Rabu, 25 April 2018

Jembatan Kayu 2


Cuplikan sebelumnya :

Al, Jo dan Ais adalah saudara sepupu. Bocah-bocah kecil kelas 1 Sekolah Dasar itu sedang berlibur di rumah nenek yang ada di sebuah desa di kaki bukit. Mereka bertiga ingin bermain ke sawah di pagi hari. Ketika menyeberang jembatan kayu, Jo menghindari sengatan kumbang yang mengakibatkan ketiganya terjebur ke sungai.


Lanjutan :

“Toloong...”

Al, Jo dan Ais berteriak sekencang-kencangnya lalu merasakan tubuh mereka terbentur benda keras, dan pandangan menjadi gelap.

Al mulai mengerjap-ngerjapkan mata. Matanya sudah terbuka tapi tidak bisa melihat apa-apa. Gelap.

Al terkejut ketika mendapati dirinya bersama dua sepupu, Jo dan Ais terkurung di dalam sangkar besi yang besar.

“Jo,, Ais.. bangun. Kita terpenjara..!!” teriak Al ketakutan.

“Al.., dimana kita ? Apa kita baik-baik saja?. Hua..hua..” Ais menangis ketakutan.

“Hah..kita terpenjara ? hua. Hua..” Jo ikutan menangis.

Mereka bertiga menangis hingga kelelahan dan akhirnya terdiam.

Tak lama terdengar suara kaki melangkah terseret-seret. Ada cahaya obor datang mendekat dan semakin mendekat.

Suara parau nenek-nenek menyapa Al bersaudara. “Hai..anak-anak kecil yang manis. Kalian adalah 
tawananku. Hihihihi..” suaranya menggema menakutkan.

“Hah, kenapa kita ditawan ? Apa salah kita ? Ayo lepaskan ..Lepaskan !” protes Al mencoba untuk berani.

Mereka bertiga saling bergandengan menghalau rasa takut.    
Dok. Istimewa


“Haha.. tidak segampang itu.. Karena aku sudah susah-susah mendapatkan kalian. Aku perlu memantra-mantrain kumbang agar kalian bisa jatuh. Dan.. berhasil hahahaha...hihihihi..hahaha”

“Orang tua kalian, pasti mengira kalian sudah mati terbawa arus..hahaha.. Dan tidak akan mencari kalian lagi.. hahahahah..hihihi..hahaha” ujar Nenek Sihir penuh kemenangan.

Nenek sihir menyorongkan tiga buah gelas berisi air putih dan semangkuk singkong rebus buat Al, Jo dan Ais. “Makanlah, sebelum hari persembahan tiba..hahaha..hihihi..hahaha,”

Obor di sudut ruangan dinyalakan dan nenek sihir pun pergi. Sinar obor remang-remang menerangi ruangan. Terlihat perabotan kuno, lemari, kursi dan meja kayu.

Suasana hening disusul suara isak tangis Ais tertahan. “Hiks..hiks sereem,, Jo, Al, hiks..hiks”

“Sudah ah, jangan bersedih,” sahut Jo menguatkan hati.

“Heeh,, gimana ga sedih Jo, kita tertawan di tempat seram dan tidak tahu jalan keluar. Dan sebentar lagi kita akan dijadikan persembahan. Artinya.. nenek itu mau menyakiti kita,”sahut Ais putus asa.

Tapi di saat semua hilang harapan, tiba-tiba mata Al melihat sebuah jendela.

Aha,, di salah satu sisi ruangan ada jendela kecil yang terbuka. Tetapi jendela itu sulit terjangkau, selain tinggi, posisi Al dan sepupunya terkurung dalam sangkar terkunci.

 “Ais, Jo, lihat itu kunci penjara ini. Lihat.. kuncinya tergantung dekat pintu,”bisik Al.  

Di kala suasana sepi dan nenek sihir pergi, tiba-tiba seekor burung pipit hinggap di jendela.

“Cuit..cuit..cuit” seolah dia mengajak berbicara dengan tiga bersaudara yang terpenjara di balik kurangan besi.

“Hei..kamu burung pipit yang kemarin itu ? Kemarilah..,” seru Al.

Burung pipit terbang mendekat.

Tapi tiba-tiba pintu ruangan berderit terbuka diiringi teriakan nyaring dan parau.

“Heiihh.. ada apa ribut-ribut? Waduh ini burung pipit pengganggu. Hush. Sana pergi. Hush!” Nenek sihir mengayun-ayunkan tongkatnya mengusir burung pipit.

Ketiga bersaudara itu sedih dan terduduk lemas, melihat burung pipit diusir pergi.

“Kalian jangan coba-coba yaa, ngomong sama burung pipit! Kalau melanggar tahu sendiri akibatnya. 
Kalian akan kupukuli sampai benjol!!”ancam nenek sihir sebelum meninggalkan ruangan.

Dalam hati ketiga bersaudara itu penasaran. Mengapa mereka tidak boleh berbicara dengan burung pipit. Toh itu hanya sekedar burung kecil yang lucu.

“Ais, Jo, aneh yaa. Mengapa kita tidak boleh berbicara pada burung pipit tadi ?”

“Iya,, aneh,” sahut Ais.

“Mudah-mudahan saja burung pipit itu datang lagi, sehingga kita tahu apa maksud nenek sihir,” ujar Jo.

“Iya tapi kita jangan bersuara berisik lagi yaa?”

Setelah letih menunggu, burung pipit tak kunjung tiba. Ketiga bersaudara itu akhirnya jatuh tertidur.

Al setengah kaget ketika merasa ada yang mencubit-cubit tangannya. Dia makin kaget lagi ketika tahu bahwa cubitan itu berasal dari patukan burung pipit.

Tanpa bersuara, Al membangunkan Jo dan Ais dengan menggoyang-goyangkan kaki.

“Huaam.. apa an siy Al” Jo dan Ais menggeliat.

“Sshh..dia datang. Burung pipit datang.. ssshh bangun,” bisik Al

Ketiga bersaudara itu senang burung pipit yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul.

Sementara burung pipit tenang-tenang saja bertengger di pundak Al. Dia menoleh, seolah memperhatikan ketiga bersaudara.

“Ini burung pipit yang kemarin datang di jendela rumah nenek. Iya aku ingat betul, di bagian kepala ada bulu putihnya,” Al mengelus-elus kepala burung pipit.

“Kamu haus yaa?” bisik Al.

Burung pipit mengangguk-angguk. "Aneh, burung pipit bisa mengerti bahasa manusia,"batin Al.


Ais menyorongkan tempat minum berisi air putih. Ups! Tapi burung pipit malah keluar sangkar.

“Yah,, dia pergi,” Ais kecewa.

“Sini, coba taruh di luar saja tempat minumnya,”Al menyarankan.

Wah, benar saja, ketika tempat minum itu ditaruh di luar burung pipit segera meminum air putih dengan cepat. Rupanya dia sedang kehausan.

Dan.. ketiga bersaudara itu makin kaget ketika seekor burung pipit berubah menjadi seorang bocah sepantaran Al, Jo dan Ais.

“Haah,, kamu bisa berubah jadi manusia?” seru ketiganya hampir bersamaan.

“Iyaa,, terima kasih banyak yaa. Kalian sudah melepaskan kutukanku dari nenek sihir. Kalian sungguh baik hati. Namaku Banu, aku tinggal tidak jauh dari sni. Awalnya aku juga terpeleset dari jembatan itu”

Al, Jo dan Ais saling berpandangan, betapa nenek sihir itu amat jahat dan sesuka hatinya mengutuk  orang.

 “Ayo sekarang kalian lekas pergi dari sini. Dan kutunjukkan jalan keluar rahasia. Cepat buruan, sebelum nenek sihir bangun,”seru Banu sembari membuka gembok kurungan besi.

“Aku bisa lepas kutukan bila ada manusia yang ikhlas memberikan minuman kepadaku. Terima kasih ya.. terima kasih semuanya,”ujar Banu.

Ketiganya berpelukan dan bersuka cita.

“Kami juga berterima kasih telah kau bebaskan dari nenek sihir,” sahut Al

“Iya, kami juga sangat berterima kasih,” tambah Ais dan Jo girang.

Mereka berempat akhirnya keluar melalui lorong rahasia, melewati pintu khusus di balik lemari. 

Tentu saja Banu sudah tahu liku-liku jalur keluar karena semenjak disihir jadi burung, dia sering mengikuti gerak gerik nenek sihir.

Jalanan keluar berupa lorong dengan tangga tanah berundak-undak. Banu memimpin jalan di depan. Dibelakangnya ada Al, Ais dan Jo. Mereka saling berpegangan agar tidak terpeleset. Kanan-kirinya gelap dan licin. Ketiganya sebetulnya takut melewati jalan ini, tapi harapan bebas dari cengkraman nenek sihir telah mematikan rasa takut.

Mereka makin gembira ketika melihat ada sinar matahari, pertanda lorong gelap itu telah berakhir. 
Saking gembiranya Jo berjalan cepat melewati Ais dan menubruk Al.

“Aduuh, Jo..hati-hatilah,” teriak Al.

Badan Al sakit terasa berdebam karena terantuk tanah.

Al makin kaget.. ketika membuka mata ternyata badannya berada di samping tempat tidur. 

Aih..rupanya semua hanya bunga tidur dan Al terjatuh dari ranjang. Yah, ranjang kamar tidur di rumah nenek.

“Al.. ayo bangun sarapan sudah siap. Kalau kamu lambat nanti ditinggal. Ais dan Jo sudah mau jalan-jalan ke sawah,” teriak Mama dari meja makan.

“Ohhh tidaak mama..” teriak Al.

“Hahh, kenapa Al ? Kamu ngigau sampai terjatuh yaa ? hahahaha” Mama geleng-geleng di depan pintu kamar


Jo dan Ais juga tertawa melihat kondisi Al yang terbelit selimut.

SELESAI