Senin, 05 Februari 2018

Wangi Misterius


“Coba misalnya semua anak-anak ibu patungan tiap bulan. Kalau dikumpulkan setahun, keluarga kita bisa beli kambing kurban,”ucap ibu mertua saat menjelang Idul Adha.

Semua anak-anak, termasuk aku sebagai anak menantu hanya terdiam. Diantara kami saling melihat tapi tidak bersuara.

Pandanganku beradu dengan Mei, adik ipar. Seolah kami saling berbicara dalam hati, usul ibu tidak baik untuk disanggah, tetapi terasa berat untuk dilaksanakan. Kondisi ekonomi kami pas-pasan. 

Jangankan menyisihkan tabungan untuk berkurban. Menyangga perekonomian orang tua saja, terkadang masih belum cukup.

Sebagai menantu, kerap kali tidak tega hanya memberi jatah Rp 500 ribu per bulan. Tapi apa boleh buat, hanya itu yang bisa aku lakukan. Semestinya siy, adik-adik suamiku ada tiga orang  yang harusnya bisa membantu meringankan beban orang tua. Namun entahlah, kondisi ekonomi mereka juga tidak terlalu kuat. Sehingga mereka pun membantu ala kadarnya.
Sering kali dalam hati, aku pun berdo’a,”semoga mertuaku dijauhkan dari kelaparan dan kekurangan.”

Permintaan, ibu mertua menabung seribu rupiah per hari untuk membeli hewan qurban, sekilas tidak berlebihan. Tapi entah mengapa, dalam hati aku seperti tercekik dan terbebani. Terlebih kalau hanya keluargaku yang menabung. Berapa lama aku harus menabung?

Hatiku gundah. Di sisi lain aku juga tidak mau kalah dengan mbok pemulung gelas plastik yang berhasil membeli hewan qurban dari hasil tabungan beberapa tahun. Masa aku seorang karyawan, tidak bisa melakukannya. Ah, aku malu membaca berita itu di media massa.

Keinginanku membeli hewan qurban, juga didorong oleh teman sejawat, Mbak Jen yang taat beribadah. Mbak Jen, bilang bila selama hidup, sebagai muslim wajib berqurban.

“Bohong lah, kalau kamu ini tidak mampu. Kredit motor sampai belasan juta saja bisa. Kenapa beli kambing qurban dua juta saja tidak mampu?” ujar Mbak Jen, suatu ketika. “Semua itu tinggal kemauan saja. Mau atau tidak?”

Kata-kata Mbak Jen, bagaikan menyihir kesadaranku. Tanpa mencari landasan hukum dalam Al Qur’an dan hadist, aku mulai terbersit keinginan untuk berqurban. Setahuku, semua muslim yang mampu secara ekonomi, wajib berqurban untuk saling berbagi.

Cetusan ide ibu mertua seolah menjadi titik terang guna mewujudkan keinginanku. Ya, aku harus berqurban, sebelum ajal menjemput.

Aku pun berencana, sebelum membelikan hewan qurban untuk mertua,  terlebih dulu aku menabung untuk aku dan suamiku. Bila berhasil, barulah aku menabung buat mertua.

Suatu siang, aku membeli celengan plastik berbentuk penyu warna merah dari abang-abang penjual perabotan yang kebetulan lewat di depan rumah kontrakan. Bentuknya lucu, dan kurasa cukup besar untuk menampung uang sisa belanja. Warnah merah, bagiku adalah semangat yang menyala.

Pertama, aku mulai memasukkan uang 50 ribu rupiah. Bukan lembaran seribu rupiah seperti ide ibu mertua. Pikirku, bila setiap minggu aku berhasil menyisihkan 50 ribu maka akhir tahun bakal terkumpul uang dua jutaan rupiah. Pastilah seekor kambing gemuk bisa kubeli untuk berqurban.

Aku tersenyum sendiri saat memasukkan lembaran demi lembaran uang setiap minggu. Bayangan, berqurban dengan kambing gemuk, sudah di depan mata.

“Penyu, akhir tahun nanti kamu akan berubah jadi kambing ya..hihihi,” kataku sambil menepuk-nepuk celengan penyu.

Bulan pertama aku lancar menabung. Bulan kedua, aku juga masih lancar menabung. Hatiku makin senang.

Harapanku di bulan ketiga juga sama. Namun, aku mulai dilanda kecemasan, karena ada pengeluaran mendadak yang tidak bisa terhindarkan. Aku harus merelakan tidak mengisi celengan. Mungkin Allah, sedang menguji kesabaran, pikirku.

Syukurlah di bulan keempat, aku bisa mengisi celengan lagi dengan rutin. Bahkan terkadang aku lebihkan, demi mengejar kekosongan bulan kemarin.

Pertengahan bulan kelima, aku masih bersabar dikala tak sanggup lagi menyisihkan uang. Ada keluarga yang sakit dan butuh pertolongan, sehingga pengeluaran tak terduga membengkak.

Kesabaranku seolah kian diuji, sebab pada bulan kelima juga, kondisi ekonomi keluargaku parah. Stok keuanganku sudah habis sebelum waktu gajian tiba. Kuhitung, masih harus bertahan sepuluh hari lagi.Aku mau pinjam uang ke tetangga, rasanya malu. Takut jadi bahan omongan. Sementara usaha suamiku meminjam uang ke koleganya juga kandas.

Kupandangi celengan penyu merah dengan sedih. Beberapa kali aku memohon ampun kepada Allah SWT, karena hendak menggunakan uang yang niat awalnya untuk berqurban.

“Ya, Allah ijinkan aku meminjam uang qurban yaa..?” pintaku dalam hati sebelum mencukil selembar uang 50 ribuan dari dalam celengan.

Sebagai penanda, aku menuliskan jumlah hutangku pada secarik kertas dan kutempel di samping lemari, tempat aku menaruh celengan penyu.“Insya Allah, aku pasti akan ganti hutang-hutangku ini,” tekadku.

Setelah mengambil uang itu, entah mengapa. Di bulan-bulan berikutnya aku merasa seperti orang tertatih-tahih untuk menyisihkan uang berqurban. Kadang bisa menyisihkan uang, tetapi lebih seringnya aku justru meminjam uang dari celengan penyu.

Batinku  mulai frustasi. Sebulan menjelang Idul Adha, aku tidak berhasil mengumpulkan uang untuk berqurban. Rasanya aku ingin menangis saja, saat membayangkan kegagalan membeli kambing qurban.

Aku berpikir, bila uang celengan penyu selama ini digunakan untuk biaya kehidupan aku dan suami, maka suamiku juga wajib mengganti hutang dari celengan penyu.

“Aa, lihatlah.  Uang celengan penyu yang sudah kita pakai ada uang 1,6 juta,”kataku sembari menunjukkan coretan catatan hutang. “Suatu saat nanti, kita ganti ya. Karena kita ini berhutang pada Allah lho. Harus diganti Aa.”

Suamiku hanya diam dan menganggukkan kepala. Entah apa yang ada di dalam benaknya. Kadang aku berasumsi, dia tidak antusias untuk mengganti. Tapi semoga saja asumsiku salah!

Sudah kuduga, tahun ini aku gagal berqurban. Yah, hatiku terasa hampa karena impian untuk turut berqurban telah gagal total. Berulang kali aku coba menegarkan diri dan bangkit dari rasa sedih. Perlahan kulatih diriku untuk mengikhlaskan cita-cita yang kandas. Karena faktanya, memang kondisi keuanganku sedang sesak dan sekarat.

Celengan penyu merah sekalian kukosongi dan jumlah uang yang kupakai kutuliskan dicatatan hutang. Jumlah hutang kutebali dengan spidol. Suatu saat nanti harus kuganti!

***

Fajar 10 Dzulhijah, mulai menyingsing. Gema takbir menyambut Hari Raya Idul Adha terdengar sayup-sayup. Motorku sudah melaju di jalan beraspal menuju kantor. Aku berencana, sholat Id di sela-sela waktu liputan.

Pagi ini, timku ditugasi meliput kegiatan Ayu Ting Ting sekeluarga merayakan Idul Adha. Mulai dari persiapan sholat, sampai memotong hewan qurban.

Sama seperti tahun lalu, aku juga mendapat tugas meliput Ayu Ting Ting di kala lebaran haji. Tak apa lah.  Penting, aku masih bisa ikut sholat Id, di kala campers-ku bekerja mengambil gambar.  Hemm kasihan juga ya, campers tidak bisa ikutan sholat. Tapi untungnya penugasan buat mereka selalu digilir.

Motorku masih menderu di atas aspal. Maklumlah, aku perlu waktu sekitar satu jam untuk mencapai kantor. Demi menghibur diri karena bekerja di saat lebaran, aku bersenandung lirih  takbir di sepanjang jalan, “Allahu Akbar Allahu Akbar Laa ila ha illah  Allahu Akbar.” Dan pikiranku mulai melayang.

Aku terbayang, tepat di hari ini sekira 1436 tahun yang lalu, Nabi Ibrahim menyembelih Nabi Ismail, anak kesayangannya atas nama perintah Allah SWT melalui mimpi. Nabi Ismail tentu bukan sosok anak yang nakal. Dia anak yang baik, cakap, sangat patuh pada orang tua dan Tuhannya.

Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan yang berkecamuk dalam diri Nabi Ibrahim dan istrinya disaat mereka harus merelakan kehilangan anak kesayangan. Lebih perih lagi, kehilangan anak yang paling dicintai itu lewat tangannya sendiri yang memegang pisau tajam.

Ya, Allah. Betapa remuk redamnya perasaan beliau. Tapi Nabi Ibrahim SA, istri dan anaknya pasrah. Mereka ikhlas terhadap perintah Allah SWT yang begitu berat.

Bagaimana bila aku yang mendapat tugas seperti itu melalui mimpi untuk membunuh anakku sendiri? Ya, Allah..rasanya aku belum sanggup melakukannya. Pastinya batinku akan berteriak, meronta dan mengaduh. Jangankan sengaja melukai, melihat anak sakit saja rasanya tidak tega.

Hatiku trenyuh. Tak terasa air mataku meleleh. Aku begitu takjub dengan ketabahan keluarga Nabi Ibrahim dalam menjalankan perintah Allah SWT. Mereka yakin sekali bahwa Allah Maha Adil dan Maha Penyayang. Keyakinan mereka pun langsung terjawab. Nabi Ibrahim tidak jadi kehilangan putra kesayangannya Nabi Ismail. Mereka terpekik bahagia dan sujud syukur karena bukan Nabi Ismail yang disembelih. Tetapi seekor domba gemuk lah yang terpotong oleh tangan Nabi Ibrahim. Dagingnya dibagi-bagikan kepada tetangga sekitar sebagai bentuk shodaqoh.

Hari itu seolah mata hatiku terbuka. Inti pesan Idul Adha adalah keikhlasan. Keikhlasan dalam menerima apapun yang telah Allah SWT perintahkan dan berikan. Ikhlas menjalankan perintah-Nya untuk sholat, puasa dan berzakat. Ikhlas bila ada barang kita rusak, hilang, teman kita pergi, orang terdekat kita berpulang. Ikhlas menjalani hidup dengan penuh syukur.

Ya Allah, hari ini aku sangat malu sekali. Rasa ikhlasku selama ini, ibaratnya tak ada seujung kuku pun dibanding Nabi Ibrahim. Aku makin menangis di atas laju motor. Menangisi diri sendiri yang begitu terbelit silau kepemilikan duniawi.

“Qurban itu bukan sekedar memotong hewan qurban, Rara.  Kau tak berhasil menabung dan membeli hewan qurban, itu tidak masalah. Tak perlu kau memaksakan diri. Intinya kau harus sadar, dan memahami esensi dari perayaan Idul Adha itu sendiri. Ikhlas ya harus iklhas. Ikhlas adalah pelajaran tertinggi dalam Islam. Dan kau harus belajar ikhlas,” kudengar suara hati nuraniku begitu jernih dan aku tersenyum. Kubersitkan hidung, kusapu air mata dengan kain penutup hidung.

Sebentar lagi sampai kantor, aku tidak boleh kelihatan habis menangis. Seakan telah mendapat pencerahan hati, mulutku mulai bersuara lirih menggemakan takbir, “Allahu Akbar Allahu Akbar Laa ila ha illah  Allahu Akbar.” Hatiku lapang dan bahagia.

Ketika motor yang kukendarai mulai sering kurem karena lalu lalang orang di jalanan sekitar pasar, aku mencium bau sangat harum. Ya, Allah.. ini mirip aroma minyak wangi paling bagus yang dihadiahkan kepadaku waktu umroh dan berkunjung di Madinah beberapa tahun lalu. Aku menyebutnya wangi Madinah.

Aku sangat bahagia bisa mencium aroma wangi itu lagi. Ingatanku langsung melayang pada suasana sekitar Masjid Nabawi di pagi hari.

Kukedipkan mata agar aku kembali konsentrasi pada jalanan yang hiruk pikuk. “Hemm kayaknya ada toko minyak wangi yang sedang mencampur minyak wangi niy. Menyengat banget aromanya,”pikirku penasaran. Tapi sepanjang jalan ini, setahuku  tidak ada satu pun toko minyak wangi.

Dugaan lainnya, minyak wangi itu dipakai seseorang pengunjung pasar yang sedang berkendara di depanku, sehingga wanginya bertebaran tertiup angin.  Karena itu aku sengaja menyalip beberapa orang, demi meyakinkan diri bila memang ada seseorang yang telah memakai minyak wangi secara berlebihan.

Payahnya, aku tidak berhasil menemukan seorang pun yang diduga telah menebarkan wangi.  Hatiku kecut dan kecewa, karena rasa penasaranku tidak terobati.

Selebihnya, aku senang telah mencium aroma wangi itu. Wangi khas Kota Madinah Al Wahdaniah yang damai, ramah dan dekat dengan Rosullullah. Bagiku di sana masih ada Rosullulah, bukan sekedar makamnya. Tapi Rosullullah benar hadir dan selalu menjawab salam umatnya dengan teduh melalui hati. Oh, Madinah..aku rindu berkunjung ke sana lagi.

Aku mulai melupakan siapa sosok pemakai minyak wangi yang telah berhasil menerbangkan anganku pada kedamaian kota suci umat muslim. Pasalnya, di depanku yang lalu lalang adalah bapak-bapak kuli angkut yang penuh peluh, menggotong karung isi dagangan. Ada juga nenek-nenek yang terkantuk-kantuk menjaga dagangan buah dari semalam. Mana mungkin mereka memakai minyak wangi mahal.

Sudah lupakanlah, sergahku. Pikiranku harus penuh konsentrasi mengendarai motor di antara riuhnya penghuni pasar yang lalu lalang di jalanan. Sebelum pukul tujuh pagi, para pedagang sayuran memang meluber di pinggir jalan dan tentu saja menimbulkan kemacetan yang parah.

Kini pikiranku cuma satu. Segera melewati kesumpekan jalanan pasar dan mencapai kantor guna bersiap liputan Ayu Ting Ting.

Saat pikiranku fokus di jalanan, otakku kembali tersentak. Aku mencium lagi aroma wangi Madinah. Kutengok kanan dan kiri, hanya ada bapak-bapak kuli angkut. Oh, My God! Apakah ini aroma yang dikirim Allah melalui malaikatnya, untuk menghiburku karena aku baru saja mengerti dan memahami makna Idul Adha?

Tapi pantaskah aku mendapat hadiah dari Allah? Hamba yang masih jauh dari sempurna dalam ibadah ini bisa mendapat hadiah? Jangan-jangan memang ada seseorang pengunjung pasar yang memakai minyak wangi itu, namun tak berhasil kutemukan.
Entahlah, dari mana sumber wangi Madinah itu. Aku tak perduli lagi, tapi aku bahagia sekali.













Tidak ada komentar:

Posting Komentar