Di sebuah taman rumah tumbuhlah tanaman
daun sirih belanda atau Sirbel dan aneka bunga. Sejak berada di taman, tanaman daun sirih belanda
sangat sedih. Wajahnya murung setiap hari.
Tanaman daun Sirbel merasa iri dengan aneka tanaman bunga yang
ada di taman. Karena setiap tamu yang datang selalu memberi pujian kepada aneka
bunga.
![]() |
| Dok. Istimewa |
“Wah, indah sekali bunga anggrek bulannya.
Putih bersih dan cantik,” ujar seorang tamu wanita.
“Lihat mawar ini. Kelopaknya merah
berseri-seri. Senang memandangi bunga-bunga di sini,”sahut tamu wanita yang
lain.
Percakapan dua orang tamu itu membuat
perasaan tanaman daun Sirbel tak enak hati. Dia merasa kehadirannya di taman itu tidak berguna
bagi manusia. Seingatnya, belum pernah ada seorang tamu pun yang mau memuji
dirinya.
Padahal Sirbel selalu berusaha tampil cantik. Daunnya yang
berukuran sedang mirip daun sirih memiliki bercorak putih dan hijau muda.
Tangkainya menjuntai di pot gantung dipenuhi oleh daun-daun yang segar.
“Huh..!! Seandainya aku menjadi bunga
mawar. Aku akan selalu dapat pujian dari tamu yang datang,” keluhnya.
Mendengar keluhan itu bunga mawar tersenyum
dan menenangkan Sirbel.
“Setiap tanaman itu punya kecantikan
sendiri-sendiri. Aku terlihat cantik hanya kalau aku berbunga. Sedangkan kamu,
selalu terlihat cantik meski tidak berbunga,”hibur bunga mawar.
“Tapi tak ada tamu yang mau memujiku. Aku
benar-benar tidak berguna. Hiks..hiks..,”tangis Sirbel.
Sejak saat itu Sirbel malas-malasan
makan. Akar-akarnya tidak mau menyerap air yang disiramkan tukang kebun.Lambat laun, daun-daun Sirbel mulai layu dan
menguning, karena jarang makan.
Seluruh isi taman menjadi prihatin dengan
kondisi daun Sirbel. Bunga mawar yang tumbuhnya berdekatan mencoba menghibur.
“Ayo, makanlah Sirbel. Kasihan daun-daunmu
jadi menguning dan tidak cantik
lagi,”tutur bunga mawar.
Sirbel terdiam dan merenung. Hatinya sedih karena teringat pikiran bahwa
kehadirannya di taman itu tidak berguna.
“Lebih baik aku tidak ada saja. Aku tidak
berguna bagi manusia,” ratapnya.
Penghuni taman hanya bisa menggelengkan
kepala. Mereka prihatin dengan kondisi Sirbel yang patah semangat.
Hingga suatu sore pemilik taman keheranan
melihat kondisi daun-daun Sirbel yang layu dan menguning.
“Waduh.. Kenapa tanaman daun sirih belanda
jadi layu begini?,” kata ibu pemilik taman.
“Apa beberapa hari ini Bapak lupa
menyiramnya?” tanya ibu pemilik taman kepada Pak tukang kebun.
“Tidak. Saya selalu menyiramnya setiap sore
Bu,” sahut Pak tukang kebun.
“Hemm..coba kita pindahkan ke tempat teduh,
Pak,” pinta Ibu pemilik taman.
Dengan cekatan tukang kebun menurunkan pot
gantung yang berisi tanaman Sirbel dan menaruh di pojok taman. Tali pot dilepas, beberapa pupuk kompos
ditambahkan ke dalam pot dan diguyurkan air secukupnya.
“Sayang
sekali kalau Sirbel ini mati. Dia sangat berguna bagi kita, Pak,” ujar ibu pemilik
taman.
“Apa manfaatnya, Bu? Bukankah dia hanya
tanaman berdaun biasa saja?” tanya tukang kebun.
“Dia tanaman penolong manusia lho. Karena
daun sirih belanda ini mampu menghisap racun udara dan membuat udara bersih
kembali,” terang Ibu pemilik taman.
“Woww hebat sekali dia,” puji tukang kebun.
“Benar, Pak. Mudah-mudahan dia segar lagi.
Nanti saya akan menanam Sirbel lebih banyak lagi di taman ini,” kata Ibu pemilik taman sambil
menambahkan kucuran air ke daun Sirbel.
Sirbel kaget dan bercampur senang saat mendengar percakapan Ibu pemilik
taman dan tukang kebun. Dalam hati Sirbel berjanji akan giat makan sehingga daun-daunnya segar kembali
seperti sedia kala.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar