Kamis, 01 Februari 2018

Sirbel Yang Galau


                                                                       
Di sebuah taman rumah tumbuhlah tanaman daun sirih belanda atau Sirbel dan aneka bunga. Sejak berada di taman, tanaman daun sirih belanda sangat sedih. Wajahnya murung setiap hari.

Tanaman daun Sirbel merasa iri dengan aneka tanaman bunga yang ada di taman. Karena setiap tamu yang datang selalu memberi pujian kepada aneka bunga.

Dok. Istimewa

“Wah, indah sekali bunga anggrek bulannya. Putih bersih dan cantik,” ujar seorang tamu wanita.

 “Lihat mawar ini. Kelopaknya merah berseri-seri. Senang memandangi bunga-bunga di sini,”sahut tamu wanita yang lain.

Percakapan dua orang tamu itu membuat perasaan tanaman daun Sirbel tak enak hati. Dia merasa kehadirannya di taman itu tidak berguna bagi manusia. Seingatnya, belum pernah ada seorang tamu pun yang mau memuji dirinya.

Padahal Sirbel selalu berusaha tampil cantik. Daunnya yang berukuran sedang mirip daun sirih memiliki bercorak putih dan hijau muda. Tangkainya menjuntai di pot gantung dipenuhi oleh daun-daun yang segar.

“Huh..!! Seandainya aku menjadi bunga mawar. Aku akan selalu dapat pujian dari tamu yang datang,” keluhnya.

Mendengar keluhan itu bunga mawar tersenyum dan menenangkan Sirbel.

“Setiap tanaman itu punya kecantikan sendiri-sendiri. Aku terlihat cantik hanya kalau aku berbunga. Sedangkan kamu, selalu terlihat cantik meski tidak berbunga,”hibur bunga mawar.

“Tapi tak ada tamu yang mau memujiku. Aku benar-benar tidak berguna. Hiks..hiks..,”tangis Sirbel.

Sejak saat itu Sirbel malas-malasan makan. Akar-akarnya tidak mau menyerap air yang disiramkan tukang kebun.Lambat laun, daun-daun Sirbel mulai layu dan menguning, karena jarang makan.

Seluruh isi taman menjadi prihatin dengan kondisi daun Sirbel. Bunga mawar yang tumbuhnya berdekatan mencoba menghibur.

“Ayo, makanlah Sirbel. Kasihan daun-daunmu jadi  menguning dan tidak cantik lagi,”tutur bunga mawar.

Sirbel terdiam dan merenung. Hatinya sedih karena teringat pikiran bahwa kehadirannya di taman itu tidak berguna.

“Lebih baik aku tidak ada saja. Aku tidak berguna bagi manusia,” ratapnya.

Penghuni taman hanya bisa menggelengkan kepala. Mereka prihatin dengan kondisi Sirbel yang patah semangat.

Hingga suatu sore pemilik taman keheranan melihat kondisi daun-daun Sirbel yang layu dan menguning.

“Waduh.. Kenapa tanaman daun sirih belanda jadi layu begini?,” kata ibu pemilik taman.

“Apa beberapa hari ini Bapak lupa menyiramnya?” tanya ibu pemilik taman kepada Pak tukang kebun.

“Tidak. Saya selalu menyiramnya setiap sore Bu,” sahut Pak tukang kebun.

“Hemm..coba kita pindahkan ke tempat teduh, Pak,” pinta Ibu pemilik taman.

Dengan cekatan tukang kebun menurunkan pot gantung yang berisi tanaman Sirbel dan menaruh di pojok taman. Tali pot dilepas, beberapa pupuk kompos ditambahkan ke dalam pot dan diguyurkan air secukupnya.

 “Sayang sekali kalau Sirbel ini mati. Dia sangat berguna bagi kita, Pak,” ujar ibu pemilik taman.

“Apa manfaatnya, Bu? Bukankah dia hanya tanaman berdaun biasa saja?” tanya tukang kebun.

“Dia tanaman penolong manusia lho. Karena daun sirih belanda ini mampu menghisap racun udara dan membuat udara bersih kembali,” terang Ibu pemilik taman.

“Woww hebat sekali dia,” puji tukang kebun.

“Benar, Pak. Mudah-mudahan dia segar lagi. Nanti saya akan menanam Sirbel lebih banyak lagi di taman ini,” kata Ibu pemilik taman sambil menambahkan kucuran air ke daun Sirbel.


Sirbel kaget dan bercampur senang saat mendengar percakapan Ibu pemilik taman dan tukang kebun. Dalam hati Sirbel berjanji akan giat makan sehingga daun-daunnya segar kembali seperti sedia kala.