Sinar matahari baru saja menembus
celah-celah jendela. Bias cahayanya
menyelusup masuk ke sela-sela tirai, seolah ingin menyampaikan kabar, hari sudah pagi
dan kehidupan segera dimulai.
Aku bersama suami, baru saja pindah ke tempat ini beberapa waktu lalu. Tinggal
di salah satu kontrakan di pemukiman padat di sudut Jakarta Utara. Tentu saja,
aku belum mengenal detail siapa tetangga kanan-kiriku. Karena hariku habis diburu waktu antara
menyelesaikan pekerjaan kantor dan perjalanan.
Bayangkan, aku tinggal di
Jakarta Utara hampir dekat laut, sementara aku bekerja di Jakarta Barat. Aku butuh waktu sekitar 3 jam untuk perjalanan
pulang pergi setiap hari. Maklum lah kami sengaja mencari tempat berteduh yang
murah di celah Ibu Kota.
Dan, di pagi yang mulai sibuk ini, tiba-tiba terdengar teriakan dan makian dari rumah sebelah.
“Mandi sendiri saja tidak becuus.. tidak bersiiih!! Ini rasakan,
kusiram saja..!!!!!,” teriaknya memekakkan telinga.
Aduh, galak banget orang ini, keluhku. Mood ku langsung berantakan mendengar makian
nyaring bagai terompet murahan yang memekakkan telinga.
Tapi aku belajar menahan
diri. Kutelan ludah dan berusaha mengelus dada. Kucoba berpikiran positif. Ga
pa pa lah kalau sekedar berteriak pada anaknya. Biarpun sebetulnya telingaku
ini sakit sekali mendengarnya suara melengking itu.
Ruteku berangkat kerjaku
memang melewati rumah sumber kegaduhan. Mataku sengaja mencuri pandang saat
melintas. Dalam hati ingin tahu, seperti apa gerangan manusia yang tak tahu
sopan dan teriak-teriak di pagi hari. Atau bocah macam apa yang tidak bisa
mandi sendiri.
Astaga naga, aku sungguh terperanjat bukan kepalang. Diluar
dugaan, bukan bocah yang habis mandi atau emak-emak pengomel yang kulihat. Tatapan
mataku tersangkut pada seorang nenek renta.
Kulihat nenek renta berpakaian seadanya,
duduk ngaprak di lantai dengan pasrah diantara genangan air di lantai ruang tamu. Tatapannya kosong saat melihat
aku melintas. Rambutnya basah terurai acak-acakan. Baju kumal yang dipakainya
pun melekat basah. Dia tak berdaya. Hanya mulutnya komat-kamit tanpa suara saat
mata kami beradu. Duh, Gusti..!!
Di sepanjang jalan aku termangu. Mengapa
seorang wanita bisa begitu kejam kepada orang tua yang renta? Sungguh,
menyedihkan.
Seminggu kemudian, tanpa sengaja aku
mendengar gunjingan dari tetangga. Mereka
sebetulnya juga resah dengan prilaku Bu Gendut yang semena-mena terhadap ibu
mertuanya. Tapi apalah daya dan kekuatan dari tetangga, bila suami Bu Gendut
saja juga tak mampu menaklukkan istrinya yang beringas.
Pak Marto, suami Bu
Gendut seolah tutup mata terhadap penderitaan yang dialami ibunya. Pak Marto
tidak punya taring dan nyali di hadapan istri. Sehingga dia tidak bisa membela
perlakuan kasar istri terhadap ibunya yang renta dan lemah. Aduh !!
Hemm.. atau apakah mereka berdua selalu
berusaha agar nenek renta itu segera menemui ajal? Sehingga seolah sepakat
memperlakukan kasar nenek renta setiap pagi ? Entahlah.
Aku pun tak punya daya
mencampuri urusan mereka. Selain aku orang baru yang belum akrab, aku juga tak
punya banyak waktu bercakap-cakap dengan tetangga. Waktuku habis tergilas riuh
dan padatnya pekerjaan. Setiap pulang aku hanya butuh waktu beristirahat
sejenak. Lalu berkubang lagi dengan pekerjaan di kantor.
Cuma saja, hatiku selalu miris, tiap kali mendengar teriakan dan makian setiap pagi. Tetapi apalah daya, aku juga tak punya kekuatan
menghentikan makian tak berguna itu. Puih.
Aku cuma bisa menatap
nenek itu setiap melintas di depan rumah. Dengan baju yang kuyup, rambut
acak-acakan, mata kami beradu. Aku melihat bibirnya komat-kamit. Dan aku
mendesis pilu, “Sungguh kasihan kamu Nek,, semoga sehat selalu yaa.”
**
Suatu malam sepulang kerja aku mampir ke
rumah teman bersama suami. Di sela-sela waktu berbincang aku mendengar suara
burung hantu. Aku menelisik daerah sekitar aku duduk di teras, tapi tidak
kutemukan pertanda ada sangkar burung hantu.
“Ri, di dekat sini apa ada tetangga yang
memelihara burung hantu?” tanyaku.
“Tidak ada Na, kenapa?”
“Engga, apa-apa. Tapi kamu dengar suara
burung hantu ga?”
“Engga,”
Aku terdiam. Aneh, mungkin aku cuma
terhalusinasi. Aku kembali asyik berbincang dengan Rika dan suamiku
Suatu ketika, Rika masuk ke dalam lagi
untuk mengambil cemilan dan suamiku sibuk mengotak-atik ponsel. Dan telingaku
kembali menangkap kicau burung hantu, “UHu. uhu. Uhu.”
Aku diam saja sambil terus berpikir, dimana
sumber suara itu. Kulihat jalanan yang sepi dan pintu-pintu pagar rumah sekitar
yang tertutup rapat. Ujungnya, aku menyerah. Biarkanlah suara malam itu
menyapaku.
Hampir tengah malam, motor suami yang membonceng diriku baru saja
memasuki gang arah kontrakan kami tinggal. Dari kejauhan kulihat ada kerumunan
di dekat rumah. Ya, ada tenda terpal dengan penerang lampu LED. Sejumlah bapak-bapak
duduk berjajar di kursi yang tertata rapi.
“Nampaknya ada yang meninggal, Aa,” ucapku setengah penasaran, siapa gerangan yang telah
berpulang.
Benar saja, ada tetangga dekat rumah
kontrakan kami lah yang meninggal. Suamiku menyapa bapak-bapak itu dan mendapat
kabar bila ibunda Pak Parto yang telah berpulang ke Rahmatullah.
“Innalilahi
wa Inna ilaihi rojiun..nenek renta itu akhirnya berpulang. Apa ini ada kaitan
dengan suara burung hantu misterius ? Entahlah,”
Aku sempat berpikir, mungkin suara burung
hantu misterius itu adalah pertanda nenek renta itu berpamitan kepadaku, seorang tetangga baru
yang hanya bisa melihat dalam diam penderitaan yang Ia alami. Ya, bisa saja, tapi bisa juga tidak ada
hubungannya.
Karna sebetulnya aku tidak memiliki telepati yang tajam dalam hal
ghoib.
Mata yang sudah sayu dan tubuh terasa
lelah, berusaha kukuatkan. Aku segera mengambil air wudhlu, mengenakan mukena
dan bertandang melayat nenek renta. Dihadapan jenazahnya, kulantunkan ayat-ayat
suci dengan harapan sebagai bekal sang nenek menghadap Illahi.
Aku segera pulang dan tidak ingin
berbincang lebih dalam dengan ibu gendut dan keluarganya. Hanya sekedar
basa-basi saja, karena batinku terlalu sakit dan kecewa melihat perlakuan
mereka kepada nenek renta.
Hatiku sedih dan merasa kehilangan, meski
aku tidak mengenal nenek renta tetanggaku itu. Hanya panjatan do’a yang bisa
kuhadiahkan. Harapanku nenek itu sekarang telah tenang di alam baka dan tidak
perlu lagi merasakan siksaan anak menantunya sepanjang hari. Kadang aku masih
sedih kalau mengenang kisah semasa hidupnya.
**
Sudah setahun lebih aku pindah kontrakan ke
arah, lebih jauh dari tempat tinggal Bu Gendut.
Sikapnya yang kasar, membuatku menarik diri. Aku cuma sekedar menyapa bila
kebetulan berpapasan saat lewat di depan rumahnya.
Aku hampir lupa, bila beberapa bulan
terakhir tidak kujumpai Bu Gendut di depan rumah. Pintu rumah Pak Parto juga selalu tertutup rapat.
Hanya beberapa kali kulihat Pak Parto duduk mencari angin di teras.
Tanpa sengaja, aku akhirnya mendengar bila
Bu Gendut hampir sebulan dirawat di rumah sakit. Aku dan suami sudah berencana
menengoknya. Tapi rupanya, Bu Gendut sudah diijinkan pulang oleh dokter lebih
dulu sebelum kami bertandang ke rumah sakit.
Bu Gendut mengalami struk cukup parah dan
berakibat pada kelumpuhan. Dia tak bisa lagi jalan-jalan sebebas dulu. Kini
tubuhnya harus ditopang kursi roda, kemanapun dia pergi.
Saat aku berkunjung ke rumahnya, ada binar
kesedihan yang tersemburat dari mata Bu Gendut. Berulang kali dia mohon
dido’akan agar bisa sehat sehat seperti sedia kala. Aku tersenyum pahit.
Suatu pagi, aku sungguh kaget bukan
kepalang, melihat kejadian di depan mata. Di kala aku kebetulan lewat depan
rumah Pak Parto, kulihat Bu Gendut duduk ngaprak di lantai ruang tamu dengan tubuh hampir telanjang dan
bajunya basah.
Di sebelahnya ada Neni, anak perempuan Pak
Parto. Dia mengomel
dan mengacung-acungkan sapu lidi.
Sepertinya Neni kesal dan tidak telaten memandikan ibunya yang lumpuh.
Bu Gendut pun terlihat pasrah, ketika Neni ngomel-ngomel dan
menyiramkan air dari ember. Mungkin
dia sedang mengenang perlakuan kasarnya kepada ibu mertua.
Nampaknya, prilaku Bu Gendut saat mengurus
mertua dengan semena-mena dan kasar,
ditiru Neni. Persis sekali. Neni kerap membentak-bentak
dan mengguyurkan air saat ibunya mandi di ruang tamu. Semua itu berlangsung
hingga akhirnya Bu Gendut menutup mata selamanya.
Ya, apa yang kita tanam
akhirnya itu pula lah yang kita tuai.