Senin, 05 Februari 2018

Wangi Misterius


“Coba misalnya semua anak-anak ibu patungan tiap bulan. Kalau dikumpulkan setahun, keluarga kita bisa beli kambing kurban,”ucap ibu mertua saat menjelang Idul Adha.

Semua anak-anak, termasuk aku sebagai anak menantu hanya terdiam. Diantara kami saling melihat tapi tidak bersuara.

Pandanganku beradu dengan Mei, adik ipar. Seolah kami saling berbicara dalam hati, usul ibu tidak baik untuk disanggah, tetapi terasa berat untuk dilaksanakan. Kondisi ekonomi kami pas-pasan. 

Jangankan menyisihkan tabungan untuk berkurban. Menyangga perekonomian orang tua saja, terkadang masih belum cukup.

Sebagai menantu, kerap kali tidak tega hanya memberi jatah Rp 500 ribu per bulan. Tapi apa boleh buat, hanya itu yang bisa aku lakukan. Semestinya siy, adik-adik suamiku ada tiga orang  yang harusnya bisa membantu meringankan beban orang tua. Namun entahlah, kondisi ekonomi mereka juga tidak terlalu kuat. Sehingga mereka pun membantu ala kadarnya.
Sering kali dalam hati, aku pun berdo’a,”semoga mertuaku dijauhkan dari kelaparan dan kekurangan.”

Permintaan, ibu mertua menabung seribu rupiah per hari untuk membeli hewan qurban, sekilas tidak berlebihan. Tapi entah mengapa, dalam hati aku seperti tercekik dan terbebani. Terlebih kalau hanya keluargaku yang menabung. Berapa lama aku harus menabung?

Hatiku gundah. Di sisi lain aku juga tidak mau kalah dengan mbok pemulung gelas plastik yang berhasil membeli hewan qurban dari hasil tabungan beberapa tahun. Masa aku seorang karyawan, tidak bisa melakukannya. Ah, aku malu membaca berita itu di media massa.

Keinginanku membeli hewan qurban, juga didorong oleh teman sejawat, Mbak Jen yang taat beribadah. Mbak Jen, bilang bila selama hidup, sebagai muslim wajib berqurban.

“Bohong lah, kalau kamu ini tidak mampu. Kredit motor sampai belasan juta saja bisa. Kenapa beli kambing qurban dua juta saja tidak mampu?” ujar Mbak Jen, suatu ketika. “Semua itu tinggal kemauan saja. Mau atau tidak?”

Kata-kata Mbak Jen, bagaikan menyihir kesadaranku. Tanpa mencari landasan hukum dalam Al Qur’an dan hadist, aku mulai terbersit keinginan untuk berqurban. Setahuku, semua muslim yang mampu secara ekonomi, wajib berqurban untuk saling berbagi.

Cetusan ide ibu mertua seolah menjadi titik terang guna mewujudkan keinginanku. Ya, aku harus berqurban, sebelum ajal menjemput.

Aku pun berencana, sebelum membelikan hewan qurban untuk mertua,  terlebih dulu aku menabung untuk aku dan suamiku. Bila berhasil, barulah aku menabung buat mertua.

Suatu siang, aku membeli celengan plastik berbentuk penyu warna merah dari abang-abang penjual perabotan yang kebetulan lewat di depan rumah kontrakan. Bentuknya lucu, dan kurasa cukup besar untuk menampung uang sisa belanja. Warnah merah, bagiku adalah semangat yang menyala.

Pertama, aku mulai memasukkan uang 50 ribu rupiah. Bukan lembaran seribu rupiah seperti ide ibu mertua. Pikirku, bila setiap minggu aku berhasil menyisihkan 50 ribu maka akhir tahun bakal terkumpul uang dua jutaan rupiah. Pastilah seekor kambing gemuk bisa kubeli untuk berqurban.

Aku tersenyum sendiri saat memasukkan lembaran demi lembaran uang setiap minggu. Bayangan, berqurban dengan kambing gemuk, sudah di depan mata.

“Penyu, akhir tahun nanti kamu akan berubah jadi kambing ya..hihihi,” kataku sambil menepuk-nepuk celengan penyu.

Bulan pertama aku lancar menabung. Bulan kedua, aku juga masih lancar menabung. Hatiku makin senang.

Harapanku di bulan ketiga juga sama. Namun, aku mulai dilanda kecemasan, karena ada pengeluaran mendadak yang tidak bisa terhindarkan. Aku harus merelakan tidak mengisi celengan. Mungkin Allah, sedang menguji kesabaran, pikirku.

Syukurlah di bulan keempat, aku bisa mengisi celengan lagi dengan rutin. Bahkan terkadang aku lebihkan, demi mengejar kekosongan bulan kemarin.

Pertengahan bulan kelima, aku masih bersabar dikala tak sanggup lagi menyisihkan uang. Ada keluarga yang sakit dan butuh pertolongan, sehingga pengeluaran tak terduga membengkak.

Kesabaranku seolah kian diuji, sebab pada bulan kelima juga, kondisi ekonomi keluargaku parah. Stok keuanganku sudah habis sebelum waktu gajian tiba. Kuhitung, masih harus bertahan sepuluh hari lagi.Aku mau pinjam uang ke tetangga, rasanya malu. Takut jadi bahan omongan. Sementara usaha suamiku meminjam uang ke koleganya juga kandas.

Kupandangi celengan penyu merah dengan sedih. Beberapa kali aku memohon ampun kepada Allah SWT, karena hendak menggunakan uang yang niat awalnya untuk berqurban.

“Ya, Allah ijinkan aku meminjam uang qurban yaa..?” pintaku dalam hati sebelum mencukil selembar uang 50 ribuan dari dalam celengan.

Sebagai penanda, aku menuliskan jumlah hutangku pada secarik kertas dan kutempel di samping lemari, tempat aku menaruh celengan penyu.“Insya Allah, aku pasti akan ganti hutang-hutangku ini,” tekadku.

Setelah mengambil uang itu, entah mengapa. Di bulan-bulan berikutnya aku merasa seperti orang tertatih-tahih untuk menyisihkan uang berqurban. Kadang bisa menyisihkan uang, tetapi lebih seringnya aku justru meminjam uang dari celengan penyu.

Batinku  mulai frustasi. Sebulan menjelang Idul Adha, aku tidak berhasil mengumpulkan uang untuk berqurban. Rasanya aku ingin menangis saja, saat membayangkan kegagalan membeli kambing qurban.

Aku berpikir, bila uang celengan penyu selama ini digunakan untuk biaya kehidupan aku dan suami, maka suamiku juga wajib mengganti hutang dari celengan penyu.

“Aa, lihatlah.  Uang celengan penyu yang sudah kita pakai ada uang 1,6 juta,”kataku sembari menunjukkan coretan catatan hutang. “Suatu saat nanti, kita ganti ya. Karena kita ini berhutang pada Allah lho. Harus diganti Aa.”

Suamiku hanya diam dan menganggukkan kepala. Entah apa yang ada di dalam benaknya. Kadang aku berasumsi, dia tidak antusias untuk mengganti. Tapi semoga saja asumsiku salah!

Sudah kuduga, tahun ini aku gagal berqurban. Yah, hatiku terasa hampa karena impian untuk turut berqurban telah gagal total. Berulang kali aku coba menegarkan diri dan bangkit dari rasa sedih. Perlahan kulatih diriku untuk mengikhlaskan cita-cita yang kandas. Karena faktanya, memang kondisi keuanganku sedang sesak dan sekarat.

Celengan penyu merah sekalian kukosongi dan jumlah uang yang kupakai kutuliskan dicatatan hutang. Jumlah hutang kutebali dengan spidol. Suatu saat nanti harus kuganti!

***

Fajar 10 Dzulhijah, mulai menyingsing. Gema takbir menyambut Hari Raya Idul Adha terdengar sayup-sayup. Motorku sudah melaju di jalan beraspal menuju kantor. Aku berencana, sholat Id di sela-sela waktu liputan.

Pagi ini, timku ditugasi meliput kegiatan Ayu Ting Ting sekeluarga merayakan Idul Adha. Mulai dari persiapan sholat, sampai memotong hewan qurban.

Sama seperti tahun lalu, aku juga mendapat tugas meliput Ayu Ting Ting di kala lebaran haji. Tak apa lah.  Penting, aku masih bisa ikut sholat Id, di kala campers-ku bekerja mengambil gambar.  Hemm kasihan juga ya, campers tidak bisa ikutan sholat. Tapi untungnya penugasan buat mereka selalu digilir.

Motorku masih menderu di atas aspal. Maklumlah, aku perlu waktu sekitar satu jam untuk mencapai kantor. Demi menghibur diri karena bekerja di saat lebaran, aku bersenandung lirih  takbir di sepanjang jalan, “Allahu Akbar Allahu Akbar Laa ila ha illah  Allahu Akbar.” Dan pikiranku mulai melayang.

Aku terbayang, tepat di hari ini sekira 1436 tahun yang lalu, Nabi Ibrahim menyembelih Nabi Ismail, anak kesayangannya atas nama perintah Allah SWT melalui mimpi. Nabi Ismail tentu bukan sosok anak yang nakal. Dia anak yang baik, cakap, sangat patuh pada orang tua dan Tuhannya.

Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan yang berkecamuk dalam diri Nabi Ibrahim dan istrinya disaat mereka harus merelakan kehilangan anak kesayangan. Lebih perih lagi, kehilangan anak yang paling dicintai itu lewat tangannya sendiri yang memegang pisau tajam.

Ya, Allah. Betapa remuk redamnya perasaan beliau. Tapi Nabi Ibrahim SA, istri dan anaknya pasrah. Mereka ikhlas terhadap perintah Allah SWT yang begitu berat.

Bagaimana bila aku yang mendapat tugas seperti itu melalui mimpi untuk membunuh anakku sendiri? Ya, Allah..rasanya aku belum sanggup melakukannya. Pastinya batinku akan berteriak, meronta dan mengaduh. Jangankan sengaja melukai, melihat anak sakit saja rasanya tidak tega.

Hatiku trenyuh. Tak terasa air mataku meleleh. Aku begitu takjub dengan ketabahan keluarga Nabi Ibrahim dalam menjalankan perintah Allah SWT. Mereka yakin sekali bahwa Allah Maha Adil dan Maha Penyayang. Keyakinan mereka pun langsung terjawab. Nabi Ibrahim tidak jadi kehilangan putra kesayangannya Nabi Ismail. Mereka terpekik bahagia dan sujud syukur karena bukan Nabi Ismail yang disembelih. Tetapi seekor domba gemuk lah yang terpotong oleh tangan Nabi Ibrahim. Dagingnya dibagi-bagikan kepada tetangga sekitar sebagai bentuk shodaqoh.

Hari itu seolah mata hatiku terbuka. Inti pesan Idul Adha adalah keikhlasan. Keikhlasan dalam menerima apapun yang telah Allah SWT perintahkan dan berikan. Ikhlas menjalankan perintah-Nya untuk sholat, puasa dan berzakat. Ikhlas bila ada barang kita rusak, hilang, teman kita pergi, orang terdekat kita berpulang. Ikhlas menjalani hidup dengan penuh syukur.

Ya Allah, hari ini aku sangat malu sekali. Rasa ikhlasku selama ini, ibaratnya tak ada seujung kuku pun dibanding Nabi Ibrahim. Aku makin menangis di atas laju motor. Menangisi diri sendiri yang begitu terbelit silau kepemilikan duniawi.

“Qurban itu bukan sekedar memotong hewan qurban, Rara.  Kau tak berhasil menabung dan membeli hewan qurban, itu tidak masalah. Tak perlu kau memaksakan diri. Intinya kau harus sadar, dan memahami esensi dari perayaan Idul Adha itu sendiri. Ikhlas ya harus iklhas. Ikhlas adalah pelajaran tertinggi dalam Islam. Dan kau harus belajar ikhlas,” kudengar suara hati nuraniku begitu jernih dan aku tersenyum. Kubersitkan hidung, kusapu air mata dengan kain penutup hidung.

Sebentar lagi sampai kantor, aku tidak boleh kelihatan habis menangis. Seakan telah mendapat pencerahan hati, mulutku mulai bersuara lirih menggemakan takbir, “Allahu Akbar Allahu Akbar Laa ila ha illah  Allahu Akbar.” Hatiku lapang dan bahagia.

Ketika motor yang kukendarai mulai sering kurem karena lalu lalang orang di jalanan sekitar pasar, aku mencium bau sangat harum. Ya, Allah.. ini mirip aroma minyak wangi paling bagus yang dihadiahkan kepadaku waktu umroh dan berkunjung di Madinah beberapa tahun lalu. Aku menyebutnya wangi Madinah.

Aku sangat bahagia bisa mencium aroma wangi itu lagi. Ingatanku langsung melayang pada suasana sekitar Masjid Nabawi di pagi hari.

Kukedipkan mata agar aku kembali konsentrasi pada jalanan yang hiruk pikuk. “Hemm kayaknya ada toko minyak wangi yang sedang mencampur minyak wangi niy. Menyengat banget aromanya,”pikirku penasaran. Tapi sepanjang jalan ini, setahuku  tidak ada satu pun toko minyak wangi.

Dugaan lainnya, minyak wangi itu dipakai seseorang pengunjung pasar yang sedang berkendara di depanku, sehingga wanginya bertebaran tertiup angin.  Karena itu aku sengaja menyalip beberapa orang, demi meyakinkan diri bila memang ada seseorang yang telah memakai minyak wangi secara berlebihan.

Payahnya, aku tidak berhasil menemukan seorang pun yang diduga telah menebarkan wangi.  Hatiku kecut dan kecewa, karena rasa penasaranku tidak terobati.

Selebihnya, aku senang telah mencium aroma wangi itu. Wangi khas Kota Madinah Al Wahdaniah yang damai, ramah dan dekat dengan Rosullullah. Bagiku di sana masih ada Rosullulah, bukan sekedar makamnya. Tapi Rosullullah benar hadir dan selalu menjawab salam umatnya dengan teduh melalui hati. Oh, Madinah..aku rindu berkunjung ke sana lagi.

Aku mulai melupakan siapa sosok pemakai minyak wangi yang telah berhasil menerbangkan anganku pada kedamaian kota suci umat muslim. Pasalnya, di depanku yang lalu lalang adalah bapak-bapak kuli angkut yang penuh peluh, menggotong karung isi dagangan. Ada juga nenek-nenek yang terkantuk-kantuk menjaga dagangan buah dari semalam. Mana mungkin mereka memakai minyak wangi mahal.

Sudah lupakanlah, sergahku. Pikiranku harus penuh konsentrasi mengendarai motor di antara riuhnya penghuni pasar yang lalu lalang di jalanan. Sebelum pukul tujuh pagi, para pedagang sayuran memang meluber di pinggir jalan dan tentu saja menimbulkan kemacetan yang parah.

Kini pikiranku cuma satu. Segera melewati kesumpekan jalanan pasar dan mencapai kantor guna bersiap liputan Ayu Ting Ting.

Saat pikiranku fokus di jalanan, otakku kembali tersentak. Aku mencium lagi aroma wangi Madinah. Kutengok kanan dan kiri, hanya ada bapak-bapak kuli angkut. Oh, My God! Apakah ini aroma yang dikirim Allah melalui malaikatnya, untuk menghiburku karena aku baru saja mengerti dan memahami makna Idul Adha?

Tapi pantaskah aku mendapat hadiah dari Allah? Hamba yang masih jauh dari sempurna dalam ibadah ini bisa mendapat hadiah? Jangan-jangan memang ada seseorang pengunjung pasar yang memakai minyak wangi itu, namun tak berhasil kutemukan.
Entahlah, dari mana sumber wangi Madinah itu. Aku tak perduli lagi, tapi aku bahagia sekali.













Jumat, 02 Februari 2018

Karma Itu Ada


Sinar matahari baru saja menembus celah-celah jendela. Bias cahayanya menyelusup masuk ke sela-sela tirai, seolah ingin menyampaikan kabar, hari sudah pagi dan kehidupan segera dimulai.

Aku bersama suami, baru saja pindah ke tempat ini beberapa waktu lalu. Tinggal di salah satu kontrakan di pemukiman padat di sudut Jakarta Utara. Tentu saja, aku belum mengenal detail siapa tetangga kanan-kiriku. Karena hariku habis diburu waktu antara menyelesaikan pekerjaan kantor dan perjalanan.

Bayangkan, aku tinggal di Jakarta Utara hampir dekat laut, sementara aku bekerja di Jakarta Barat.  Aku butuh waktu sekitar 3 jam untuk perjalanan pulang pergi setiap hari. Maklum lah kami sengaja mencari tempat berteduh yang murah di celah Ibu Kota.
Dan, di pagi yang mulai sibuk ini, tiba-tiba terdengar teriakan dan makian dari rumah  sebelah.  

“Mandi sendiri saja tidak becuus.. tidak bersiiih!! Ini rasakan, kusiram saja..!!!!!,” teriaknya memekakkan telinga.

Aduh, galak banget orang ini, keluhku. Mood ku langsung berantakan mendengar makian nyaring bagai terompet murahan yang memekakkan telinga.

Tapi aku belajar menahan diri. Kutelan ludah dan berusaha mengelus dada. Kucoba berpikiran positif. Ga pa pa lah kalau sekedar berteriak pada anaknya. Biarpun sebetulnya telingaku ini sakit sekali mendengarnya suara melengking itu.

Ruteku berangkat kerjaku memang melewati rumah sumber kegaduhan. Mataku sengaja mencuri pandang saat melintas. Dalam hati ingin tahu, seperti apa gerangan manusia yang tak tahu sopan dan teriak-teriak di pagi hari. Atau bocah macam apa yang tidak bisa mandi sendiri.

Astaga naga, aku sungguh terperanjat bukan kepalang. Diluar dugaan, bukan bocah yang habis mandi atau emak-emak pengomel yang kulihat. Tatapan mataku tersangkut pada seorang nenek renta.

Kulihat nenek renta berpakaian seadanya, duduk ngaprak di lantai dengan pasrah diantara genangan air di lantai ruang tamu. Tatapannya kosong saat melihat aku melintas. Rambutnya basah terurai acak-acakan. Baju kumal yang dipakainya pun melekat basah. Dia tak berdaya. Hanya mulutnya komat-kamit tanpa suara saat mata kami beradu. Duh, Gusti..!!

Di sepanjang jalan aku termangu. Mengapa seorang wanita bisa begitu kejam kepada orang tua yang renta? Sungguh, menyedihkan.

Seminggu kemudian, tanpa sengaja aku mendengar gunjingan dari tetangga. Mereka sebetulnya juga resah dengan prilaku Bu Gendut yang semena-mena terhadap ibu mertuanya. Tapi apalah daya dan kekuatan dari tetangga, bila suami Bu Gendut saja juga tak mampu menaklukkan istrinya yang beringas.

Pak Marto, suami Bu Gendut seolah tutup mata terhadap penderitaan yang dialami ibunya. Pak Marto tidak punya taring dan nyali di hadapan istri. Sehingga dia tidak bisa membela perlakuan kasar istri terhadap ibunya yang renta dan lemah. Aduh !!

Hemm.. atau apakah mereka berdua selalu berusaha agar nenek renta itu segera menemui ajal? Sehingga seolah sepakat memperlakukan kasar nenek renta setiap pagi ? Entahlah.

Aku pun tak punya daya mencampuri urusan mereka. Selain aku orang baru yang belum akrab, aku juga tak punya banyak waktu bercakap-cakap dengan tetangga. Waktuku habis tergilas riuh dan padatnya pekerjaan. Setiap pulang aku hanya butuh waktu beristirahat sejenak. Lalu berkubang lagi dengan pekerjaan di kantor.

Cuma saja, hatiku selalu miris, tiap kali mendengar teriakan dan makian setiap pagi. Tetapi apalah daya, aku juga tak punya kekuatan menghentikan makian tak berguna itu. Puih.

Aku cuma bisa menatap nenek itu setiap melintas di depan rumah. Dengan baju yang kuyup, rambut acak-acakan, mata kami beradu. Aku melihat bibirnya komat-kamit. Dan aku mendesis pilu, “Sungguh kasihan kamu Nek,, semoga sehat selalu yaa.”

**
Suatu malam sepulang kerja aku mampir ke rumah teman bersama suami. Di sela-sela waktu berbincang aku mendengar suara burung hantu. Aku menelisik daerah sekitar aku duduk di teras, tapi tidak kutemukan pertanda ada sangkar burung hantu.

“Ri, di dekat sini apa ada tetangga yang memelihara burung hantu?” tanyaku.

“Tidak ada Na, kenapa?”

“Engga, apa-apa. Tapi kamu dengar suara burung hantu ga?”

“Engga,”

Aku terdiam. Aneh, mungkin aku cuma terhalusinasi. Aku kembali asyik berbincang dengan Rika dan suamiku

Suatu ketika, Rika masuk ke dalam lagi untuk mengambil cemilan dan suamiku sibuk mengotak-atik ponsel. Dan telingaku kembali menangkap kicau burung hantu, “UHu. uhu. Uhu.”

Aku diam saja sambil terus berpikir, dimana sumber suara itu. Kulihat jalanan yang sepi dan pintu-pintu pagar rumah sekitar yang tertutup rapat. Ujungnya, aku menyerah. Biarkanlah suara malam itu menyapaku.

Hampir tengah malam,  motor suami yang membonceng diriku baru saja memasuki gang arah kontrakan kami tinggal. Dari kejauhan kulihat ada kerumunan di dekat rumah. Ya, ada tenda terpal dengan penerang lampu LED. Sejumlah bapak-bapak duduk berjajar di kursi yang tertata rapi.

“Nampaknya ada yang meninggal, Aa,” ucapku setengah penasaran, siapa gerangan yang telah berpulang.

Benar saja, ada tetangga dekat rumah kontrakan kami lah yang meninggal. Suamiku menyapa bapak-bapak itu dan mendapat kabar bila ibunda Pak Parto yang telah berpulang ke Rahmatullah.

“Innalilahi wa Inna ilaihi rojiun..nenek renta itu akhirnya berpulang. Apa ini ada kaitan dengan suara burung hantu misterius ? Entahlah,”

Aku sempat berpikir, mungkin suara burung hantu misterius itu adalah pertanda nenek renta itu  berpamitan kepadaku, seorang tetangga baru yang hanya bisa melihat dalam diam penderitaan yang Ia alami.  Ya, bisa saja, tapi bisa juga tidak ada hubungannya. 

Karna sebetulnya aku tidak memiliki telepati yang tajam dalam hal ghoib.
Mata yang sudah sayu dan tubuh terasa lelah, berusaha kukuatkan. Aku segera mengambil air wudhlu, mengenakan mukena dan bertandang melayat nenek renta. Dihadapan jenazahnya, kulantunkan ayat-ayat suci dengan harapan sebagai bekal sang nenek menghadap Illahi.

Aku segera pulang dan tidak ingin berbincang lebih dalam dengan ibu gendut dan keluarganya. Hanya sekedar basa-basi saja, karena batinku terlalu sakit dan kecewa melihat perlakuan mereka kepada nenek renta.

Hatiku sedih dan merasa kehilangan, meski aku tidak mengenal nenek renta tetanggaku itu. Hanya panjatan do’a yang bisa kuhadiahkan. Harapanku nenek itu sekarang telah tenang di alam baka dan tidak perlu lagi merasakan siksaan anak menantunya sepanjang hari. Kadang aku masih sedih kalau mengenang kisah semasa hidupnya.

**
Sudah setahun lebih aku pindah kontrakan ke arah, lebih jauh dari tempat tinggal Bu Gendut. Sikapnya yang kasar, membuatku menarik diri. Aku cuma sekedar menyapa bila kebetulan berpapasan saat lewat di depan rumahnya.

Aku hampir lupa, bila beberapa bulan terakhir tidak kujumpai Bu Gendut di depan rumah. Pintu rumah Pak Parto juga selalu tertutup rapat. Hanya beberapa kali kulihat Pak Parto duduk mencari angin di teras.

Tanpa sengaja, aku akhirnya mendengar bila Bu Gendut hampir sebulan dirawat di rumah sakit. Aku dan suami sudah berencana menengoknya. Tapi rupanya, Bu Gendut sudah diijinkan pulang oleh dokter lebih dulu sebelum kami bertandang ke rumah sakit.

Bu Gendut mengalami struk cukup parah dan berakibat pada kelumpuhan. Dia tak bisa lagi jalan-jalan sebebas dulu. Kini tubuhnya harus ditopang kursi roda, kemanapun dia pergi.

Saat aku berkunjung ke rumahnya, ada binar kesedihan yang tersemburat dari mata Bu Gendut. Berulang kali dia mohon dido’akan agar bisa sehat sehat seperti sedia kala. Aku tersenyum pahit.

Suatu pagi, aku sungguh kaget bukan kepalang, melihat kejadian di depan mata. Di kala aku kebetulan lewat depan rumah Pak Parto, kulihat Bu Gendut duduk ngaprak di lantai  ruang tamu dengan tubuh hampir telanjang dan bajunya basah.

Di sebelahnya ada Neni, anak perempuan Pak Parto. Dia mengomel dan mengacung-acungkan sapu lidi. Sepertinya Neni kesal dan tidak telaten memandikan ibunya yang lumpuh.

Bu Gendut pun terlihat pasrah, ketika Neni ngomel-ngomel dan menyiramkan air dari ember. Mungkin dia sedang mengenang perlakuan kasarnya kepada ibu mertua.

Nampaknya, prilaku Bu Gendut saat mengurus mertua dengan semena-mena dan kasar, ditiru Neni. Persis sekali. Neni kerap membentak-bentak dan mengguyurkan air saat ibunya mandi di ruang tamu. Semua itu berlangsung hingga akhirnya Bu Gendut menutup mata selamanya.


Ya, apa yang kita tanam akhirnya itu pula lah yang kita tuai.  

Kamis, 01 Februari 2018

Sirbel Yang Galau


                                                                       
Di sebuah taman rumah tumbuhlah tanaman daun sirih belanda atau Sirbel dan aneka bunga. Sejak berada di taman, tanaman daun sirih belanda sangat sedih. Wajahnya murung setiap hari.

Tanaman daun Sirbel merasa iri dengan aneka tanaman bunga yang ada di taman. Karena setiap tamu yang datang selalu memberi pujian kepada aneka bunga.

Dok. Istimewa

“Wah, indah sekali bunga anggrek bulannya. Putih bersih dan cantik,” ujar seorang tamu wanita.

 “Lihat mawar ini. Kelopaknya merah berseri-seri. Senang memandangi bunga-bunga di sini,”sahut tamu wanita yang lain.

Percakapan dua orang tamu itu membuat perasaan tanaman daun Sirbel tak enak hati. Dia merasa kehadirannya di taman itu tidak berguna bagi manusia. Seingatnya, belum pernah ada seorang tamu pun yang mau memuji dirinya.

Padahal Sirbel selalu berusaha tampil cantik. Daunnya yang berukuran sedang mirip daun sirih memiliki bercorak putih dan hijau muda. Tangkainya menjuntai di pot gantung dipenuhi oleh daun-daun yang segar.

“Huh..!! Seandainya aku menjadi bunga mawar. Aku akan selalu dapat pujian dari tamu yang datang,” keluhnya.

Mendengar keluhan itu bunga mawar tersenyum dan menenangkan Sirbel.

“Setiap tanaman itu punya kecantikan sendiri-sendiri. Aku terlihat cantik hanya kalau aku berbunga. Sedangkan kamu, selalu terlihat cantik meski tidak berbunga,”hibur bunga mawar.

“Tapi tak ada tamu yang mau memujiku. Aku benar-benar tidak berguna. Hiks..hiks..,”tangis Sirbel.

Sejak saat itu Sirbel malas-malasan makan. Akar-akarnya tidak mau menyerap air yang disiramkan tukang kebun.Lambat laun, daun-daun Sirbel mulai layu dan menguning, karena jarang makan.

Seluruh isi taman menjadi prihatin dengan kondisi daun Sirbel. Bunga mawar yang tumbuhnya berdekatan mencoba menghibur.

“Ayo, makanlah Sirbel. Kasihan daun-daunmu jadi  menguning dan tidak cantik lagi,”tutur bunga mawar.

Sirbel terdiam dan merenung. Hatinya sedih karena teringat pikiran bahwa kehadirannya di taman itu tidak berguna.

“Lebih baik aku tidak ada saja. Aku tidak berguna bagi manusia,” ratapnya.

Penghuni taman hanya bisa menggelengkan kepala. Mereka prihatin dengan kondisi Sirbel yang patah semangat.

Hingga suatu sore pemilik taman keheranan melihat kondisi daun-daun Sirbel yang layu dan menguning.

“Waduh.. Kenapa tanaman daun sirih belanda jadi layu begini?,” kata ibu pemilik taman.

“Apa beberapa hari ini Bapak lupa menyiramnya?” tanya ibu pemilik taman kepada Pak tukang kebun.

“Tidak. Saya selalu menyiramnya setiap sore Bu,” sahut Pak tukang kebun.

“Hemm..coba kita pindahkan ke tempat teduh, Pak,” pinta Ibu pemilik taman.

Dengan cekatan tukang kebun menurunkan pot gantung yang berisi tanaman Sirbel dan menaruh di pojok taman. Tali pot dilepas, beberapa pupuk kompos ditambahkan ke dalam pot dan diguyurkan air secukupnya.

 “Sayang sekali kalau Sirbel ini mati. Dia sangat berguna bagi kita, Pak,” ujar ibu pemilik taman.

“Apa manfaatnya, Bu? Bukankah dia hanya tanaman berdaun biasa saja?” tanya tukang kebun.

“Dia tanaman penolong manusia lho. Karena daun sirih belanda ini mampu menghisap racun udara dan membuat udara bersih kembali,” terang Ibu pemilik taman.

“Woww hebat sekali dia,” puji tukang kebun.

“Benar, Pak. Mudah-mudahan dia segar lagi. Nanti saya akan menanam Sirbel lebih banyak lagi di taman ini,” kata Ibu pemilik taman sambil menambahkan kucuran air ke daun Sirbel.


Sirbel kaget dan bercampur senang saat mendengar percakapan Ibu pemilik taman dan tukang kebun. Dalam hati Sirbel berjanji akan giat makan sehingga daun-daunnya segar kembali seperti sedia kala.