Suara mencuit-cuit terdengar nyaring, hingga mengusik Al
dari tidur malamnya yang lelap.
“Huaam.. ,” Al menguap lebar-lebar dan menggeliat.
Menyibakkan selimut tebal, melirik kanan kiri. Meraba ujung hidungnya yang
dingin. Hiih dingin sekali. Al kembali menarik selimut tebal, ingin
menghangatkan diri dan bermalas-malasan bangun pagi.
“Cuit..cuit..cuit .. cik cik cik. Cuit..cuit..,” suara
burung pipit di atas pohon jeruk kembali mencuit.
![]() |
| Dok. Istimewa |
Al perlahan membuka selimut dan berpikir, “Ahayy, bukankah
itu suara burung. Dan ini kan lagi di rumah nenek di desa”
Al jadi penasaran, ingin mengintip burung yang sedang
berdendang. Perlahan-lahan Al turun dari ranjang dan menyibakkan tirai jendela.
Uhuii, Al girang melihat dua burung pipit kecil saling
bersahut-sahutan di ranting pohon jeruk depan rumah nenek.
Al tertawa bahagia dan menirukan suara burung pipit,
“Cuit..Cuit..”
Burung pipit menoleh kiri dan kanan mencari arah suara. Saat
menoleh ke belakang, Burung Pipit menatap Al.
Al terkejut bahagia tapi khawatir Burung Pipit terbang
pergi.
Al berteriak lagi, “Cuit..cuit..”
Aiihh, Burung Pipit ternyata juga senang dan ingin mengajak
Al bermain menikmati indahnya pagi. Burung Pipit terbang ke arah Al.
Ups,, Burung Pipit tidak tahu bila Al berada di balik kaca
jendela. Paruh Burung Pipit menabrak kaca.
“Brukk..” Burung Pipit jatuh di balik jendela.
Al sedih dan membuka kaca jendela. Tapi sayang Burung Pipit
akhirnya terbang pergi menjauh.
***
Al berjingkat-jingkat ke kamar mandi. Al ingin jalan-jalan
bersama sepupu Jo dan Ais, setelah mandi dan sarapan.
“Selamat pagi Al.., hari ini kita jalan-jalan ke sawah
yuuk,” ajak Jo. Rambut keriting Jo kelihatan mengkilat-kilat basah. Jo juga baru
saja mandi pagi.
“Aku ikuut..,” teriak Ais di sela-sela menghabiskan nasi
goreng dan telur ceplok.
“Habiskan makanannya dulu yaa, sebelum bermain. Mama tidak
akan ijinkan kalian pergi, kalau sarapan tidak dihabiskan,” tutur Mama dari
dapur.
Al, Jo dan Ais berjalan riang keluar rumah nenek. Mereka
bernyanyi-nyanyi saat melewati pekarangan rumah nenek yang penuh tanaman
sayuran dan berpagar kayu.
Kaki Al sengaja menyaruk-nyaruk rumput di tepi jalan.
Sisa-sisa embun di rerumputan terasa
dingin di kaki Al. Hihi
“Jo,, Ais.. ada tanaman putri malu. Yuuk kita tidurkan
daunnya,” ajak Al.
“Tidurlah..tidurlah.. putri malu..tidurlah tidur putri
malu,” tangan-tangan kecil Al dan sepupu-sepupunya menyentuh ujung daun bunga
putri malu.
Mereka bertiga tertawa-tawa saat melihat daun putri malu
merunduk-runduk setelah disentuh.
“Aih,, tanganku kena durinya,” teriak Ais.
“Hati-hati Ais, jangan sampai kena duri,” kata Al
“Huuf..huuff,” Al meniup ujung jari Ais yang terkena duri,
“Huuf..Huuf..sembuh-sembuh,”
Ais mengibas-kibaskan tangannya dan rasa sakit itu telah
pergi.
Mereka bertiga mulai menuju jembatan kayu yang menghubungkan
hamparan sawah berundak dan pedesaan.
Jembatan kayu itu sempit, cuma 30 cm. Tapi lumayan panjang
sekitar tiga meter. Tidak ada pegangan di kanan dan kirinya. Sementara di
bawahnya sungai berbatu cukup dalam. Air sungai mengalir deras menimbukan bunyi
riuh saat menabrak bebatuan yang berarakan sepanjang aliran.
“Hiih..seram,” teriak Ais saat melihat ke bawah.
“Seram siy,, tapi aku ingin bermain di sawah,” sahut Jo.
“Ayoo kita bergandengan tangan dan berjalan perlahan,” ajak
Al
Perlahan-lahan tiga sepupu kecil itu meniti jembatan kayu.
Satu, dua, tiga, langkah kaki-kaki kecil itu berhasil meniti hingga ke bagian
tengah.
“Ngeng..Ngeng,,” tiba-tiba ada seekor kumbang terbang meliuk
liuk seolah hendak menyengat kepala Jo.
Secepat kilat Jo menggelengkan
kepala menghindar. Serta merta gandengan tangan mereka bertiga jadi oleng dan
Jo bersama saudaranya terperosok ke sungai..
“Tolooongg..”..
BERSAMBUNG
