, kami berbincang  soal masa kejayaan kami mondar-mandir di kampus. Waktu itu aku merasa sebagai mahasiswa yang seolah menguasai suasana kampus.haha.

Wajar saja, kala itu aku sudah memiliki banyak teman yang akrab. Sedangkan beban kuliah tidak terlalu berat. Masih ada waktu untuk sekedar mengulang mata kuliah. Tidak seperti sekarang, dimana aku dikejar tenggat waktu kelulusan.

Dari perbincangan itu kutangkap makna, bahwa Fero selama ini memang tidak aktif berdiskusi. Tetapi dia selalu sibuk mengerjakan tugas, saat aku dan teman-teman menggelar diskusi di sekertariat peternakan.

Fero sempat  bercerita bila kini dia telah diterima bekerja di sebuah peternakan di kabupaten Malang. Tempat  kost Fero masih sama, seperti waktu kuliah karena posisi kantornya masih dekat kampus Brawijaya.

Sebelum beranjak tidur, aku terus mencoba membuka serpihan ingatan waktu itu. Hemm, nampaknya kami memang pernah saling berkenalan. Fero. Ya, aku pernah sekali berjabat tangan dengannya ketika berkunjung ke fakultas peternakan.

Sekali berkenalan, tidak pernah saling bicara tapi mengapa sekarang dia mengunjungiku? Heh.. aku tertawa sendiri.

Apakah dia sedang mencari kekasih ? Dan aku adalah salah satu pilihan dia? Mengapa ? Entahlah, aku pun akhirnya terlelap dalam sebuah tanda tanya.

**

Kehadiran Fero, bagiku layaknya kehadiran teman lama biasa. Pelipur lara diantara penatnya mengerjakan skripsi.

Aku selalu menyambut  dengan hangat bila Fero mendatangi kostku setiap malam minggu. Kami berjalan dan menikmati malam di kafe mahasiswa dekat kampus.

Kafe temaram yang biasanya digunakan para mahasiswa untuk memadu kasih. Menikmati semangkok es dan aneka  cemilan sembari berbagi cerita merajut angan di masa depan.

Hampir di setiap sudut kulihat sepasangan muda-mudi  berbagi kasih. Alunan musik dan pencahayaan yang redup membuat orang yang dimabuk cinta itu nyaman berlama-lama berdua di meja masing-masing.

“Tapi aku dan Fero duduk di sini, bukan lah sepasangan kekasih,” desahku dalam hati.

Lalu kulihat Fero yang duduk tepat berhadapan denganku. Kulihat gaya bicaranya yang berusaha mengenalkan diri lebih dekat padaku.

Aku berusaha menuruti saja, apa yang Fero inginkan, sepanjang masih dalam norma-norma pergaulan yang sopan. Dia ingin ditemani makan malam, aku bersedia. Dia bicara soal kerjaan, aku coba memahaminya. Dia mengajakku berkunjung ke teman-temannya, aku tak keberatan.

Aku melihat binar senyum di wajah Fero, sewaktu teman-temannya menyangka kami sudah menjadi sepasang kekasih.

Sementara aku tersenyum biasa saja, bila disangka demikian. Aku tidak menyangkal terus terang di hadapan mereka, karena aku takut Fero terluka. Biar saja orang menyangka apa pun. Karena bagiku sangkaan itu tidaklah penting. Hanya sekedar sendau gurau belaka.

Suatu ketika kami berdua menyeberang jalan raya selepas mengunjungi seorang teman Fero.  Aku berpegangan ujung jaketnya yang lebar saat melintas jalanan.

“Mery, kalau menyebrang kayak itu dong,” ujar Fero padaku setelah kami berada di pinggir. Fero menunjuk sepasang kekasih bergandengan ketika berjalan.

Aku tidak mengabulkan permintaan Fero dan berdalih semua orang memiliki gaya sendiri saat berjalan. Tidak perlu mencontoh orang lain.

Aku berkata demikian, karena aku merasa sangat aneh bila harus bergandengan tangan dengan Fero. Karena sebetulnya aku belum bisa membuka hati buat Fero.

Sementara Fero seolah pantang menyerah untuk meraih hatiku. Karena itu dia terus mendatangiku setiap malam minggu. Dan aku pun tidak enak bila harus menolak kehadirannya. Selama aku memang ada di kostan, kedatangan Fero selalu kusambut hangat.

Malam ini Fero mengajakku menikmati malam minggu di tepi jalanan  di atas  sebuah jembatan dengan trotoar yang cukup lebar. Dulu sewaktu masih semester awal, aku bersama teman-temanku memang sering duduk-duduk di tempat ini.

Jembatan ini melintang di atas sungai yang besar dengan tebing-tebing ditumbuhi pohon-pohon menghijau. Di bawahnya anak sungai dengan aliran air yang deras meliuk-liuk, menebas batu-batuan penghalang.

Di malam hari pemandangan hijau ranum itu tak kelihatan. Hanya gelap dan ditingkahi suara aliran air yang bergemuruh beradu dengan bisingnya suara lalu-lalang mobil yang melintasi jalanan.

“Mer, lihat lah ke atas.. bintang-bintang itu sangat indah kan?” Fero membuka suara.

“Iya, indah sekali. Aku suka duduk-duduk di sini. Dulu kan anak-anak juga suka nongkrong dan ngopi di sini,” sahutku.

“Mer, kalau lihat bintang itu. Aku ingin seperti ini ?” ujar Fero sembari menunjukan sebuah gambar animasi di ponselnya.

Kuamati, anamasi grafis itu menggambarkan dua orang anak sedang berciuman di bawah sinar bintang.

Aku tersenyum,”Mengapa harus seperti itu bila melihat bintang?”

Fero pun tersenyum. “Yah, cuma pingin saja,” jawabnya lagi.

“Pakailah ini, kamu pasti kedinginan,” kata Fero sembari melepas jaket dan hendak memakaikannya untukku.

“Hemm.. aku suka begini, tanpa jaket. Aku sudah tiga tahun di Malang. Dan aku suka udaranya,”

“Pakailah, nanti kamu masuk angin,”

Aku menggeleng melakukan penolakan.  Entahlah, aku enggan memakai jaket Fero. Lagi pula biasanya, aku memang pergi menikmati malam tanpa jaket.

Fero mengalah dan akhirnya dia menenteng jaket yang  terlanjur dilepasnya.

Di kamarku, beberapa barang pemberian Fero kutumpuk dengan rapi di atas lemari. Ada tulisan tentang masalah hati. Tapi pikiranku lagi penat dengan skripsi, aku lelah berbicara soal hati yang rumit. Ada tas hitam, yang sedianya bisa kupakai bila ujian skripsi.

Aku termenung  memikirkan Fero. Aku tak habis pikir, mengapa tiba-tiba Fero datang dan berakrab-akrab denganku? Padahal selama ini, aku sama sekali tidak mengenalnya secara dekat. Apakah dia telah kehabisan stok kekasih, sehingga membawanya datang kepadaku. Seorang mahasiswi yang selalu lantang, tak bisa berdandan dan berwajah pas-pasan?

Aku tertawa sendiri bila memikirkan itu. Kutimang-timang nama Fero dalam hati. Kucoba untuk menerimanya sebagai bagian belahan jiwa. Namun hingga aku kelelahan, suara hatiku masih tidak bisa menerima Fero sebagai teman terkasih. 

“Maafkan aku, Fero,” desisku dalam kesunyian malam.

Menyadari Fero yang semakin serius, perlahan aku mulai menarik diri. Sewaktu dia menyatakan kesediaannya untuk datang ke wisudaku, aku mengulur waktu memberi tahu.

“Aku bisa libur di hari Kamis mana saja yang kamu mau, Mer,” ucapnya saat kami menikmati makanan berdua.

Dalam Agustus mendatang, ada tiga gelombang wisuda yang jatuh di setiap hari Kamis. Tetapi aku enggan memberi tahu Fero, kepastian tanggal aku menjalani wisuda.

Bahkan akhirnya Fero sama sekali tak kuberi tahu tanggal yang tepat aku diwisuda. Aku berharap, Fero lupa dan memilih libur di hari Sabtu saat Agustus tiba, seperti biasanya.

**

Sore itu selepas acara wisuda, aku mengantarkan keluargaku menunggu bus menuju ke terminal  di pinggir jalan, dekat kostanku. Mereka langsung pulang, begitu acara wisudaku selesai terlaksana.

“Hai, Mery sudah selesai wisudanya ?” suara Fero mengagetkanku. Aku melihat sepeda motor Fero berhenti tepat di sampingku.

Seperti seorang maling yang tertangkap basah. Aku tersenyum dan menganggukkan kepala dengan rasa bersalah. Tak bisa kubayangkan, betapa sakitnya hati Fero melihat sikapku yang menolak kehadirannya dalam acara istimewaku.

“Kau bulan ini libur di hari Kamis yaa?”

“Iya, ini baru datang dan mau istirahat dulu,” Fero tersenyum sopan dan menyalami keluargaku lalu pamit pergi.

Seperginya Fero, ibuku pun menyindir,”Tidak masalah, meski hitam asal hatinya baik.”

“Ibu bicara apa siy ?” sahutku malu-malu.

“Ya, namanya sudah dewasa. Sudah lulus kuliah, kau boleh menentukan pilihan pasangan hidup,”

Aku tersenyum dan tidak ingin membahasnya lebih jauh. Lagi pula bus yang kami tunggu telah datang, dan aku melepas mereka pulang ke kampung halaman.

Keesokan harinya Fero datang ke kostku. Dia tidak membahas penyebab aku tidak mengundangnya dalam acara wisudaku kemarin. Kedatangan Fero kali ini sekedar untuk meminta semua barang-barang yang dipinjamkan padaku. Tak ada obrolan panjang lebar seperti biasa. Fero langsung pamit ketika aku sudah mengemas semua yang dimintanya.

Sebulan berlalu, kisah Fero dalam anganku begitu cepat terhapus. Aku sudah melupakannya hingga beberapa bulan berikutnya.

Ketika aku pergi meninggalkan kota Malang yang dingin dan sejuk, menuju Ibu Kota Jakarta yang padat dan penuh persaingan, aku sama sekali tak menjalin komunikasi dengan Fero.

Namun suatu pagi aku sangat terkejut, saat Fero tiba-tiba menelponku. Entah dari mana dia mendapatkan nomor ponselku. Aku tidak memikirkannya, yang kurasakan hanya sebuah kebahagiaan waktu mendengar suara Fero dari seberang.

“Hai.. Fero.. benarkah kamu yang menelponku ?” sahutku riang.

“Iya, berhati-hatilah kamu di Jakarta,” tuturnya seperti biasa.

Kutahu Fero telah memutuskan pindah ke kota Jombang untuk memilih tempat kerja yang lebih baik. Aku ingin bercerita lebih banyak lagi pada Fero. Tapi dia mencegahku dengan sopan.

“Mer, ceritanya nanti kalau ketemu. Pulsanya tinggal dikit,” sambut Fero sembari tertawa.

“O iya,, maaf Fero,”

“Aku cuma mau bilang, semoga kamu menemukan pasangan yang tepat,”

“Begitukah, semoga kamu juga sukses dan mendapatkan pasangan yang tepat,”

“Wasalamu’alaikum..”

“Wa’alaikumsalam..”

 Aku termanggu dalam diam. Maafkan aku, Fero. Semoga kelak kau bahagia bersama pasanganmu.

**





Tidak ada komentar:

Posting Komentar