Cuplikan sebelumnya :
Al, Jo dan Ais adalah saudara sepupu. Bocah-bocah kecil
kelas 1 Sekolah Dasar itu sedang berlibur di rumah nenek yang ada di sebuah
desa di kaki bukit. Mereka bertiga ingin bermain ke sawah di pagi hari. Ketika
menyeberang jembatan kayu, Jo menghindari sengatan kumbang yang mengakibatkan
ketiganya terjebur ke sungai.
Lanjutan :
“Toloong...”
Al, Jo dan Ais berteriak sekencang-kencangnya lalu merasakan
tubuh mereka terbentur benda keras, dan pandangan menjadi gelap.
Al mulai mengerjap-ngerjapkan mata. Matanya sudah terbuka
tapi tidak bisa melihat apa-apa. Gelap.
Al terkejut ketika mendapati dirinya bersama dua sepupu, Jo
dan Ais terkurung di dalam sangkar besi yang besar.
“Jo,, Ais.. bangun. Kita terpenjara..!!” teriak Al ketakutan.
“Al.., dimana kita ? Apa kita baik-baik saja?. Hua..hua..”
Ais menangis ketakutan.
“Hah..kita terpenjara ? hua. Hua..” Jo ikutan menangis.
Mereka bertiga menangis hingga kelelahan dan akhirnya
terdiam.
Tak lama terdengar suara kaki melangkah terseret-seret. Ada
cahaya obor datang mendekat dan semakin mendekat.
Suara parau nenek-nenek menyapa Al bersaudara.
“Hai..anak-anak kecil yang manis. Kalian adalah
tawananku. Hihihihi..” suaranya
menggema menakutkan.
“Hah, kenapa kita ditawan ? Apa salah kita ? Ayo lepaskan
..Lepaskan !” protes Al mencoba untuk berani.
Mereka bertiga saling bergandengan menghalau rasa takut.
![]() |
| Dok. Istimewa |
“Haha.. tidak segampang itu.. Karena aku sudah susah-susah
mendapatkan kalian. Aku perlu memantra-mantrain kumbang agar kalian bisa jatuh.
Dan.. berhasil hahahaha...hihihihi..hahaha”
“Orang tua kalian, pasti mengira kalian sudah mati terbawa
arus..hahaha.. Dan tidak akan mencari kalian lagi.. hahahahah..hihihi..hahaha”
ujar Nenek Sihir penuh kemenangan.
Nenek sihir menyorongkan tiga buah gelas berisi air putih
dan semangkuk singkong rebus buat Al, Jo dan Ais. “Makanlah, sebelum hari
persembahan tiba..hahaha..hihihi..hahaha,”
Obor di sudut ruangan dinyalakan dan nenek sihir pun pergi.
Sinar obor remang-remang menerangi ruangan. Terlihat perabotan kuno, lemari,
kursi dan meja kayu.
Suasana hening disusul suara isak tangis Ais tertahan.
“Hiks..hiks sereem,, Jo, Al, hiks..hiks”
“Sudah ah, jangan bersedih,” sahut Jo menguatkan hati.
“Heeh,, gimana ga sedih Jo, kita tertawan di tempat seram
dan tidak tahu jalan keluar. Dan sebentar lagi kita akan dijadikan persembahan.
Artinya.. nenek itu mau menyakiti kita,”sahut Ais putus asa.
Tapi di saat semua hilang harapan, tiba-tiba mata Al melihat
sebuah jendela.
Aha,, di salah satu sisi ruangan ada jendela kecil yang
terbuka. Tetapi jendela itu sulit terjangkau, selain tinggi, posisi Al dan
sepupunya terkurung dalam sangkar terkunci.
“Ais, Jo, lihat itu
kunci penjara ini. Lihat.. kuncinya tergantung dekat pintu,”bisik Al.
Di kala suasana sepi dan nenek sihir pergi, tiba-tiba seekor
burung pipit hinggap di jendela.
“Cuit..cuit..cuit” seolah dia mengajak berbicara dengan tiga
bersaudara yang terpenjara di balik kurangan besi.
“Hei..kamu burung pipit yang kemarin itu ? Kemarilah..,”
seru Al.
Burung pipit terbang mendekat.
Tapi tiba-tiba pintu ruangan berderit terbuka diiringi
teriakan nyaring dan parau.
“Heiihh.. ada apa ribut-ribut? Waduh ini burung pipit
pengganggu. Hush. Sana pergi. Hush!” Nenek sihir mengayun-ayunkan tongkatnya
mengusir burung pipit.
Ketiga bersaudara itu sedih dan terduduk lemas, melihat
burung pipit diusir pergi.
“Kalian jangan coba-coba yaa, ngomong sama burung pipit!
Kalau melanggar tahu sendiri akibatnya.
Kalian akan kupukuli sampai benjol!!”ancam
nenek sihir sebelum meninggalkan ruangan.
Dalam hati ketiga bersaudara itu penasaran. Mengapa mereka
tidak boleh berbicara dengan burung pipit. Toh itu hanya sekedar burung kecil
yang lucu.
“Ais, Jo, aneh yaa. Mengapa kita tidak boleh berbicara pada
burung pipit tadi ?”
“Iya,, aneh,” sahut Ais.
“Mudah-mudahan saja burung pipit itu datang lagi, sehingga
kita tahu apa maksud nenek sihir,” ujar Jo.
“Iya tapi kita jangan bersuara berisik lagi yaa?”
Setelah letih menunggu, burung pipit tak kunjung tiba. Ketiga
bersaudara itu akhirnya jatuh tertidur.
Al setengah kaget ketika merasa ada yang mencubit-cubit
tangannya. Dia makin kaget lagi ketika tahu bahwa cubitan itu berasal dari
patukan burung pipit.
Tanpa bersuara, Al membangunkan Jo dan Ais dengan menggoyang-goyangkan
kaki.
“Huaam.. apa an siy Al” Jo dan Ais menggeliat.
“Sshh..dia datang. Burung pipit datang.. ssshh bangun,”
bisik Al
Ketiga bersaudara itu senang burung pipit yang
ditunggu-tunggu akhirnya muncul.
Sementara burung pipit tenang-tenang saja bertengger di
pundak Al. Dia menoleh, seolah memperhatikan ketiga bersaudara.
“Ini burung pipit yang kemarin datang di jendela rumah
nenek. Iya aku ingat betul, di bagian kepala ada bulu putihnya,” Al
mengelus-elus kepala burung pipit.
“Kamu haus yaa?” bisik Al.
Burung pipit mengangguk-angguk. "Aneh, burung pipit bisa mengerti bahasa manusia,"batin Al.
Ais menyorongkan tempat minum berisi air putih. Ups! Tapi
burung pipit malah keluar sangkar.
“Yah,, dia pergi,” Ais kecewa.
“Sini, coba taruh di luar saja tempat minumnya,”Al
menyarankan.
Wah, benar saja, ketika tempat minum itu ditaruh di luar
burung pipit segera meminum air putih dengan cepat. Rupanya dia sedang
kehausan.
Dan.. ketiga bersaudara itu makin kaget ketika seekor burung
pipit berubah menjadi seorang bocah sepantaran Al, Jo dan Ais.
“Haah,, kamu bisa berubah jadi manusia?” seru ketiganya
hampir bersamaan.
“Iyaa,, terima kasih banyak yaa. Kalian sudah melepaskan
kutukanku dari nenek sihir. Kalian sungguh baik hati. Namaku Banu, aku tinggal
tidak jauh dari sni. Awalnya aku juga terpeleset dari jembatan itu”
Al, Jo dan Ais saling berpandangan, betapa nenek sihir itu
amat jahat dan sesuka hatinya mengutuk
orang.
“Ayo sekarang kalian
lekas pergi dari sini. Dan kutunjukkan jalan keluar rahasia. Cepat buruan,
sebelum nenek sihir bangun,”seru Banu sembari membuka gembok kurungan besi.
“Aku bisa lepas kutukan bila ada manusia yang ikhlas
memberikan minuman kepadaku. Terima kasih ya.. terima kasih semuanya,”ujar Banu.
Ketiganya berpelukan dan bersuka cita.
“Kami juga berterima kasih telah kau bebaskan dari nenek
sihir,” sahut Al
“Iya, kami juga sangat berterima kasih,” tambah Ais dan Jo
girang.
Mereka berempat akhirnya keluar melalui lorong rahasia,
melewati pintu khusus di balik lemari.
Tentu saja Banu sudah tahu liku-liku
jalur keluar karena semenjak disihir jadi burung, dia sering mengikuti gerak
gerik nenek sihir.
Jalanan keluar berupa lorong dengan tangga tanah berundak-undak.
Banu memimpin jalan di depan. Dibelakangnya ada Al, Ais dan Jo. Mereka saling
berpegangan agar tidak terpeleset. Kanan-kirinya gelap dan licin. Ketiganya
sebetulnya takut melewati jalan ini, tapi harapan bebas dari cengkraman nenek
sihir telah mematikan rasa takut.
Mereka makin gembira ketika melihat ada sinar matahari,
pertanda lorong gelap itu telah berakhir.
Saking gembiranya Jo berjalan cepat
melewati Ais dan menubruk Al.
“Aduuh, Jo..hati-hatilah,” teriak Al.
Badan Al sakit terasa berdebam karena terantuk tanah.
Al makin kaget.. ketika membuka mata ternyata badannya
berada di samping tempat tidur.
Aih..rupanya semua hanya bunga tidur dan Al
terjatuh dari ranjang. Yah, ranjang kamar tidur di rumah nenek.
“Al.. ayo bangun sarapan sudah siap. Kalau kamu lambat nanti
ditinggal. Ais dan Jo sudah mau jalan-jalan ke sawah,” teriak Mama dari meja
makan.
“Ohhh tidaak mama..” teriak Al.
“Hahh, kenapa Al ? Kamu ngigau sampai terjatuh yaa ? hahahaha”
Mama geleng-geleng di depan pintu kamar
Jo dan Ais juga tertawa melihat kondisi Al yang terbelit selimut.
SELESAI
