Jumat, 02 Februari 2018

Karma Itu Ada


Sinar matahari baru saja menembus celah-celah jendela. Bias cahayanya menyelusup masuk ke sela-sela tirai, seolah ingin menyampaikan kabar, hari sudah pagi dan kehidupan segera dimulai.

Aku bersama suami, baru saja pindah ke tempat ini beberapa waktu lalu. Tinggal di salah satu kontrakan di pemukiman padat di sudut Jakarta Utara. Tentu saja, aku belum mengenal detail siapa tetangga kanan-kiriku. Karena hariku habis diburu waktu antara menyelesaikan pekerjaan kantor dan perjalanan.

Bayangkan, aku tinggal di Jakarta Utara hampir dekat laut, sementara aku bekerja di Jakarta Barat.  Aku butuh waktu sekitar 3 jam untuk perjalanan pulang pergi setiap hari. Maklum lah kami sengaja mencari tempat berteduh yang murah di celah Ibu Kota.
Dan, di pagi yang mulai sibuk ini, tiba-tiba terdengar teriakan dan makian dari rumah  sebelah.  

“Mandi sendiri saja tidak becuus.. tidak bersiiih!! Ini rasakan, kusiram saja..!!!!!,” teriaknya memekakkan telinga.

Aduh, galak banget orang ini, keluhku. Mood ku langsung berantakan mendengar makian nyaring bagai terompet murahan yang memekakkan telinga.

Tapi aku belajar menahan diri. Kutelan ludah dan berusaha mengelus dada. Kucoba berpikiran positif. Ga pa pa lah kalau sekedar berteriak pada anaknya. Biarpun sebetulnya telingaku ini sakit sekali mendengarnya suara melengking itu.

Ruteku berangkat kerjaku memang melewati rumah sumber kegaduhan. Mataku sengaja mencuri pandang saat melintas. Dalam hati ingin tahu, seperti apa gerangan manusia yang tak tahu sopan dan teriak-teriak di pagi hari. Atau bocah macam apa yang tidak bisa mandi sendiri.

Astaga naga, aku sungguh terperanjat bukan kepalang. Diluar dugaan, bukan bocah yang habis mandi atau emak-emak pengomel yang kulihat. Tatapan mataku tersangkut pada seorang nenek renta.

Kulihat nenek renta berpakaian seadanya, duduk ngaprak di lantai dengan pasrah diantara genangan air di lantai ruang tamu. Tatapannya kosong saat melihat aku melintas. Rambutnya basah terurai acak-acakan. Baju kumal yang dipakainya pun melekat basah. Dia tak berdaya. Hanya mulutnya komat-kamit tanpa suara saat mata kami beradu. Duh, Gusti..!!

Di sepanjang jalan aku termangu. Mengapa seorang wanita bisa begitu kejam kepada orang tua yang renta? Sungguh, menyedihkan.

Seminggu kemudian, tanpa sengaja aku mendengar gunjingan dari tetangga. Mereka sebetulnya juga resah dengan prilaku Bu Gendut yang semena-mena terhadap ibu mertuanya. Tapi apalah daya dan kekuatan dari tetangga, bila suami Bu Gendut saja juga tak mampu menaklukkan istrinya yang beringas.

Pak Marto, suami Bu Gendut seolah tutup mata terhadap penderitaan yang dialami ibunya. Pak Marto tidak punya taring dan nyali di hadapan istri. Sehingga dia tidak bisa membela perlakuan kasar istri terhadap ibunya yang renta dan lemah. Aduh !!

Hemm.. atau apakah mereka berdua selalu berusaha agar nenek renta itu segera menemui ajal? Sehingga seolah sepakat memperlakukan kasar nenek renta setiap pagi ? Entahlah.

Aku pun tak punya daya mencampuri urusan mereka. Selain aku orang baru yang belum akrab, aku juga tak punya banyak waktu bercakap-cakap dengan tetangga. Waktuku habis tergilas riuh dan padatnya pekerjaan. Setiap pulang aku hanya butuh waktu beristirahat sejenak. Lalu berkubang lagi dengan pekerjaan di kantor.

Cuma saja, hatiku selalu miris, tiap kali mendengar teriakan dan makian setiap pagi. Tetapi apalah daya, aku juga tak punya kekuatan menghentikan makian tak berguna itu. Puih.

Aku cuma bisa menatap nenek itu setiap melintas di depan rumah. Dengan baju yang kuyup, rambut acak-acakan, mata kami beradu. Aku melihat bibirnya komat-kamit. Dan aku mendesis pilu, “Sungguh kasihan kamu Nek,, semoga sehat selalu yaa.”

**
Suatu malam sepulang kerja aku mampir ke rumah teman bersama suami. Di sela-sela waktu berbincang aku mendengar suara burung hantu. Aku menelisik daerah sekitar aku duduk di teras, tapi tidak kutemukan pertanda ada sangkar burung hantu.

“Ri, di dekat sini apa ada tetangga yang memelihara burung hantu?” tanyaku.

“Tidak ada Na, kenapa?”

“Engga, apa-apa. Tapi kamu dengar suara burung hantu ga?”

“Engga,”

Aku terdiam. Aneh, mungkin aku cuma terhalusinasi. Aku kembali asyik berbincang dengan Rika dan suamiku

Suatu ketika, Rika masuk ke dalam lagi untuk mengambil cemilan dan suamiku sibuk mengotak-atik ponsel. Dan telingaku kembali menangkap kicau burung hantu, “UHu. uhu. Uhu.”

Aku diam saja sambil terus berpikir, dimana sumber suara itu. Kulihat jalanan yang sepi dan pintu-pintu pagar rumah sekitar yang tertutup rapat. Ujungnya, aku menyerah. Biarkanlah suara malam itu menyapaku.

Hampir tengah malam,  motor suami yang membonceng diriku baru saja memasuki gang arah kontrakan kami tinggal. Dari kejauhan kulihat ada kerumunan di dekat rumah. Ya, ada tenda terpal dengan penerang lampu LED. Sejumlah bapak-bapak duduk berjajar di kursi yang tertata rapi.

“Nampaknya ada yang meninggal, Aa,” ucapku setengah penasaran, siapa gerangan yang telah berpulang.

Benar saja, ada tetangga dekat rumah kontrakan kami lah yang meninggal. Suamiku menyapa bapak-bapak itu dan mendapat kabar bila ibunda Pak Parto yang telah berpulang ke Rahmatullah.

“Innalilahi wa Inna ilaihi rojiun..nenek renta itu akhirnya berpulang. Apa ini ada kaitan dengan suara burung hantu misterius ? Entahlah,”

Aku sempat berpikir, mungkin suara burung hantu misterius itu adalah pertanda nenek renta itu  berpamitan kepadaku, seorang tetangga baru yang hanya bisa melihat dalam diam penderitaan yang Ia alami.  Ya, bisa saja, tapi bisa juga tidak ada hubungannya. 

Karna sebetulnya aku tidak memiliki telepati yang tajam dalam hal ghoib.
Mata yang sudah sayu dan tubuh terasa lelah, berusaha kukuatkan. Aku segera mengambil air wudhlu, mengenakan mukena dan bertandang melayat nenek renta. Dihadapan jenazahnya, kulantunkan ayat-ayat suci dengan harapan sebagai bekal sang nenek menghadap Illahi.

Aku segera pulang dan tidak ingin berbincang lebih dalam dengan ibu gendut dan keluarganya. Hanya sekedar basa-basi saja, karena batinku terlalu sakit dan kecewa melihat perlakuan mereka kepada nenek renta.

Hatiku sedih dan merasa kehilangan, meski aku tidak mengenal nenek renta tetanggaku itu. Hanya panjatan do’a yang bisa kuhadiahkan. Harapanku nenek itu sekarang telah tenang di alam baka dan tidak perlu lagi merasakan siksaan anak menantunya sepanjang hari. Kadang aku masih sedih kalau mengenang kisah semasa hidupnya.

**
Sudah setahun lebih aku pindah kontrakan ke arah, lebih jauh dari tempat tinggal Bu Gendut. Sikapnya yang kasar, membuatku menarik diri. Aku cuma sekedar menyapa bila kebetulan berpapasan saat lewat di depan rumahnya.

Aku hampir lupa, bila beberapa bulan terakhir tidak kujumpai Bu Gendut di depan rumah. Pintu rumah Pak Parto juga selalu tertutup rapat. Hanya beberapa kali kulihat Pak Parto duduk mencari angin di teras.

Tanpa sengaja, aku akhirnya mendengar bila Bu Gendut hampir sebulan dirawat di rumah sakit. Aku dan suami sudah berencana menengoknya. Tapi rupanya, Bu Gendut sudah diijinkan pulang oleh dokter lebih dulu sebelum kami bertandang ke rumah sakit.

Bu Gendut mengalami struk cukup parah dan berakibat pada kelumpuhan. Dia tak bisa lagi jalan-jalan sebebas dulu. Kini tubuhnya harus ditopang kursi roda, kemanapun dia pergi.

Saat aku berkunjung ke rumahnya, ada binar kesedihan yang tersemburat dari mata Bu Gendut. Berulang kali dia mohon dido’akan agar bisa sehat sehat seperti sedia kala. Aku tersenyum pahit.

Suatu pagi, aku sungguh kaget bukan kepalang, melihat kejadian di depan mata. Di kala aku kebetulan lewat depan rumah Pak Parto, kulihat Bu Gendut duduk ngaprak di lantai  ruang tamu dengan tubuh hampir telanjang dan bajunya basah.

Di sebelahnya ada Neni, anak perempuan Pak Parto. Dia mengomel dan mengacung-acungkan sapu lidi. Sepertinya Neni kesal dan tidak telaten memandikan ibunya yang lumpuh.

Bu Gendut pun terlihat pasrah, ketika Neni ngomel-ngomel dan menyiramkan air dari ember. Mungkin dia sedang mengenang perlakuan kasarnya kepada ibu mertua.

Nampaknya, prilaku Bu Gendut saat mengurus mertua dengan semena-mena dan kasar, ditiru Neni. Persis sekali. Neni kerap membentak-bentak dan mengguyurkan air saat ibunya mandi di ruang tamu. Semua itu berlangsung hingga akhirnya Bu Gendut menutup mata selamanya.


Ya, apa yang kita tanam akhirnya itu pula lah yang kita tuai.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar