Jumat, 20 Desember 2013

Ibu Gajah




                                                                          
Dok. Istimewa

Keluarga Gajah hidup damai di hutan belantara. Mini anak gajah kecil gemar bermain di sekitar hutan bersama anak-anak gajah yang lain. Mereka riang gembira menikmati daun-daun pepohonan yang hijau. 

Hutan yang luas dan damai adalah tempat yang menyenangkan. Di tepi hutan ada sungai yang airnya mengalir jernih. Di sungai ini lah seluruh warga hutan berkunjung untuk minum saat kehausan. 

Tetapi sungai di tepi hutan itu sangat dalam dan lebar. Tentu sangat menyeramkan bagi keluarga gajah yang tidak berhati-hati. Bila lengah mereka bisa mati terhanyut dibawa arus sungai. 

Apalagi di dalam sungai juga tinggal Tobi, buaya yang kejam dan rakus. Tobi tidak hanya makan ikan tetapi juga memangsa binatang yang sedang minum air di sungai. 

“Mini, berhati-hati lah bila pergi minum ke sungai,”begitu selalu pesan Ibu Gajah setiap Mini dan kawan-kawan hendak pergi.

Mini memang selalu ingat pesan Ibu Gajah. Sehingga dia selalu waspada sebelum mencelupkan belalai ke dalam sungai untuk minum. 

Pada suatu siang Mini dan kawan-kawannya sedang asyik bermain di hutan. Seharian mereka sibuk berkejar-kejaran dan bercanda di bawah terik matahari, sampai kelelahan. 

“Stop-stop.. lapar niy,” teriak teman-teman Mini. Mereka pun langsung menyantap rumput segar di sekitar pepohonan. Tak lama anak-anak gajah ini merasa kenyang, tetapi kehausan.

“Kita ke sungai yuuk,”ajak Mini.

Sekelompok anak gajah pun langsung berlari-lari ke arah sungai mengikuti ajakan Mini. Mereka tak sabar untuk melepas dahaga.

“Tunggu dulu..!! ”kata Mini. Setelah mengamat-amati sekitar tepi sungai dan memastikan tidak ada buaya, baru lah Mini memberi aba-aba kepada teman-temannya untuk minum.   

Satu per satu teman-teman Mini mencelupkan belalai ke sungai untuk minum. Mereka menikmati air sungai yang jernih dan sejuk. Terkadang mereka saling becanda dengan menyemburkan air dari belalainya. 

“Mini, lihat.. aku bisa menyembur lebih jauh,”pamer Lala, anak gajah yang imut.

“Ah, kamu anak kecil semburannya segitu saja. Ini.. lihat kemampuanku,” seru Mega, anak gajah yang paling besar seolah tak mau kalah. 

“Iya.. hebat-hebat..!!” seru anak-anak gajah yang lain.

Kegaduhan di tepi sungai tersebut rupanya membuat Tobi, buaya sombong bangun dari tidurnya. “Huaaemm.. suara anak-anak gajah. Itu pasti santapan yang lezat,”pikir Tobi.

Perlahan-lahan Tobi berenang menuju asal suara, sembari berharap agar anak-anak gajah itu tidak ditemani induknya.

 “Asyiik..!! Mereka cuma anak-anak gajah! Pasti mudah sekali kulumpuhkan,”kata Tobi dengan sombong ketika mengintai dari kejauhan.

Tobi makin kegirangan ketika mendekati segerombolan anak-anak gajah. Perut Tobi terasa makin keroncongan melihat anak gajah yang gemuk-gemuk. Mata Tobi mengintai dari bawah air dengan waspada. Tobi menunggu anak gajah lengah dan memasukkan belalainya agak ke tengah sungai.

Sementara anak-anak gajah tidak sadar ada bahaya mengintai. Mereka terus saja bergurau hingga memasuki sungai.

“Lihat.. aku berani berada di dalam air,” seru Mega sambil berdiri di tepi sungai dengan kaki mulai terendam air.

“Ayo.. Siapa yang berani  lagi ?!” tantang Mega.

Melihat ulah Mega, Tobi makin kegirangan.

 “Ayo, anak-anak manis masuk ke dalam lagi,” seru Tobi dalam hati. Tobi mulai mengendap dan pasang aksi untuk menerkam ketika Mega mencelupkan belalai ke dalam air.

 Sayang, ketika asyik mengintai lewat lah ikan besar di depan Tobi. Dengan sigap Tobi langsung melahap ikan malang itu. Pergulatan Tobi untuk menaklukkan ikan, membuat air berkecipak kencang.  

Terpaksa Tobi keluar dari persembunyiannya. Buaya kelaparan itu bergelut melumpuhkan ikan. 

“Grubyuk.. grubyuk..!!”

Dan anak-anak gajah itu baru sadar bila nyawa mereka terancam. 

“Aiiss !! Ada buaya. Lari...,” teriak Mini dan teman-temannya sambil lari terbirit-birit keluar dari sungai.

 Kejadian menyeramkan siang itu membuat Mini tak berani lagi pergi ke sungai. “Aku masih takut..”, keluh Mini ketika diajak kakak-kakaknya pergi ke sungai.

Suatu hari akhirnya Mini mulai memberanikan diri pergi ke sungai untuk minum. Kali ini Mini ditemani Ibu Gajah dan dua ekor kakaknya. Ketika sedang asyik menikmati air sungai, muncul lah Tobi, buaya yang sombong dan rakus.

“Hei, Tobi ! Jangan kau ganggu anak-anakku. Pergi kau dari sini ! Dan biarkan anak-anakku minum air sungai,” seru Ibu Gajah.

“O ho.ho.ho. Ibu Gajah, sungai ini wilayah kekuasaanku dan anak-anakmu adalah makanan lezatku,”ledek Tobi dengan sombong. 

“Sombong sekali kamu, Tobi. Kami seluruh penduduk hutan juga berhak meminum air sungai dengan aman,”

“Ha.ha.ha.Anak-anakmu akan aman kalau kau bisa mengalahkanku Ibu Gajah. Tapi mana mungkin.ha.ha”

“Pergi dari sini Tobi!!”

“Aku akan pergi setelah kau kalahkan aku. Ha.ha.ha”

Semula Tobi dan Ibu Gajah hanya perang mulut. Tapi akhirnya keduanya benar-benar berkelahi. Anak-anak gajah menjerit ketakutan ketika Tobi menggigit belalai Ibu Gajah hingga luka. Ibu Gajah berusaha keras agar belalainya terlepas dari mulut Tobi. Tetapi Tobi malah berusaha semakin menggigit belalai Ibu Gajah.

Ibu Gajah tidak kehabisan akal. Dengan belalainya dia menyeret Tobi hingga ke daratan. Sementara anak-anak gajah berteriak memanggil teman-teman gajah. Mereka pun berdatangan memberikan pertolongan. 

Gajah-gajah membantu Ibu Gajah dengan menginjak-injak tubuh Tobi beramai-ramai. Akhirnya Tobi mati lemas karena diinjak-injak gajah yang besar.

Seluruh gajah pun mengucapkan terima kasih kepada Ibu Gajah yang telah memusnahkan Tobi, buaya yang sombong. 

Meski belalainya terluka parah, tetapi Ibu Gajah bahagia karena tak ada lagi bahaya yang mengancam anak-anak gajah saat minum di sungai.